Nasihat Bijiksana H. Agus Salim Kepada Hamka

HAJI Abdul Malik Karim Amrullah yang biasa dipanggil Hamka, dalam bukunya yang berjudul Pelajaran Agama Islam (1984:427-428) menceritakan pengalaman menarik bersama rekan-rekannya saat berkunjung ke kediaman Haji Agus Salim. Saat itu, salah satu rekannya ada menanyakan kepada beliau mengenai krisis akhlak yang terjadi di Indonesia. Di antara persoalan yang diprihatinkan seperti: kecurangan-kecurangan, perebutan pengaruh antar pemimpin-pemimpin negara, korupsi dan problem-problem runyam lainnya.

Diplomat jenaka ini dengan optimis menjawab, “Jika saudara menampak banyak sekali krisis akhlak, saya pun masih melihat akhlak yang tidak krisis.” Jawaban awal ini cukup menukik kesadaran. Tokoh yang dikenal sederhana itu seolah ingin mengajarkan bahwa manusia harus mengedepankan pandangan positif daripada negatif. Serusak apapun kondisi negeri, masih banyak sisi positif yang masi bisa diharapkan.

Setelah diam sejenak, beliau memberikan contoh. Bukti akhlak masih ada adalah rasa aman yang kita dapatkan. Tidak mungkin bisa leluasa berkata jika tidak ada keamanan. Polisi lalu lintas di jalan raya itu gajinya tidak seberapa, tapi berkat kerja kerasnya mengamankan lalu lintas dalam kondisi apapun membuat para pengendara aman. Sayang, keberadaannya sering dilupakan. Padahal, apa yang dilakukan polisi itu adalah akhlak mulia.

Beliau menekankan sekali lagi, “Akhlak itu masih ada dan utuh!” Adanya korupsi dan kecurangan-kecurangan yang ditanyakan, masih relatif sedikit dibanding orang-orang yang berakhlak baik. Masih banyak pegawai-pegawai setia tidak koropsi. Walaupun dengan gaji tak seberapa, tetapi mereka masih bisa menjaga kejujuran. Karena itulah beliau menandaskan, “Karena kesetiaan dan akhlak mereka yang belum rusaklah, maka administrasi Republik ini masih utuh dan bisa dilanjutkan.”

Menurut Hamka, pesan penting yang disampaikan Agus Salim adalah memperhatikan yang baik di dalam yang buruk. Dalam ungkapan lain, melihat sisi positif dari sesuatu yang dianggap negtif. Kemudian tokoh yang dijuluki The Grand Old Man oleh Bung Karno itu memungkasi, “Kalau sekiranya tidaklah ada orang yang ikhlas dalam perjuangan, niscaya tidak akan tercapai kemerdekaan negara ini.”

Jawaban-jawaban yang keluar dari lisan Salim tadi, merupakan pendidikan kepada kita agar tidak melihat buruk dan baiknya sesuatu dari luar belaka. Beliau menginginkan kita menginstropeksi diri. Dalam kasus krisis akhlak di masyarakat misalnya, perlu digali lebih dalam. Masyarakat terdiri dari individu. Di antara individu itu adalah kita sendiri. Dengan menilai krisis akhlak kepada masyarakat, coba gali diri sendiri, apakah diri ini sudah suci, dan terbebas dari segenap kesalahan? Bercerminlah kepada diri sendiri! Karena pada dasarnya tidak ada manusia suci 100 % kecuali nabi.

Dengan melihat sisi positif dari sesuatu yang kita anggap buruk, maka kita akan menjadi orang yang berendah hati, tak gampang mengklaim buruk orang lain, serta optimis dalam menatap zaman. Bukankah ada atsar yang menyatakan:

طُوبَى لِمَنْ شَغَلَهُ عَيْبُهُ عَنْ عُيُوبِ النَّاسِ

 “Bahagialah orang yang sibuk dengan aib sendiri sehingga tak sempat memperhatikan aib orang lain.” (HR. Al-Qudhâi). Sekacau apapun zaman, tidak ada alasan untuk kita berputus asa dalam menatap masa depan yang lebih baik.

*Amoe Hirata

Sebarkan Kebaikan!