ArtikelTausiyah
Trending

Muraqabatullah, Merasakan Kehadiran Allah

MURAQABAH adalah merasakan keagungan Allah Swt. di setiap waktu dan keadaan serta merasakan kebesaran-Nya saat ramai dan sepi. Sebuah perasaan yang hadir dan terpatri dalam keyakinan bahwa Allah sedang melihat, memandang, mengawasi, memantau, dan menghisab amal manusia.

Kekuatan muraqabah dalam diri akan menumbuhkan sikap hati-hati dalam perbuatan, ucapan, dan pemikiran, artinya selalu disesuaikan dengan aturan syariata. Jika muraqabah selalu memenuhi perasaan secara konsisten maka dapat dipastikan kelak akan lahir pribadi-pribadi yang mulia.

Firman Allah ” Dan Dialah (Allah) bersama dengan kamu dimana saja kamu berada”. (al-Hadid:4)

Jika menghubungkan dengan i’tikaf, di tempat manakah Allah paling mudah ditemui? Tentu di masjid. Itulah sebabnya i’tikaf tidak dibenarkan di rumah. Sebab esensi dari i’tikaf adalah mendekatkan diri kepada-Nya di masjid melalui amal sholeh; sholat, tilawah, sampai dengan mendalami ilmu-ilmu yang mendekatkan diri kepada-Nya.

Suatu hari Ibnu Mubarak ditanya tentang makna muraqabah, beliau menjawab, selalulah dalam kondisi bahwa kamu dilihat Allah Swt..

Sebagaimana disebutkan di awal, bahwa perasaan itu bukan hanya dilihat oleh Allah tapi juga merasakan bahwa sekecil apapun perbuatan kita akan dihisan di akhirat kelak, (QS. al-Zalazalah: 7-8).

Untuk itu, gunakan momentum 10 terakhir ramadhan ini untuk muraqabatullah. Jangan sampai jasad kita berada di masjid tapi jiwa di luar, yakni tidak merasakan bahwa Allah sedang Melihat dan Mengawasi hamba-Nya. Tentu yang melihat Allah itu bukan dimensi fisik, tapi qalbu kita yang merasakan dekat atau jauh-Nya. Momentum I’tikaf adalah momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah.

 

Agar I’tikaf lebih bermakna, semoga bisa mencapai muraqabatullah, maka perhatikan adab-adab berikut ini;

  1. 1. Ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala.
  2. Ihsan, Berusaha terhubung dengan Allah, seakan-akan melihat-Nya langsung.
  3. Mujahadah, yakni bersungguh-sungguh mewujudkan ketaqwaan diri, yang di antaranya mengetahui hukum-hukum I’tikaf dan dan ibadah yang lainnya.
  4. Muraqabatullah, yakni merasa mendapatkan pengawasan dari Allah.
  5. Setiap saat merasa bahwa dirinya telah melakukan banyak kesalahan dan dosa, lalu memperbanyak istighfar memohon ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
  6. Berbaik sangka kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
  7. Tidak melakukan hal-hal yang membuat terhalangnya pahala, seperti ujub, riya’, dan lain-lain.
  8. Tidak keluar masjid tanpa ada keperluan, Aisyah radhiallahu ‘anha mengatakan, “Beliau tidak akan masuk ke dalam rumah ketika sedang ber-i’tikaf, kecuali ada kebutuhan mendesak.”
  9. Meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Merupakan tanda baiknya keislaman seorang adalah meninggalkan segala yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi) *Ditulis dari tausiyah KH Bachtiar Nasir.

Selengkapnya– https://www.youtube.com/watch?v=dV-7zPuAMcs&t=331s

*Muhajir

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close