Meraih Kemerdekaan Hakiki [Bagian II]

HARI ini adalah hari yang berbahagia karena beberapa hari lagi semua rakyat Indonesia akan merayakan hari kemedekaan Indonesia yang ke-72. Tetapi, apakah umur kemerdekaan bangsa ini telah menjadikan rakyat Indonesia merdeka secara total, besas dari penjajahan dari bentuk, aspek, ideologi, politik, dan system. Untuk itu, sebagai muslim sebagai penduduk mayoritas yang paling bertanggung jawab memenuhi amanat para pendiri bangsa. Untuk menambah kekuatan dalam menghentikan para “pelacur politik” maka alunkan dalam jiwa dan teriakan sebagaimana yang telah diajarkan kepada Nabi Muhammad SAW.

قُل يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ ﴿١﴾ لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ ﴿٢﴾ وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ ﴿٣﴾ وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ ﴿٤﴾ وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ﴿٥﴾ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ ﴿٦﴾

Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al-Kafirun [109]: 1-6)

 

Saat ini hampir tidak ada lagi Ketuhanan yang Maha Esa, tapi keuangan yang maha kuasa. Demikian juga, bukan lagi; Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, tapi hak asasi manusia internasional yang dipaksakan masuk dalam ideologi dasar Negara. Sehingga tafsir hukum, prilaku, dan tindakan keluar dari kemanusiaan yang adil beradab.

Kemanusiaan yang adil dan beradab sangat jelas dalam al-Qur’an. Hal itu terkandung dalam surat al-Isra’ ayat 70,

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Isra’ [17]: 70)

Sesungguhnya demokrasi yang disepakati oleh pendiri bangsa tidak bertentangan dengan agama, karena mereka meletakkan al-Qur’an dan as-Sunnah di depan mereka. Yang merusak bangsa ini adalah demokrasi liberal yang saat ini sedang berjalan dan meresahkan umat Islam. Untuk menciptakan kedamaian maka prinsip pancasila; Kerakayatan yang Dipimpin oleh Khidmat dan Permusyawaratan Perwakilan, tidak boleh diganti dengan kerakyatan yang dipimpin oleh yang punya uang dan populartas.

Oligarki yang berlansung saat ini sangat menyedihkan, yaitu: pemerintahan yang dipimpin oleh beberapa orang yang jauh dari nila-nilai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Akan tetapi, sebagai warga Negara yang baik, kita tidak perlu mencari siapa yang salah cukup kita menjadi muslim dan mukmin yang bersatu untuk menegakkan amanah para pendiri bangsa.

Di dalam al-Qur’an sesama mukmin bukan disuruh untuk berlombah-lombah dalam kebaikan. Ayat tentang perintah berlombah dalam kebaikan itu ketika dengan orang kafir, sebab sesama muslim kaidahnya hanya satu,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Maidah [5]: 2)

Umat Islam sebagai penduduk mayoritas harus membuktikan kualitasnya sesuai dengan kuantitasnya agar kita menjadi bangsa yang sungguh-sungguh merdeka dan berdiri tegak di muka bumi sebagai bangsa yang besar.

Abu Kafillah

Sebarkan Kebaikan!