Metode Usang Media Asing

IMAM SHAMSI ALI

(Presiden Nusantara Foundation)

TULISAN ini adalah bagian kedua dari tiga tulisan tentang Pilkada DKI Jakarta yang membanggakan. Tidak disangkal bahwa proses panjang yang dilalui dalam Pilkada Jakarta cukup seru, bahkan sekali lagi dalam ekspresi sebagian orang “sangat brutal”. Sejatinya itu bukan masalah. Di mana saja di dunia ini, pertarungan politik seringkali menghadapi realita yang demikian. Bahkan di negara-negara maju seperti Amerika sekalipun. Kampanye pemilihan Hillary melawan Donald Trump bahkan lebih seru dan brutal.

Sesungguhnya yang menjadi masalah adalah ketika penghakiman itu dilakukan secara tidak jujur. Setelah kemenangan pasangan Anies-Sandi, media barat (asing) mulai melakukan “analisa” dengan metode usang; connecting factors. Seolah dengan adanya orang-orang atau kelompok tertentu yang selama ini ditenggarai sebagai “radikal” lalu kemenangan Anies-Sandi juga dimaknai sebagai kemenangan radikalisme di Indonesia.

Sekarang terjadi kampanye terstruktur (sistematik) untuk membangum persepsi bahwa kemenangan Anies-Sandi menjadi ancaman bagi minoritas, baik secara agama (nonmuslim) maupun ras (khususnya mereka yang berketurunan China). Allan Nairn, misalnya. Allan adalah seorang penulis yang sejarahnya memang anti Indonesia, sejak kasus Timor Timur dan Orde Baru. Setelah kemenangan Anies Sandi, Allan menuduh kemenangan ini didukung oleh FPI, dan jahatnya pula FPI dikaitkan dengan ISIS.

Ketika kata itu tampil di permukaan kira-kira persepsi apa yang kemudian terbangun di dunia internasional? Sungguh jahat i’tikad mereka yang sering berkoar pentingnya berdemokrasi. Tapi di saat apa yang dianggap kepentingannya tidak berhasil, dilakukanlah fitnah keji seperti itu.

Saya memang sadar bahwa tuduhan-tuduhan seperti ini “highly expected” (sangat memungkinkan). Ketika calon mereka masih di atas angin, menempati posisi teratas pada putaran pertama, rasanya biasa saja. Bahkan beberapa pihak tidak terlalu peduli. Boleh jadi karena sanga percaya diri bahwa calon unggulan mereka yang akan memenangkan pilkada DKI. Maka ketika calon mereka gagal memenangkan pertarungan itu, cara yang paling efektif untuk menghalangi paslon terpilih, atau minimal melakukan “distraksi” (gangguan) sehingga paslon pemenang kehilangan konsentrasi dan tidak mendapat dukungan dalam menjalankan amanahnya.

Terus terang saya agak curiga jika propaganda calon Muslim itu selalu dianggap tidak mampu, korup, dan seterusnya sudah menjadi agenda yang sistematis. Serangan ke Anies-Sandi saya curigai serangan kepada umat Islam itu sendiri. Mengobok-obok kemenangan Anies-Sandi sesungguhnya adalah menarget umat. Bahwa umat Islam itu jika menang maka kemenangannya bukan karena proses demokrasi. Tapi kemenangan yang dibangun di atas kebencian dan intoleransi. Pada akhirnya persepsi yang terbangun adalah bahwa calon Muslim itu pasti tidak mampu dan selalu cenderung korup.

Maka tantangan gubernur Anies dan wakilnya ke depan adalah menjaga diri dari kemungkinan dua lobang. Lobang pertama adalah tuduhan “intoleransi”. Karenanya akan ada tekanan yang luar biasa dari pihak luar yang digandeng oleh kelompok dalam negeri yang punya kepentingan.

Kedua adalah permainan halus yang akan dilancarkan oleh sebagian yang punya kepentingan dalam negeri. Ingat, pak Harto pernah terjatuh dalam perangkap mereka ini. Khawatirnya Anies-Sandi akan tergelincir ke dalam lobang yang sama.

Dukungan banyak ulama akan dijadikan amunisi palsu jika Anies memang menggandeng kelompok radikal. Kelompok yang anti agama lain, anti ras dan etnik lain, dan seterusnya. Dan karenanya apapun nantinya yang akan dilakukan oleh Anies Sandi akan dilabeli sebagai bentuk intoleransi. Kemungkinan usaha-usaha Anies Sandi nanti mengangkat derajat kaum mustadh’afin akan dianggap keberpihakan ke kelompok radikal.

Dalam dunia kita yang semakin membingungkan hal ini bukan baru dan mengejutkan. Kemenangan Presiden Morsi di Mesir, walaupun melalui jalur demokrasi pasca pemerintahan diktator Husni Mubarak mengalami hal yang sama. Mungkin Anies Sandi tidak sampai separah itu. Tapi targetnya adalah membangun persepsi jika kemenangan seorang Muslim dalam sebuah proses demokrasi itu adalah ancaman kepada demokrasi.

Akhirnya saya memang selalu heran, bahkan terusik dengan sikap sebagian dalam menyikapi proses-proses kehidupan komunal, termasuk proses demokrasi di Indonesia. Padahal saya selalu bangga dan menyampaikan kebanggan ini kepada banyak orang di Amerika.

Baru-baru ini saya mendapat kesempatan khutbah Jumat di gedung Capitol Hill (gedung Kongress AS). Sebelum khutbah itu saya bertemu dengan seorang tokoh Muslim Amerika yang telah lama saya kenal. Beliau adalah Dr. Saeed Seyyed, direktur nasional Interfaith untuk ISNA. Beliau juga adalah mantan Sekjen dan salah seorang pendiri organisasi terbesar di Amerika itu.

Dalam pertemuan itu saya dikejutkan oleh pertanyaan beliau yang kira-kira bunyinya: “what was the main cause of recent riots in Jakarta? Why Indonesians if they don’t like a non Muslim to be their governor, to go through a democratic process or election?”

Artinya persepsi yang sampai ke beliau, dan ingat dia seorang pemimpin Muslim AS, adalah bahwa kemarahan umat di Jakarta (dan Indonesia) karena didasari oleh kebencian kepada non Muslim dan etniknya. Sehingga dalam pandangan Amerika hal ini jelas tidak bisa diterima karena memang itulah tafsiran demokrasi universal.

Tapi yang paling mengejutkan saya adalah kata “riots” (kekacauan atau anarkis). Saya bertanya anarkis yang mana? Beliau mengatakan yang bulan Desember lalu.

Saya kemudian menjelaskan bahwa yang terjadi bukan anarkis. Tidak sama sekali. Justeru yang terjadi adalah sebuah kebebasan ekspresi sebagai simbolisasi soliditas kehidupan berdemokrasi. Bukankah kita mengakui bahwa dalam dunia demokrasi anda bebas setuju dan tidak setuju? Dan anda bebas mengekspresikan itu selama tidak melanggar aturan dan ketertiban umum.

Yang terjadi di Jakarta adalah ekspresi kebebasan berdemokrasi. Dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan menakjubkan. Bayangkan jika anda dipersepsikan marah, atau minimal protes kepada suatu hal. Dan anda berada pada posisi mayoritas, berjuta-juta manusia. Tapi anda lakukan itu dengan penuh damai, tertib, dan tidak satupun pohon yang dirusak. Apalagi properti atau orang non Muslim yang disentuh. Bukankah itu sebuah kebanggan? Bayangkan kalau kasus Ahok itu, terlepas dari salah atau tidak dalam pendangan hukum, tapi sudah menjadi persepsi umum kalau dia menghina agama orang lain. Dan itu terjadi di Pakistan, atau di salah satu negara di Timur Tengah. Kira-kira apa yang akan terjadi?

Maka aksi 212 itu bukankah suatu hal yang perlu dicatat sebagai sejarah yang membanggakan dalam perjalanan sejarah bangsa dan umat Indonesia?

Mendengar itu beliau baru sadar dan paham tentang hal yang sesungguhnya terjadi.

Yang ingin saya sampaikan adalah betapa persepsi bisa dibolak balik oleh media yang begitu kuat dalam dunia global saat ini. Dan semua juga tahu jika media itu berada dalam genggaman para pemodal. Dalam bahasa sehari-hari di Jakarta, media itu dikontrol oleh para bandar. Dan lebih specifik lagi media itu digenggam oleh para taipan. (Bagian 2)

 

Sebarkan Kebaikan!