Pemimpin dan Hakim Bersinergi Menegakkan Hukum

HUKUM yang adil tidak akan terealisasi dengan baik tanpa hakim jujur, adil dan didukung penuh oleh pemimpin. Dalam sejarah Islam nusantara, sosok Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M) bisa dijadikan teladan. Sultan Aceh yang terkenal dengan keadilannya ini tidak pandang bulu dalam menegakkan keadilan. Baginya, semua sama di hadapan hukum.

Suatu saat, Putera Mahkota yang bernama Meurah Pupok kabur dari rumah karena telah menzinahi istri Perwira. Melihat istrinya berzina, Sang Perwira pun akhirnya membunuh isterinya. Setelah menghabisinya, Sang Perwira menyerahkan diri kepada Sultan Iskandar Muda. Ia mau mempertanggung jawabkan perbuatannya kepada sultan yang terkenal adil ini sembari menceritakan secara mendetail  penyebab ia melakukan tindakan kriminal tersebut.

Tanpa melihat pertalian nasab, sidang Mahkamah Agung –atas restu sultan- memutuskan: Keduanya dihukum mati. Putera Mahkota terbukti bersalah karena telah berzina padahal sudah beristri. Sedangkan kesalahan Perwira adalah membunuh istrinya sendiri tanpa melalui putusan hakim. Keputusan ini tentu saja membuat iba rakyat. Di antara mereka ada yang meminta sultan mengagalkan hukuman tersebut.

            Melihat animo masyarakat, tidak membuat keputusannya lunak. Justru dengan tegas Sang Sultan Iskandar berkata, “Matee Aneuk Meupat Jirat: Gadoh Adat Pat Tamita.” Artinya: hilang anak masih ada kuburan yang bisa kita lihat, tetapi jika hukum dan adat yang hilang hendak kemana kita dicari?” (Abdul Latif, Adat Melayu Serumpun, 374). Akhirnya, keduanya dihukum pancung di hadapan Sultan Iskandar Muda dan masyarakat setempat.

Cerita serupa juga pernah dicatat oleh Buya Hamka dalam bukunya yang berjudul Sejarah Umat Islam (1961: Vol 1-4/661) mengenai keadilan Ratu Sima dari kerajaan Kalingga (674-675 M). Ketika pundi-pundi emas yang sengaja dihamburkan Raja Ta-Cheh –untuk menguji keadilan sang ratu-, tiga tahun kemudian diambil putera Ratu Sima. Ketika tahu, ratu yang dikenal adil ini murka kemudian menyuruh para menteri membunuh anaknya. Para menteri tidak tega sehingga meminta keringanan. Akhirnya sang putera mahkota dipotong kakinya, sebagai hukuman tegas atas perbuatannya.

Kedua cerita tersebut menunjukkan bahwa hukum bisa tegak jika pemimpin dan hakim bersinergi untuk menegakkannya. Bila tidak, maka keadilan hanya menjadi pepesan kosong dan slogan manis, yang menarik diulas tapi tidak realistis.

*Amoe Hirata

Sebarkan Kebaikan!