Mutiara Sirah Nabawiah (2) Masa Remaja Nabi Muhammad

SUPAYA tidak menyesali masa emas di waktu remaja, sebagaimana sepenggal bait syair yang dinukil al-Jâhidh dari Abu `Atâhiyah, “Seandainya masa muda bisa kembali walau hanya sehari.” (al-Tibyân wa al-Tabyîn, 56), maka sudah seharusnya membaca kembali sirah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika remaja, dengan semangat untuk mengambil pelajaran di dalamnya.

Dari usia 11 hingga 25 tahun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengalami beberapa peristiwa sarat makna, bagi setiap remaja yang mau meneladaninya. Pertama, pengalaman berniaga. Kalau pada masa kecil beliau sudah terbiasa mandiri membantu pamannya (Abu Thalib) dengan cara menggembalakan kambing penduduk Mekah, menginjak remaja tepatnya pada usia 12 tahun, beliau memiliki pengalaman berdagang dengan pamannya ke luar negeri.

Setidaknya, dari pengalaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini, bukan saja mengajarkan kemandirian , tapi juga bisnis, dan latihan produktif sejak remaja. Fungsi lain yang tidak kalah penting, beliau belajar menjalin komunikasi dengan baik, membangun jaringan, serta pengalaman geografis yang sangat berharga. Pengalaman ini di kemudian hari, saat diutus menjadi nabi, sangat menguntungkan dalam menjalankan roda dakwah.

Kedua, pengalaman militer. Menginjak umut 20 tahun, di Mekah ada peristiwa perang Fijar antara Bani Kinanah [bersama Qurays] dan Bani Qais (Nûr al-Yaqîn, 12) yang terjadi pada bulan-bulan  yang dimuliakam. Di situ Rasulullah ikut serta berperang dengan paman-pamannya dengan menggunakan senjata panah (`Uyûn al-Atsar, 59). Pengalaman militer ini sangat berharga bagi remaja seusia beliau. Tidak mengherankan jika saat di madinah nanti beliau sangat piawai dalam menangani urusan-urusan kemiliteran.

Ketiga, perngalaman diplomasi. Di tahun yang sama pasca kembali dari peperangan Fijar, dihelat perjanjian yang menambah pengalaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam masalah diplomasi dan negoisasi di kediaman Abdullah bin Jad`ân. Perjanjian itu diabadikan sejarah dengan istilah Hilfu al-Fudhul. Sedemikian terkesannya nabi, sampai-sampai beliau berkomentar, “Perjanjian itu lebih aku sukai daripada unta merah [kendaraan elit waktu itu], dan sekiranya aku diundang pada momen yang sama pada hari ini, tentu aku memenuhinya.” (al-Bidâyah wa al-Nihâyah, 2/293).

Peristiwa tersebut bukan saja membuat beliau berpengalaman dalam urusan diplomasi dan negoisasi, di sisi lain, pernyataan beliau yang demikian respek dengan perjanjian tersebut, menandakan beliau lebih suka cara-cara yang damai dan persuasif dalam memecahkan problem daripada cara-cara kekerasan dan depresif.

Keempat, pengalaman bisnis secara lebih intensif. Saat berusia 25 tahun, beliau diamanahi Khadijah untuk menjajakan dagangannya ke negeri Syam. Khadijah merasa yakin kepada beliau karena, di Mekah ia dikenal sebagai pemuda yang amanah dan jujur dalam berbicara (Nûr al-Yaqîn, 15). Kedua modal itulah yang ternyata membuatnya mendapat keuntungan yang luar biasa melebihi orang-orang biasanya.

            Dari situ kita bisa melihat bahwa sistem perdagangan yang diterapkan nabi, kala itu, adalah sistem perdagangan berbasis akhlak mulia. Di samping itu, al-Hafidh Ibnu Katsir dalam al-Bidâyah (2/294) menjelaskan rahasia kesuksesan nabi dalam berdagang. Keuntungan bisa melimpah ruah karena, di samping dagangan yang dibawa dari Mekah habis, beliau juga membeli barang-barang dari Syam yang kemudian dijual di Mekah, dan itu pun laris.

Kelima, menikahi Khadijah. Di usianya yang keduapuluhlima tahun, beliau nikah dengan Khadijah. Uniknya, pada waktu itu –tidak seperti pada umumnya- beliaulah yang dilamar oleh Khadijah. Kalau kita kontekstualisasikan pada kehidupan sekarang, siapa coba yang tidak tertarik dengan pemuda yang berakhlak mulia, tampan, kuat, mandiri, memiliki pengalaman yang banyak di masa mudanya, dan pedagang sukses? Tentu saja siapa pun mau menerimanya.

Saat itu mahar yang diberikan Rasulullah menurut Ibnu Hisyam, sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Katsir (al-Bidâyah, 2/294) sebanyak 20 unta. Jika harga unta standar ialah 15 juta, maka bila dikonversikan, mahar beliau ketika itu sebanyak 300 juta. Bayangkan! Itu baru maharnya, apalagi biaya lainnya.

Dari masa remaja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam –sebagaimana pemaparan singkat di atas- dapat diambil pelajaran penting bagi para remaja. Pertama, kemandirian. Kedua, keuletan dan ketangkasan. Ketiga, membangun jaringan dan wawasan geografis. Keempat, akhlak mulia. Kelima, jika sudah mampu menikah, maka segera menjalankannya. Intinya ketika, remaja beliau tidak pernah menyia-nyiakan waktu, dan senantiasa bekerja keras tidak berleha-leha.

Pada akhirnya, nabi adalah sebaik-baik contoh bagi remaja yang ingin menggapai kesuksesan di dunia dan akhirat. Rahasianya adalah beliau selalu berada di atas ‘ril’ akhlak yang agung (QS. Al-Qalam [68]: 4), beliau mampu menharmonikan secara baik antara interaksi dengan Allah subhanahu wata’ala dan dengan manusia dalam bingkai akhlak mulia. Wallâhu a`lam. *mbs

Sebarkan Kebaikan!