Mutiara Sirah Nabawiah (4) Masa Nabi Muhammad di Mekah

MEKAH. Sebagaimana riwayat Muslim, tak begitu berbeda dengan wilayah di berbagai belahan dunia lainnya di masa itu yang juga mendapat murka Allah subhanahu wata’ala. Saat itu, meminjam istilah Syekh. Muhammad Ghazali dalam Fiqh al-Sîrah (1427H: 17) kondisi mereka bagaikan orang yang sedang mabuk atau tertimpa demam sehingga kehilangan kesadarannya.

Atas takdir Allah subhanahu wata’ala, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam –ketika berusia 40 tahun- dipilih oleh-Nya untuk menjadi nabi akhir zaman. Wahyu pertama yang didapatnya di gua Hira adalah titik tolak perubahan dahsyat dimana cahaya Islam akan menerpa kegelapan jahiliah di seantero alam.

Selama 13 tahun di Mekah, terdapat rangkaian peristiwa yang sarat akan hikmah. Selama tiga tahun lamanya, beliau berdakwah secara tertutup. Dimulai dari diri sendiri, keluarga terdekat dan sahabat. Setelah itu, berdasarkan titah Allah subhanahu wata’ala, pasca turunnya  Surah Al-Hijr, ayat 94, dakwah terang-terangan mulai dilakukan (Syekh Khudari, 1425: 29, 35).

Di sini Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memberi pelajaran berharga mengenai pentingnya berdakwah secara bertahap, pemahaman yang dalam mengenai skala prioritas dakwah, dan tidak tergesah-gesah dalam menuai hasil. Semua itu beliau lakukan mulai dari diri sendiri kemudian kepada yang lain. Ini karena, beliau sadar bahwa dakwah ini tidak akan berjalan tanpa adanya keteladanan.

Ketika mendapat mandat dakwah secara terbuka,  di samping menggencarkan dakwah secara umum, namun secara khusus juga mencari kader dakwah potensial dalam menyebarkan dakwah. Figur seperti Abu Bakar adalah salah satu kader da`i potensial yang –atas izin Allah- mampu menggaet kader-kader lain yang juga potensial dan berkontribusi besar dalam dakwah Islam. Sahabat seperti Utsman, Zubair, dan Sa`ad adalah contoh kecil dari buah ‘tangan dingin’ dakwah Abu Bakar.

Meski usia dakwah Islam masih relatif muda, namun uniknya obyek yang menerima dakwah Islam yang dibawa nabi begitu beragam serta tidak ada pembedaan ras. Dakwahnya meliputi anak kecil hingga dewasa; laki-laki dan perempuan, orang merdeka dan budak; kabilah Qurays dan kabilah lainnya; penduduk Mekah dan luar Mekah, semuanya masuk dalam cakupan dakwahnya.

Figur seperti Khadijah, Abu Bakar, Ali, Bilal, Zaid bin Haritsah, Shuhaib bin Sinan Ar-Rumi adalah contoh riil bahwa obyek dakwah sangat komprehensif dan tidak diskriminatif. Ini tidak mengherankan karena al-Qur`an sendiri menandaskan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diutus sebagai rahmat bagi sekalian alam (QS. Al-Anbiyâ [21]: 107).

Ketika berdakwah di Mekah, fokus dakwah yang dilakukan nabi pada bidang penananaman akidah dan akhlak. Meskipun ada juga yang berkaitan dengan syariat, tapi relatif sedikit. Di antara contoh konten dakwah yang beliau sampaikan ketika di Mekah, “Wahai manusia, katakanlah: lâ ilâha illallâh, maka kalian akan beruntung.” (Ibnu Ishaq, 1398: 231).

Selama berdakwah di Mekah, beliau mengalami ujian  fisik dan non fisik. Di antara ujian fisik yang pernah dialami: dicedarai oleh Abu Jahal di dekat ka`bah, dilempar kotoran unta saat sedang shalat, dipasang duri atau tahi di depan rumahnya oleh tetangga yang tidak suka, diboikot, dilempari batu hingga bercucuran darah ketika dakwah di Thaif dan lain sebagainya.

Sedangkan ujian  non-fisik seperti: dianggap gila, dituduh tukang sihir, dikira penyair, dicitrakan buruk nama baiknya dan lain sebagainya.  Walau begitu, selama di Mekah beliau tidak pernah reaktif memerintahkan perang. Meski mendapat ujian, beliau tetap sabar dan menganjurkan sahabat-sahabatnya untuk mengikuti langkahnya.

Sebagai pemimpin, saat kondisi kian tidak kondusif, beliau tidak tinggal diam. Peristiwa hijrah Habasyah I dan II, mencari wilayah kondusif untuk melebarkan sayap dakwah (sebagaimana di Tha`if ) dan hijrah ke Madinah –sebagaimana perintah Allah subhanahu wata’ala–  adalah sekian solusi yang beliau berikan –atas petunjuk Allah subhanahu wata’ala–  kepada sahabat-sahabatnya.

Saat di Mekah, terlihat keteguhan yang luar biasa baik dari nabi maupun sahabatnya. Di antara rahasianya ialah:  beliau selalu menanamkan keimanan yang kuat, menekankan kesabaran, seperti yang beliau nasihatkan kepada keluarga Yasir (Ibnu Ishaq, 1398: 192), tidak meladeni provokasi orang-orang musyrik dan tetap optimis pada pertolongan Allah subhanahu wata’ala.

Buah dari keteguhan dan kesabaran tersebut, terjawab ketika adanya perintah hijrah ke Madinah di tahun ke 13 masa kenabian. Hijrah ini tentunya akan menjadi babak baru bagi perkembangan dakwah Islam yang semakin kuat dan pesat.

Intinya, aktivitas beliau selama 13 tahun di Mekah tidak lepas dari mendakwahkan Islam, menyiapkan kaderisasi da`i yang bagus, penanaman akidah dan akhlak, menghadapi berbagai rintangan dan cobaan, senantiasa mencari solusi untuk kesuksesan dakwah. Mayoritas waktunya dikontribusikan untuk dakwah. Wallahua’lam.

Sebarkan Kebaikan!