Munafik Mana yang Tak Bisa Dishalatkan?

 

POSTER atau foto yang menunjukkan beberapa masjid tidak akan menshalatkan kaum munafik menjadi viral di media sosial (medsos). Berbagai tanggapan dan pro-kontra muncul di sejumlah lini masa (time line) medsos. Benarkah kaum munafik tidak bisa dishalatkan akibat perbuatan mereka yang menyakiti umat Islam dan berkhianat kepada Islam dengan memilih berhadap-hadapan dengan kaum muslimin? Golongan munafik yang mana?

Ada baiknya kita mengenal siapa sebenarnya kaum munafik itu dan bagaimana tipologinya. Siapa pula golongan yang berseberangan dengan kaum munafik itu dalam Al-Qur’an. Berikut ini adalah Tadabbur Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 206 yang disampaikan oleh Pimpinan AQL Islamic Center KH Bachtiar Nasir.

Menghadapi orang-orang munafik harus hati-hati dan selalu waspada. Yang terpenting adalah orang munafik itu berpihak dan berinteraksi dengan orang beriman selama keinginannya terpenuhi. Jika nafsu dan syahwatnya tidak terakomodir, mereka lebih memilih berpaling dan berseberangan dengan kaum muslimin.

Munafik ada dua; pertama, munafik diyni. Munafik jenis ini masuk kategori nifak i’tiqaadi yaitu nifak besar, dimana pelakunya menampakkan kesilaman tetapi menyembunyikan kekufuran. Allah SWT menyifati para pelaku nifak ini dengan berbagai kejahatan, seperti kekufuran, mengolok-olok agama dan mencaci pemeluknya, serta cenderung bergabung dengan musuh-musuh agama. Orang munafik jenis inilah yang membawa malapetaka dan membawa kemurtadan. Nah, jenis munafik yang tidak boleh dishalatkan itu adalah orang yang munafik diyni.

Kedua, munafik amaliy atau nifak amaliy. Yaitu melakukan sesuatu yang merupakan perbuatan munafik tetapi masih ada iman di hatinya. Nifak jenis ini tidak mengeluarkannya dari Islam. Orang munafik jenis ini hanya dibenci karena perbuatannya, seperti jika berbicara ia dusta, jika berjanji ia ingkar, dan jika diberi amanah ia khianat.

Prinsip pertama jika takut terjerumus ke dalam kumunafikan, menghindarlah dari yang meragukan menuju kepada yang tidak meragukan. Dan berjuanglah menjadi orang yang shiddik (orang yang senantiasa membenarkan). Pada dasarnya, orang munafik itu semakin jauh menyimpang dalam cara berpikir sehingga menganggap kejahatan sebagai kebanggaan. Kalau sudah bangga dengan dosa, maka daya nasehat untuk bertakwa sulit diselamatkan dan tidak bisa diambil kebaikannya. Ibarat sampah yang hanya bisa dimusnakan dengan cara dibakar. Di akhirat, tempat yang pantas bagi mereka hanyalah fid-darkil asfali minannaar, yaitu tempat terendah di neraka, lebih rendah dari neraka orang-orang kafir. Maka, menghadapi orang munafik adalah waspadalah!

Mari Tadabburi Surat Al-Baqarah ayat 206: “Dan apabila dikatakan kepadanya: ‘Bertakwalah kepada Allah’, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka pantaslah baginya neraka Jahannam, dan sungguh (Jahannam) itu tempat tinggal yang terburuk.” (QS al-Baqarah: 206)

Dari ayat ini Allah SWT menjelaskan sifat orang munafik, yaitu; apabila mereka dinasehati maka mereka berpaling. Ketika diajari tentang iman, mereka merasa lebih beriman dari orang yang mengajarinya. Kesombongan mendorongnya untuk terus berbuat dosa. Pada setiap orang ada sifat kemunafikan, akan tetapi tipe yang disebutkan dalam ayat di atas nifaq ad-diyni.

Banyak orang jika harga dirinya diganggu dia akan marah, tetapi ketika agamanya diinjak-injak maka dia biasa-biasa saja. Jika organisasinya yang diserang dia siapkan semua pasukannya tapi jika al-Qur’an yang dinistakan justru ia pluralis. Seperti itulah orang yang tidak punya izzah sedangkan orang yang berjalan di jalan Allah, merekalah yang punya izzah. Dalam segala hal, orang beriman lebih memilih meletakkan kehormatannya untuk Allah.

Jika dalam sebuah perusahaan hanya mengurusi dunia terus dan tidak bergabung atau tidak melekatkan diri kepada Allah SWT, setinggi apapun jabatanmu, tidak ada apa-apanya. Kecuali jika Anda melekatkan diri kepada Allah SWT, Rasulullah SAW, dan bergabung dalam komunitas orang beriman. Dimana pun Anda berada, Anda akan mendapatkan kemuliaan dari Allah SWT. Jangankan malaikat, selama bersama Allah, Rasul-Nya, dan orang beriman, maka Anda akan mulia. Inilah ukuran harga diri. Merasa hina kalau tidak bersama Allah, Rasul-Nya dan orang beriman.

Kata Abu Bakar ash-Shiddiq, “Demi Allah, saya tidak rela Islam mundur sementara saya masih hidup”. Itulah prinsip orang yang dimuliakan Allah SWT.

Rasulullah SAW, jika yang dihina adalah dirinya, Beliau tidak peduli. Setiap kali Rasulullah berjalan ke masjid, Beliau dilempari kotoran oleh orang Yahudi yang juga sebagai tetangganya. Suatu waktu, tidak ada lagi yang melempar Rasulullah. Beliau malah kaget. Karena penasaran, Beliau mendatangi rumah orang Yahudi itu yang ternyata sedang sakit. Perhatikanlah mulianya akhlak beliau. Sesampai di rumah Yahudi itu beliau tidak membalas, akan tetapi beliau mendoakan kesembuhan dan berkata dengan kata-kata yang baik.

Lain lagi dengan orang buta yang suka menghina beliau, tapi beliau malah menyuapinya. Hingga pada kekhalifaan Abu Bakar, orang buta ini masuk Islam. Idfa’ billaziy hiya ahsan, balaslah perbuatan jahat itu dengan kebaikan. Justru yang terbalik adalah orang liberal, kalau harga dirinya yang dihina dia akan marah besar. Tapi kalau agamanya dihina, dia hanya diam.

Disinilah bedanya antara mukhlis dan munafik. Ini adalah prinsip harga diri. Kalau kita menempatkan harga diri untuk agama dan al-Qur’an, maka akan melahirkan akhlak karimahdan kemulian dari Allah SWT. Surat Al-Baqarah selanjutnya, ayat 207 berbunyi: “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk keridhaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” 

Salah satu maqam tertinggi penghambaan (ubudiyyah) adalah keberanian menukar nyawanya untuk memperoleh ridha Allah. Menjual diri untuk agama yaitu mengorbankan diri untuk mencari dan menuntut ridha Allah SWT. Inilah bisnis yang paling mulia bagi kaum muslimin, adalah berniaga dengan Allah SWT. *muhajir

 

Sebarkan Kebaikan!