Pemilihan Pemimpin, Perhatikan 3 Hal Ini.

JAKARTA (AQLNEWS)- Tahun 2018-2019 akan menjadi pesta demokrasi. Melalui pemilihan serentak yang akan segera digelar diharapkan lahir pemimpin amanah, bertanggung jawab, beriman kepada Allah Swt., dan membawa perubahan kehidupan bangsa yang lebih baik.

Kepemimpinan dalam Islam adalah aspek yang sangat penting. Karena saking pentingnya masalah kepemimpinan, sampai Rasulullah SAW memerintahkan kepada kaum Muslimin untuk mengangkat seorang pemimpin meskipun hanya bertiga (HR Abu Dawud).

Agar tidak salah dalam memilih, ada 3 hal yang harus diperhatikan dan ikuti.

Pertama, musyawarah dan ini adalah ibadah. “Yang pertama harus syuro (musyawarah). Semua ormas dikatakan sesuai syariat jika berdasarkan musyawarah, dan jika keputusan didasari musyawarah maka akan mendapatkan bimbingan Allah Swt.” Jelas Pimpinan AQL Islamic Center KH Bachtiar Nasir di Masjid Al-Akhbar, Cipinang Muara, Jatinegara, Jakarta Timur, Sabtu (20/1/18).

Pendapat beliau didasarkan pada firman Allah Swt. dalam Surat Ali Imran ayat 159:

وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran : 159)

Hal-hal yang boleh dimusyawarahkan hanya mubah (boleh), sesuatu yang sudah jelas halal haramnya tidak boleh dimusyawarahkan lagi. Sehingga, menurut UBN, Peserta musyawarah haruslah orang yang mempunyai ilmu agama yang bisa dipercaya, tokoh-tokoh berpengalaman pada bidangnya sesuai keputusan yang akan diambil, dan orang yang berfikir bijaksana dalam mengambil keputusan. Tidak semua orang harus diajak musyawarah, hanya orang tertentu saja” tegasnya.

Kedua, yang harus diperhatikan adalah calonnya. Umat harus melihat peran calon pemimpin itu terhadap Islam, apa yang telah diperbuat bersama Islam dan visinya kepada terhadap Islam atau melihat apakah dia berpihak kepada izzul Islam (kemuliaan Islam). Dari sisi keislaman tentu untuk kepentingan NKRI juga.

“Dalam menentukan pemimpin ke depan, lihat siapa. Jangan terlalu loyal pada lembaga atau partainya. Perhatikan dulu siapa yang akan memimpin Indonesia ke depan, jangan tertipu dengan peci dan sorban”, jelas UBN.

Ketiga, jika poin pertama dan kedua (musyawarah dan melihat calon pemimpin) sudah terpenuhi maka boleh memilih berdasarkan kelompok, ras, atau suku “Lalu setelah itu, baru pilih berdasarkan kelompok itu pun jika untuk hal baik dan kepentingan umat. Dan ingat, jangan nomor tiga ini yang dijadikan nomor satukan. Jika demikian anda akan kehilangan legitimasi secara syar’i di hadapan Allah Swt”, Ucapnya.

Selain itu, Sekejn MIUMI itu juga menjelaskan bahwa tujuan politik Islam adalah menjaga tegaknya agama dan melindungi rakyat. “Melindungi rakyatnya dari kelaparan, ketelanjangan, dan ketiadaan naungan. Tidak hanya melindungi fisik, tapi juga pemikirannya dari pemikiran sesat” ungkapnya.

Musyawarah- lihat calonnya- setelah pertama dan kedua terpenuhi maka  baru boleh berdasarkan kelompok, ras, dan suku. Poin Ketiga tidak boleh dijadikan pertama.

Sebarkan Kebaikan!