Meraih Kemerdekaan Hakiki [Bagian: I]

PADA momen Agustus, tema kemerdekaan selalu menjadi buah bibir. Namun, apa sejatinya kemerdekaan? Kemerdekaan hakiki adalah bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan menjadi bangsa yang merdeka secara lahir dan batin. Sebagai warga Negara yang baik pasti akan memupuk kembali semangat merdeka dalam jiwanya agar menjadikan bangsa Indonesia bangsa yang berdiri tegak peradabannya di hadapan bangsa-bangsa di dunia. Untuk menggapai hal itu, maka rakyat Indonesia harus membangun sikap optimis dan mental positif karena Allah SWT tergantung pada persepsi hamba-Nya.

Membangun jiwa bangsa Indonesia yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar ideologi bangsa ini. Pondasi Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Islam terdapat dalam surat al-Ikhlas,

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ. اللَّهُ الصَّمَدُ

Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (QS. Al-Ikhlas [112]: 1-2)

Deklarasi Ketuhanan Yang Maha Esa dan sifat “ash-Shamadiyah” menjadi permulaan sebuah kemerdekaan dan ketika telah dideklarasikan maka pada saat itu kita menjadi pribadi merdeka yang sesungguhnya. Karena pribadi yang menempel pada penguasa yang curang dan berlindung di balik raja yang culas, maka orang demikian akan menjadi lemah dan tidak mempunyai gantungan, ibarat pribadi yang hanyut di atas sungai sehingga ranting lemah dan patah akan diambil sebagai gantungan.

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْوَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,  dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas [112]: 3-4)

Jika ingin menjadi pribadi yang merdeka secara hakiki maka pernyataan ini harus terus digaungkan dalam jiwa. Karena tidak ada sesembahan, tidak ada yang pantas dicintai melebihi Allah SWT, tidak ada yang pantas ditakuti selain Allah, tidak ada yang pantas disandarkan kecuali kepada Allah, dan tidak ada yang pantas untuk diharapkan selain Allah SWT.  Karena tidak ada satu zat pun yang setara dengan Dia.

Indonesia merdeka atas dan berkat rahmat Allah SWT, karena pada saat itu tidak banyak jendral berbintang dan berpangkat. Yang berjuang hanya jiwa-jiwa yang bermental jendral. Rakyat jelata hanya berpakaian sipil tapi jiwa mereka melebih para jendral. Bahkan jedral Sudirman ketika ditanya oleh pengawalnya tentang jimatnya. Jedral Sudirmna hanya menjawab, selalu menjaga wudu agar bisa shalat lima waktu. Di samping itu, yang selalu dalam pikirannya adalah rakyat dan bangsanya. Demikianlah mental merdeka yang sesungguhnya mampu mengalahkan budak harta, jabatan, dan budak kekuasaan hanya dengan bambu runcing.

Tidak ada yang bisa menjamin, semua orang Indonesia akan beriman jika hidup bersama Rasulullah SAW sebagaimana kaum Quraisy kala itu. Pada zaman perjuangan kemerdekaan, pengikut pangeran Diponegoro tidak ada yang bisa menghitung, tapi hanya sedikir yang ikut dalam perjuangan sang pangeran. Hanya sedikit dari mereka yang rela dan ikhlas mengorbankan harta dan nyawanya untuk sejengkal kemerdekaan bangsa Indonesia. Apalagi saat ini, sekitar 70% tanah Indonesia dikuasai oleh asing dan aseng tetapi hanya segelintir orang yang resah dan gelisah akan hal itu. Padahal mempertahankan tanah yang ingin dirampas adalah perjuangan yang dianjurklan dalam Islam.

Para pejuang kemerdakaan hanya bermodalkan bambu runcing dan teriakan takbir, tetapi mampu membuat para pecundang  terbelalak dan heran akan kejaiaban di balik perjuangan orang-orang yang berdiri di atas jalan Allah SWT. Para pejuang itu berpikir lepas merekayasa kemustahilan menjadi kemungkinan dan merealisasikan kemungkinan menjadi sebuah kenyataan. Maka pada saat itulah kemerdekaan diraih atas berkat rahmat  Allah SWT.

Lebih ironi lagi, kini hampir tidak ada lagi prinsip: “Tanah kami bagian dari akidah kami”, sebagaimana prinsip para pejuang. Dari Banten, Jakarta, Jawa tengah, sampai Gresik adalah basis Islam, tapi sekarang apakah orang Jakarta bisa menikmati pantai Jakarta utara dengan gratis? Hal itu terjadi karena “rampok-rampok berdasi” yang beraksi atas nama aturan, mereka membuat undang-undang sesuai syahwat mereka demi mendapatkan sedikit dari dunia melalu kekuasaannya.

*Abu Kafillah

Sebarkan Kebaikan!