Mutiara Sirah Nabawiah (3) Masa Membangun Mahligai Rumah Tangga

BETAPA indahnya, jika rumah tangga dibina berdasarkan tuntunan ilahi. Bau surgawi akan tercium dari dalam biliknya. Hubungan di dalamnya begitu intim. Individu-individu yang berada di dalamnya bekerjasama menggapai ampunan, dan ridha Allah subhanahu wata’ala. Semuanya berlomba-lomba dalam menuju kebaikan.

Siapa saja yang menghendaki nuansa demikian, maka contoh idealnya adalah rumah tangga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Al-Qur`an menggambarkan bahwa pada diri Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam ada teladan yang baik (QS. Al-Ahzab: 21). Beliau pun sejak awal memberi contoh, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik pada keluarganya. Dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.’ (Hr. Tirmudzi). Sudah selayaknya mahligai rumah tangga beliau diteladani.

Pada rentang usia 25 hingga 40 tahun, tidak banyak riwayat yang secara detail menjelaskan apa kiprah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum menjadi nabi, baik bagi individu, keluarga maupun sosial. Namun, beberapa peristiwa ini setidaknya dapat menjelaskan kiprah beliau ketika sudah berumah tangga.

Pertama, peristiwa peletakan Hajar Aswad (Nûr al-Yaqîn, 17). Saat berusia 35 tahun, beliau mampu mencari solusi bagi problematika umat. Saat renovasi ka`bah –lantaran tertimpa banjir- sudah hampir selesai, para pembesar Mekah hampir saja perang gara-gara memperebutkan siapa yang paling layak meletakkan Hajar Aswad.

Abu Muawiyah bin Mughirah sebagai orang yang senior akhirnya berembuk dengan para pembesar. Sampai kemudian disepakati, bahwa orang yang pertama kali masuk ke ka`bahlah yang akan meletakkan Hajar Aswad.

Sesuai takdir Allah subhanahu wata’ala, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lah yang pertama kali masuk. Mereka ridha dengan beliau yang berjuluk al-amîn. Dengan tenang, nabi mampu memecahkan solusi dengan sangat baik. Beliau menyuruh pembesar Qurays meletakkan Hajar Aswad di atas kain. Setiap pembesar memegang tepian kain dan sama-sama mengangkatnya bersama nabi. Saat sudah dekat dengan tempat Hajar Aswad, akhirnya beliaulah yang meletakkannya.

            Dari peristiwa ini bisa dilihat bahwa nabi berperan aktif dalam sekala publik. Ia menjadi orang yang mampu memberikan solusi, membuat kondisi tetap stabil, memiliki hubungan yang sangat intim dengan masyarakat sekitarnya dan meredam pertumpahan pada skala massif. Pada kasus peletakan Hajar Aswad, prinsip-prinsi sinergi juga terbaca jelas dari solusi yang ditawarkannya.

Pantaslah jika dia berjuluk al-amîn. Alasanya jelas: bisa menjalankan amanah dengan baik, selalu menciptakan rasa aman di sekelilingnya, dan mampu memberikan solusi yang tepat bagi permasalahan umat.

Kedua, ber-khalwat atau ber-tahannuts (menyendiri) di gua Hira. Saat usia beliau sudah menginjak 38 sampai 40 tahun. Ada amalan rutin yang beliau lakukan yaitu mengasingkan diri di gua Hira. Pada waktu itu, dari sisi komunikasi publik, memang beliau nyaris tidak ada problem. Hanya saja, dari sisi spiritual, beliau merasakan ada yang tidak beres dengan apa yang terjadi di Mekah kala itu. Yang beliau lakukan saat mengalami keresahan tersebut ialah dengan melakukan khalwat di Gua Hira.

Dalam gua, beliau merenung, berpikir, mendekatkan diri kepada Zat Yang Maha Kuasa. Langkah-langkah spiritual yang diilhami Allah subhanahu wata’ala inilah yang menggambarkan bahwa beliau juga peka terhadap masalah spiritual. Ketika usia beliau sudah matang, tepatnya 40 tahun, belia diangkat menjadi nabi dan mendapatkan wahyu untuk pertama kalinya.

Ketiga, kesaksian Khadijah mengenai amal-amal sosial Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam Shahih Muslim, Aisyah menceritakan kondisi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sepulang dari gua Hira. Beliau mengadukan keresahannya kepada Khadijah.

Sebagai istri yang shalihah, beliau menenangkannya, “Demi Allah, Allah tak akan menghinakanmu selama-lamanya. Kamu telah menyambung shilaturrahim, berbicara jujur, memikul beban orang lain, suka mengusahakan sesuatu yang tidak ada, menjamu tamu dan serta membela faktor-faktor kebenaran.”

Jawaban Khadijah ini tentunya memberikan gambaran yang sangat jelas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selama berumah tangga dengannya (dari usia 25 hingga 40 tahun), sangat peduli kepada urusan keluarga, sosial, dan kebenaran. Maka sangat logis pernyataan Khadijah, bahwa orang yang memiliki akhlak semulia Muhammad SAW tidak akan mungkin dicampakkan oleh Allah SWT.

Dari pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa saat menjalin rumah tangga bersama Khadijah (dari usia 25 hingga 40 tahun), Rasulullah SAW mampu menjadi kepala keluarga teladan. Beliau mampu menjalin hungungan dengan baik sesama manusia(baik keluarga maupun sosial), dan bisa mempererat hubungan secara vertikal dengan Allah dengan memperdulikan sisi spiritualnya.

Sebagai penutup, pernyataan Johann Wolfgang Gouthe, Sastrawan Kenamaan Jerman (1749-1832M) berikut bisa dicamkan “Aku mencari contoh ideal dalam sejarah bagi manusia, lalu aku temukan pada diri Nabi Muhammad.” (Arrahmah Fî Hayâti al-Rasûl, 421). Apakah kita sebagai muslim sudah meneladani Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam?

Sebarkan Kebaikan!