Artikel
Trending

Pemimpin Harus Cerdas

MENINGKATNYA variasi, saling ketergantungan dan konektivitas; kompleksitas, perubahan, ambiguitas, kelancaran dan keberlanjutan adalah wajah dunia saat ini. Tidak ada keraguan bahwa pemimpin yang lebih cerdas dibutuhkan untuk menghadapi tantangan dan tuntutan yang muncul tiap saat ini.

Tak terkecuali di Indonesia, pesta demokrasi yang sebentar lagi digelar, menuntut kita untuk menentukan siapa yang akan memimpin Indonesia lima tahun ke depan.

Tentu, jika menginginkan wajah Indonesia yang lebih baik kita harus memilih calon peminpin yang berwawasan luas. Cerdas secara intelektual, cerdas secara emosional, dan cerdas secara spiritual.

Dalam hal ini, kita bisa mengambil contoh dari Ja’far bin Abu Thalib. Ja’far yang ditunjuk sebagai pemimpin orang berhijrah ke negeri Habasyah itu memiliki kecerdasan yang mampu melindungi umat Islam dari penganiayaan yang bisa saja terjadi.

Kala itu, Rasulullah mengizinkan umat Islam hijrah ke Habasyah. Negeri tersebut merupakan kerajaan yang dipimpin Raja Najasyi, seorang Kristen yang baik.

Namun, ketakutan masih meliputi kaum Muslim. Sebab, para petinggi musyrikin Quraisy justru menyusul mereka ke Habasyah. Kaum Quraisy itu mengutus sejumlah orang yang dipimpin Amr bin Ash untuk menghadap kepada Raja Najasyi.

Tujuannya, agar sang raja bersedia menyerahkan kepada mereka orang-orang Islam yang mencari suaka ke Habasyah. Amr bin Ash begitu optimistis dengan misi ini karena kemampuan diplomasinya termasuk unggul. Apalagi, Amr bersahabat baik dengan para elite Kerajaan Habasyah.

Sesampainya di istana Habasyah, Amr bin Ash menyampaikan maksud kedatangannya langsung kepada Raja Najasyi. Sang Raja tidak langsung menyerahkan orang- orang Islam pencari suaka itu.

Dengan bijaksana, Raja Najasyi memperhadapkan Amr bin Ash dengan Ja’far bin Abu Thalib. Tujuannya, agar Raja Najasyi dapat berlaku adil dalam menilai siapa sesungguhnya yang paling benar dalam urusan ini.

Untuk memenangkan argumennya, Amr bin Ash menyatakan kepada Raja Najasyi bahwa orang-orang Islam itu memiliki pandangan yang berbeda mengenai Maryam, ibunda Nabi Isa AS.

Sebagai seorang penguasa yang beragama Nasrani, Raja Najasyi cukup terkejut. Dengan tenang, Ja’far bin Abu Thalib menjelaskan bagaimana Islam memosisikan Maryam dan putranya sebagai sosok mulia dan agung.

Dulu, kami memang bangsa yang bodoh. Kami menyembah berhala. Lalu, Allah mengutus Rasul-Nya.Kami mengenal betul kepribadian, kejujuran, dan kesucian perilakunya.

Dia mengajak kami supaya memeluk agama Allah, mengesakan Allah, serta meninggalkan kepercayaan nenek moyang kami yang menyembah batu dan berhala, kata Ja’far bin Abu Thalib. Dia menyuruh kami selalu menjaga amanah, merajut silaturahim, bersikap baik terhadap tetangga, menyudahi semua perbuatan buruk dan pertumpahan darah.

Kami menerima segala perintahnya dan menjauhi larangannya, katanya lagi.

Namun, jawaban dari kubu Muslim itu masih belum cukup memuaskan Raja Najasyi.Ia lebih tertarik pada bagaimana ajaran Rasulullah SAW mengenai Nabi Isa dan ibundanya. Dapatkah engkau menerangkan kepada saya apa-apa yang telah diajarkannya (Rasulullah SAW)?

Ja’far kemudian membacakan Alquran Surah Maryam ayat ke-14. Belum selesai ayat tersebut dibacakan, air mata Raja Najasyi sudah berderai haru. Para pendeta kerajaan juga meneteskan air mata karena hati mereka tergugah oleh keindahan ayat tersebut.

Sesungguhnya, agama yang dibawa oleh nabi kalian dan agama kami berasal dari sumber yang satu, kata Raja Najasyi kepada Ja’far bin Abu Thalib.

Di hari berikutnya, Amr bin Ash tidak juga menyerah. Dia lantas menuduh Islam sebagai ajaran yang merendahkan Nabi Isa AS dan Maryam. Karena itu, Raja Najasyi lantas memanggil kembali Ja’far bin Abu Thalib.

Bagaimana pendapat kalian tentang Isa bin Maryam? tanya sang raja.

Kami memercayainya sebagaimana yang telah diajarkan oleh Nabi SAW kepada kami. Beliau bersabda, `Sesungguhnya Isa adalah hamba Allah dan rasul-Nya, ruh- Nya, dan firman-Nya yang ditujukan kepada Maryam yang senantiasa perawan suci,’ jawab Ja’far dengan tenang.

Demi mendengar jawaban itu, Raja Najasyi berkata, Demi Allah, tidak ada perbedaan barang sehelai rambut pun antara ajaran Isa bin Maryam dan Nabi kalian. Kemudian, Sang Raja meminta Amr bin Ash dan kawan-kawan agar berhenti menggangu kaum Muslim.

Utusan kaum musyrik itu pun diperintahkan segera keluar dari negeri Habasyah.

Pergilan kalian semua! Demi Allah, saya tidak akan menyerahkan orang-orang (Muslim) ini kepada kalian!

Sepuluh tahun lamanya kelompok Muslim yang dipimpin Ja’far bin Abu Thalib hidup damai di Habasyah. Sementara itu, di Makkah Rasulullah menghadapi masa- masa penuh kesedihan.

Istrinya, Khadijah, telah wafat. Demikian pula dengan paman Nabi SAW tercinta, Abu Thalib.

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close