Mutiara Sirah Nabawiah (1) Masa Kecil Nabi Muhammad

SEBELUM kelahirannya, dunia di ambang kehancuran. Allah subhanahu wata’ala sendiri –sebagaimana hadits riwayat Muslim- memurkai mayoritas penduduk bumi kala itu. Hanya segelintir kecil orang yang membawa cahaya. Namun, laksana kunang-kunang di tengah pekatnya malam. Mereka ada, tapi tidak bisa menjadi lokomotif perubahan.

Saat kegelapan berada pada titik puncaknya, lahirlah sesosok anak yang dipilih Allah subhanahu wata’ala menjadi agen perubahan bagi seantero alam. Kehadirannya menurut pemaparan al-Qur`an, sejak jauh hari sudah diprediksi oleh Injil, dengan nama Ahmad (QS. As-Shaf [61]: 6). Bahkan, uniknya para nabi pun disumpah agar beriman ketika menjumpainya (QS. Ali Imrân [3]: 81).

Kelahirannya diabadikan sejarah dengan momentum kegagalan Abrahah Ashram dalam ekspedisi penghancuran ka`bah. Surah Al-Fil [105], ayat 1-5 menggambarkan secara jelas bagaimana Allah subhanahu wata’ala menunjukkan kesudahan orang yang mau meniadakan cahaya. Betapa pun dahsyatnya kegelapan, pada akhirnya akan lenyap dengan hadirnya cahaya  (QS. Al-Isrâ [17]: 81). Cahaya itu, bernama Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dari jenak-jenak sirahnya di masa kecil (1-10 tahun), ada beberapa mutiara berserakan yang bisa dihimpun sebagai pintu untuk mengetahui sirah beliau dimasa kecil. Pertama,  lahir dari keluarga baik-baik dan dari pernikahan syar`i. Beliau memiliki nasab yang bagus. Merupakan suatu pembelajaran berharga bagi orang tua. Jika ingin mendapat keturunan yang baik, maka harus selektif dalam memilih pasangan.

Kedua, terlahir yatim. Dalam literatur sirah, beliau sudah ditinggal mati ayahnya sejak di dalam kandungan (bahkan nanti disusul ibunya pada saat berusia 6 tahun). Peristiwa ini bertalian erat dengan takdir ilahi yang kemudian hari akan memilihnya menjadi orang pilihan sebagai penutup risalah para nabi.

Keyatiman secara horisontal, membuatnya peka terhadap penderitaan-penderitaan sosial, melembutkan hati, memberikan ketahanan internal yang membuatnya kokoh ketika akan menghadapi rintangan yang akan menimpanya di kemudian hari, bahkan menjadi inspirasi bagi anak semisalnya.

Adapun secara vertikal, ada isyarat menarik yang bisa dibaca dari peristiwa keyatiman beliau: bahwa pendidikan anak ini tidak akan dicampuri dengan tangan manusia. Keyatiman dini, tidak memberinya peluang untuk mendapat doktrin yang kuat dari ayahnya. Sehingga ia manjadi anak yang betul-betul bebas pengaruh dan mendapat penjagaan dan perhatian langsung dari Allah subhanahu wata’ala.

Ketiga, penyusuan ke Halimah Sa`diyah. Ini adalah jenak peristiwa yang juga berkaitan erat dengan ‘skenario’ Allah subhanahu wata’ala dalam mempersiapkannya menjadi manusia pilihan. Dalam tradisi penduduk Arab kala itu, mencarikan ibu asi bagi anak dari penduduk desa merupakan bagian mendasar untuk membuat bayi yang sehat dan kuat. Jadi, sejak kecil (1-4) kebutuhan asi beliau terpenuhi sehingga menjadi anak sehat dan kuat.

Sisi lain yang tidak kalah menariknya, kehidupan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di masa kecil dalam perkampungan Bani Sa`ad, membuatnya akrab dengan alam. Pendidikan alam bisa secara langsung dia terima laiknya anak perdesaan lainnya, beliau akrab berinteraksi dengan alam secara langsung. Beliau biasa berkuda, berenang, bermain dengan teman sebayanya, dan lain sebagainya.

Martin Lings menyebutkan keistimewaan hidup di pedesaan di antaranya: memiliki udara segar untuk pernafasan, bahasa Arab yang fasih untuk lidah, dan kebebasan bagi jiwa (2007: 48). Hidup di lingkungan yang alami seperti ini, membuat masa kecil nabi peka terhadap lingkungan, tidak kehilangan masa kecil, fasih dalam berbicara, bahkan membuat jiwanya lapang.

Keempat, pembelahan dada. Peristiwa pembelahan dada ini, diceritakan langsung oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu sebagaimana riwayat Muslim. Dia pun tahu ada bekas jahitan di dada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam hadits disebutkan bahwa rahasia pembelahan dada ini adalah untuk membersihkan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dari potensi buruk, pengaruh setan. Kejadian ini membuat hatinya bersih dan beraklak mulia.

Kelima, menggembala kambing. Bukhari meriwayatkan bahwa setiap nabi pasti berprofesi sebagai penggembala kambing semasa kecil. Rasul sendiri menggembalakan kambing penduduk Mekah dengan menerima upah. Kebiasaan ini, tentu saja memberikan pengelaman berharga bagi Nabi Muhammad di masa kecil yaitu: kemandirian, kepemimpinan, kepekaan, kesabaran, kelembutan, keuletan, dan ketelatenan yang sangat berguna ketika pada saatnya menjadi nabi.

Masa kecil nabi yang terlahir dari keluarga baik-baik, yatim, tumbuh di perkampungan Bani Sa`ad, pembelahan dada, dan penggembalaan kambing adalah di antara sekian kecil mutiara yang efeknya sangat dahsyat bagi pendidikan anak. Tidak berlebihan jika al-Qur`an (Al-Ahzab [33]: 21) menandaskan bahwa dalam “sirah” beliau benar-benar menyimpan keteladanan yang berhaga. Tentunya bagi orang yang mengharap  (ridha) Allah dan berorientasi akhirat. Bagaimana dengan kita? Wallâhu a `lam bi al-shawâb.

 

Sebarkan Kebaikan!