Mulai dari Rumah Kita Bangun Peradaban Islam

DALAM rumah tangga, suami adalah pemimpin. Laksana sebuah sebuah Negara, rumah tangga juga harus dibangun di atas sistem yang baik (yan sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah). Karena dari rumah peradaban mulai di bangun. Rumah adalah pondasi dari proses pembangunan peradaban. Jika di dalam rumah tidak ada sistem nilai yang ditanamkan maka cita-cita membangun peradaban hanya hipokrit.

Suami yang lemah adalah suami yang gampang mengatakan cerai kepada istrinya. Ketika iblis menerima laporan dari anggotanya, setan yang melaporkan perceraian di dalam rumah tangga, ia diberi tempat istimewa oleh iblis. Untuk itu, suami harus mengontrol diri dan mempunyai visi yang kuat, yaitu membawa orang tercintanya masuk surga sekeluarga. Sebab jika di rumah tangga saja sudah putus asa untuk bersatu, maka bagaimana bisa mempersatukan umat dalam skala nasional?

Mulai dari keluarga, kita bangun peradaban Islam. Salah satu pesan penting Rasulullah adalah memperlakukan istri dengan baik. Istri adalah simbol, jika istri sudah baik maka otomatis anak-anaknya akan baik, karena dia adalah madrasah pertama bagi anaknya. Maka bagi ayah, jangan putus asa untuk mendidik istri. Seperti Rasulullah menumbuhkan Aisyah menjadi bintang di langit sejarah.

Tak kalah anaknya menolak untuk ikut, Nuh alaihis salam tidak putus asa untuk mengajak anaknya kepada keselamatan (naik ke atas perahu).

Dekadensi moral yang terjadi saat ini semua berasal dari rumah. Jika pendidikan di rumah gagal, maka sang anak akan gagal melewati tantangan ideologi sesat, pergaulan bebas, sekularisasi dan liberalisasi pendidikan. Jangan sampai kita menyekolahkan anak kita, tapi jiwanya dirampas oleh ideologi sesat itu. Tentu hal ini sangat berbahaya, karena untuk menciptakan peradaban Islam tidak bisa dari generasi muda yang tidak berkarakter muslim sejati. Untuk itu, para orang tua harus memiliki jiwa dan raga anaknya lalu menanamkan kepadanya nilai-nilai tauhid.

Ketika anaknya menolak, Nuh tetap mendoakan kebaikan untuknya.  “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir”. Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (QS. Hud : 42-43)

Nuh tidak putus asa. Anak terbawa arus dekadensi moral itu membutuhkan kasih sayang dua kali lipat dari orang tuanya, jangan ditinggalkan. Sebab, ayah yang baik adalah ayah yang tidak pernah putus asa mendoakan yang terbaik untuk anaknya.

Jika persatuan di rumah sudah kuat, persatuan yang dibangun di atas pendidikan yang baik. Maka kita sudah mempunyai modal yang sangat besar untuk membangun peradaban Islam. Ayah telah berhasil melahirkan pahlawan dari rumahnya.

Pahlawan adalah sesorang yang didalam jiwanya berniat karena Allah dengan membekali dirinya dengan keimanan, ketaqawaan, keiklasan, kesungguhan, keistiqomahan di jalan kebenaran. Pahlawan akan terus bertahan di atas keimanan meskipun ia berada di jalan yang perih dan penuh penindasan selama menjalani hidupnya.

Pahlawan akan bisa menditeksi berbagai penjajahan yang terjadi di sekelilingnya. Pahlawan adalah orang yang istimewa. Pada periode sekarang ini semua orang berpeluang sebagai pahlawan yakni menghindarkan diri dari jalan yang tidak Allah ridai, mendoakan kebaikan sahabat sahabatnya, memaafkan kesalahan para saudaranya.

Setiap orang berpeluang untuk menjadikan dirinya pahlawan. Pahlawan yang membawa perubahan besar dalam kehidupannya, tidak mengharap disebut namanya sebagai pahlawan dalam sejarah tapi akan disebut namanya oleh Allah di hadapan para malaikat. Pahlawan sejati itu, mereka yang tidak terkenal di bumi tapi terkenal di langit.

Permasalahan terbesar umat Islam sekarang adalah perpecahan. Penyebab perpecahan itu adalah, ssaling mengucapkan kalimat tauhid yang sama tapi tidak berpegang sama-sama. Banyak orang yang mementingkan ego pribadi dan kelompoknya. Hal ini menjadi penyebab utama perpecahan itu, maka ayah harus menanamkan kepada anaknya sifat pahlawan sejati, tidak melihat kelompok, tapi saling berpegang pada tali yang sama untuk menciptakan peradaban Islam.

Jika ingin tercipta persatuan, jika ada perbedaan antar sesame muslim maka lebih baik no-coment. Jika cara pandang umat Islam sudah satu arah, yaitu berpegang pada tali Allah maka dengan mudah persatuan itu tercipta. Allah Ta’aala berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 10:

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (QS. Al-Hujurat: 10)

Berbeda itu wajar, karena memang sudah menjadi fitrah kehidupan. Jangan putus asa untuk bersatu. Allah subhanahu wa ta’aala sudah memerintahkan kepada kita untuk bersatu dan tidak berpecah belah. Allah berfirman:

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, (QS. Ali-Imran: 103)

Berpeganglah pada tali Allah (agama), lepaskan kepentingan pribadi dan kelompok demi terciptanya persatuan. Pertolongan Allah hanya akan datang kepada orang yang berjamaah. Perbedaan di antara umat Islam itu pasti ada, karena hal itu sudah menjadi sunnatullah, maka diperintahkan jangan terpecah-belah. Berbeda itu pasti tapi persatuan itu wajib.

Persepsi seseorang dalam menilai objek itu berbeda pola, ada orang eksak dan ada orang sosial. Ada orang yang cenderung melihat sesuatu itu hitam putih. Cara pandang tentara itu hanya dua, perang atau damai, tapi bagi politisi masih ada kompromistik dalam meja perundingan.

Kita bangun Indonesia dengan Al-Qur’an. kita semua berpegang dengan tali yang sama, yaitu laa ilaha illallah.

Runtuhkan berhala politik yang banyak dianut politisi saat ini, agar kita bisa menciptakan peradaban yang bertauhid. Berhala-berhala politik itu adalah;  Pertama, elektabilitas tinggi atau popularitas tinggi sehingga benar dan salah tidak menjadi pertimbangan. Kedua, ada partai yang mendukungnya. Ketiga, punya cukup uang untuk membiayai”

Untuk itu, mulai dari rumah kita bangun peradaban Islam. Jangan putus asa untuk bersatu dan mempersatukan.*ditulis dari tausiyah UBN di Karanganyar, Solo, Jawa Tengah, Ahad 19 November 2017.

Sebarkan Kebaikan!