Merubah Ekonomi Lewat Sedekah

Logika manusia sangat terbatas. Banyak hal di alam semesta ini yang tak bisa dijangkau oleh nalar. Ketika Allah memerintahkan bersedekah di jalan-Nya dengan janji akan dilipat gandakan 700 kali lipat, rasanya logika itu berbenturan, bagaimana mungkin sesuatu yang dikeluarkan dapat bertambah?

Konsep mengerjakan perintah dan menjauhi larangan dalam Islam adalah sami’na wa atha’na. Akan tetapi, umat Islam juga tidak dilarang untuk menyingkap rahasia-rahasia yang terkandung dibalik perintah dan larangan Allah. Sebab, perkembangan sains di zaman modern ini semakin membuktikan bahwa Allah itu Maha Baik, memerintah dan melarang bukan untuk menyiksa tapi untuk kebaikan bagi hamba itu sendiri.

Merubah ekonomi lewat sedekah, apakah bisa? Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan. Bagaimana bisa sedekah merubah perekonomian seseorang. Namun, sebagaimana yang disebutkan tadi, bahwa selalu ada hikmah dibalik perintah dan larangan.

Jika ekonomi rendah maka jangan takut untuk bersedekah, karena janji Allah sudah jelas dan Dia tidak pernah pasti menepati janji-Nya. Dalam al-Qur’an telah disebutkan bahwa semakin banyak berinfak maka semakin banyak juga yang datang, bisa jadi tidak dalam bentuk harta tapi dalam bentuk yang lain dan justru hal itu lebih berharga dari rupiah. Allah Subhanahu wa Ta’aala berfirman:

وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ

 “Dan Jangan kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak”. (QS.al-Mudatstsir: 6)

Bahasa yang dipakai oleh Allah dalam ayat ini adalah bahasa kelas tinggi, maka orang yang masih berada di kelas basic akan salah faham. Orang seringkali salah niat dalam kasus ini, terutama ketika membayangkan flashback dari sedekah itu. Orang yang demikian itu yang ditegur oleh Allah dalam surat Al-Mudatstsir ayat 6 ini.

Orang yang sudah berada di kelas tinggi maka akan memakai kaidah More you gift, more you get (mendapat banyak maka mengeluarkan lebih banyak lagi). Orang dengan tipe seperti ini tidak akan merugi, namun ia akan diberi ganjaran yang tak pernah ia duga. Disinilah titik tolak dengan teori riba. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

 “Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).” (QS. Ar-Rum: 39)

Apa yang dianggap tumbuh secara ekonomi sebenarnya tidak tumbuh dan inilah kesalah fahaman orang yang mengandalkan ekonomi riba. Tidak tumbuh menurut Allah tapi tumbuh menurut dia walapun hanya secara angka.

Oleh sebab itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menganjurkan umatnya untuk iri kepada orang yang telah membinasakan hartanya di jalan kebenaran. Orang kelas basic yang melihatnya akan mengira bahwa dia sedang bunuh diri karena tidak meninggalkan aset apapun. Orang yang hatinya sudah merindukan Allah tidak pernah berharap mati dengan meninggalkan warisan yang bernilai miliaran rupiah. Sebab, dia tahu setiap rupiah akan ditanya oleh Allah di akhirat kelak. Sama halnya baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak mewariskan dinar dan dirham, namun beliau mewariskan sesuatu yang bisa membuat manusia mendapatkan kebahagiaan yang hakiki.

Orang yang suka memberi adalah orang yang beruntung, sebagaimana Usman bin ‘Affan. Usman ketika berinfak memang hanya sepertiga aset, tapi ketika dia wafat total asetnya setelah dikurskan dalam rupiah mencapai tujuh setengah triliun dan itu terus berkembang. Usman bin ‘Affan bisa menghasilkan itu dari hasil dari kaidah more you gift, more you get.

Untuk melahirkan generasi Usman maka para orang tua sepatutnya mengajari anak-anak mereka untuk bersedekah dan libatkan mereka tiap kali kita ingin bersedekah. Misalnya, menyuruh anak untuk memberikan sesuatu kepada tetangga agar ia terbiasa memberi. Jangan bermental miskin jika harta banyak, karena orang yang demikian akan dimiskinkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’aala.

Sebarkan Kebaikan!