Orang-Orang Beriman Pasti Menang

KH BACHTIAR NASIR
(Pimpinan AQL Islamic Center)

Allah SWT berfirman:

‎وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ

“Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (QS al-Maidah:56)

Mantapkan kembali perjuangan al-Maidah yang Allah telah turunkan untuk umat Islam Indonesia. Kita telah melewati satu babak atau fase di mana umat Islam mendapatkan rahmat sekaligus ujian dari Allah SWT dalam Pilkada DKI 19 April 2017. Kemenangan ini semakin memperlihatkan bahwa orang beriman hanya berwala’ pada Islam atau tidak menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai wali, maka Allah memberikan pertolongan kepada umat Islam. Orang yang termasuk dalam golongan Allah SWT pasti menang.

Para peneliti mengatakan bahwa pemilih loyalitas berdasarkan identitas (faktor agama) itu lebih tinggi. Jadi peran umat Islam sangat besar terhadap kemenangan pemimpin muslim di Jakarta. Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS al-Baqarah:220)

Misalnya, QS al-Maidah:51 melarang umat Islam untuk memilih pemimpin kafir, ayat-ayat qauniyah sudah Allah perlihatkan sebagai bukti kebenaran dan masih belum melek. Maka ketahuilah sesungguhnya Allah SWT tidak pernah terkalahkan dan selalu Maha Perkasa sekaligus Maha Bijaksana, yang tidak pernah salah tempat dalam menempatkan hikmah di balik segala peristiwa.Dengan semua ancaman, tekanan, dan semua intervensi pemikiran, kita melihat umat Islam hari ini sudah cerdas menilai itu semua dan mengembalikannya kepada al-Qur’an. ketika umat diseru untuk memisahkan politik dan agama, umat justru lebih mengutamakan nasehat para ulamanya.

Orang yang memisahkan antara agama dan politik telah melakukan dua dosa besar. Pertama; meninggalkan agamanya dalam berpolitik atau meninggalkan sebagian agama dan hanya menjalankan sebagiannya. Kedua; agamanya sedang dipolitisir oleh para politisi dengan meninggalkan agamanya. Orang yang seperti ini bisa digolongkan ke dalam munafikun.

Dan salah satu yang patut disyukuri adalah kesadaran umat Islam khususnya di Jakarta. Meski ada serangan sembako dan serangan fajar, Allah SWT memberikan kemenangan yang tidak bisa diutak-atik. Kemenangan ini adalah pemberian dari Allah Yang Maha Agung kepada umat Islam dan al-Maidah 56 telah diperlihatkan kepada umat Islam Indonesia karena masih terus memperjuangkan al-Maidah 51. Walaupun perjuangan itu belum selesai, karena hukuman yang dijatuhkan kepada penista al-Maidah 51 sangat terkesan main-main. Hukum untuk hukum itu sendiri bukan hukum untuk keadilan dan hal ini tentu mencederai rasa keadilan umat Islam. Tujuan politik umat Islam bukan hanya menang di pilkada yang baru baru ini digelar dan bukan pula politik utama yang menjadi tujuan umat Islam. Tujuan sesungguhnya adalah menegakkan hukum di Indonesia yang berkeadilan dan menegakkan keadilan di Indonesia berdasarkan hukum.

Walaupun perjuangan belum selesai tapi Allah SWT membuktikan janji-Nya dengan memberikan al-Maidah 56 kepada umat Islam Jakarta dan tentu memberikan kebahagiaan ke seluruh umat Islam Indonesia dan umat Islam di seluruh di dunia. Orang yang menolong agama Allah SWT, dia adalah pemenang sejati.

Kemenangan ini juga memperkuat ruhiyah umat Islam bahwa sekali-kali tidak akan berpaling dari Bayyinat (al-Qur’an) karena hanya orang-orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai penolong dan menjadikan umat Islam sebagai teman dekat yang akan mendapatkan pertolongan Allah SWT.

Ketika Allah SWT telah memberikan al-Maidah 56 maka perjuangan melahirkan generasi-generasi al-Maidah 54 harus terus diperjuangkan.

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang Mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (TQS al-Maidah:54)

Ciri-ciri generasi al-Maidah:54 adalah; Pertama, mereka mencintai Allah dan Allah juga mencintai mereka. Kedua, bersikap lemah lembut kepada orang mukmin. Ketiga, bersikap keras dan tegas terhadap orang kafir. Keempat, berjihad di jalan Allah swt. Kelima, tidak takut celaan orang yang suka mencela.

Jika umat Islam terus dipermainkan rasa keadilannya maka Allah akan penuhi janji-Nya, akan menolong hamba-Nya, dan Allah akan melahirkan kekuatan baru dari tentara-tentara-Nya. Dan sesungguhnya Allah bisa memerangi sendiri musuh-musuh-Nya.

Generasi 54 ini tidak pernah takut terhadap celaan orang yang suka mencela. Generasi ini juga akan berjuang menegakkan keadilan dengan segala resikonya. Sesungguhnya Allah SWT telah memperingatkan bahwa Dia akan membalas orang-orang yang menghalangi (Membunuh) untuk menegakkan agama Allah SWT.

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi tanpa alasan yang benar, dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka dengan siksa yang pedih”. (QS. Ali Imran: 21)

Umat Islam yang telah berlelah-lelah menuntut keadilan dan terus berjuang menegakkan al-Maidah 51, tunggu tanggal mainnya. Terserah Allah, Dia mau segerakan di dunia atau nanti di akhirat.

Kasus al-Maidah 51 menampakkan orang-orang yang takut menegakkan agama Allah SWT dan orang-orang yang siap mati demi kebenaran. Kriteria orang seperti itu (munafik) tidak membela agama mereka apalagi memilih pemimpin, bagi mereka sama saja memilih pemimpin muslin atau kafir.

Dari kacamata dakwah ada orang Islam yang takut menegakkan agamanya karena lebih mementingkan harga dirinya. Mereka puas dengan shalatnya tapi rela melihat saudaranya tersesat.

Buat apa sekolah tinggi jika jadi penakut dan menjadi barisan pengecut yang tidak melanjutkan risalah Rasulullah SAW? Sesungguhnya itulah sehina-hinanya hidup. Umar bin Khatthab berkata; “Kami ini adalah kaum yang dimuliakan dengan Islam”. maka orang-orang yang mencari izzah dengan mengambil orang kafir sebagai pemimpin adalah orang yang super bodoh. Meninggalkan orang beriman dan memilih orang kafir sebagai pelindung, penolong, dan teman dekat. Sesungguhnya kemuliaan itu hanya jika bersama Allah dan Rasul-Nya. Karena Izzah itu semuanya milik Allah SWT.

Tapi tetaplah berdamai dan memegang kesatuan dan persatuan Indonesia. Walaupun ada orang munafik dan kafir yang hidup di negeri ini, mereka tetap saudara kita sebangsa. Tetap jaga perdamaian karena ciri-ciri umat Islam itu menjadi Rahmatan lil alamin. Akan tetapi, kita juga tidak akan pernah berhenti memperjuangkan kebenaran yang kita yakini dan memperjuangkannya sampai ajal menjemput. (Disampaikan dalam Khutbah Jumat di Masjid AQL Islamic Center)

Sebarkan Kebaikan!