ArtikelSirahTadabburTausiyah
Trending

Meraih Hikmah di Balik Peristiwa

Terdapat hikmah dibalik semua peristiwa, sebab Allah tidak menciptan sesuatu dengan sia-sia. Kota madinah pun yang diberkahi, gempa pernah menyambangi. Untuk tujuan yang sama: mengajarkan ketundukan kepada-Nya.

Umar bin Khattab sebagai khalifah pada saat itu berkhutbah di hadapan rakyatnya, “Wahai manusia, betapa cepatnya kalian melakukan dosa, seandainya gempa ini datang lagi maka aku akan keluar dari hadapan kalian (yaitu meninggalkan kota Madinah)”.

Dosa manusia dan terjadinya gempa. Sebuah keterkaitan yang ditegaskan oleh amirul mukminin. Boleh jadi kita, masyarakat Indonesia, telah mengabaikan ayat qur’aniyah sehingga Dia mengirimkan ayat kauniayah agar kita kembali kepada-Nya; bertaubat dan memperbanyak istighfar.

Allah Swt. berfirman dalam surat ar-Rum ayat 41;

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Gempa Lombok membawa pesan dengan jutaan hikmah. Hikmah yang hanya bisa tersingkap oleh hati orang beriman. Bagi orang beriman gempa Lombok bukan sekedar fenomena alam, tapi pesan di baliknya. Pesan yang membuat hati orang beriman bergetar dan bertambah pula iman mereka. Seperti yang disinggung dalam surat al-Anfal ayat 2, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.”. Getaran cinta, takut, penuh harap, dan tawakal kepada-Nya berbuah keimanan yang menguat.

Menyadari hal itu, maka pesan yang dibawa gempa Lombok adalah perintah untuk bertaubat kepada-Nya. Tidak hanya mereka yang menjadi korban, tapi semua anak bangsa harus intropeksi diri dan menundukkan hati di hadapan-Nya. Bertaubat dengan sungguh-sungguh dan berjanji tidak akan mengulangi tindakan yang melanggar hukum-Nya.

Kita juga harus bersyukur sebab Dia mengirimkan peringatan tidak terlalu jauh terjebak dalam lembah kemaksiatan. Kita masih hidup, artinya Tuhan masih memberi kesempatan kepada kita untuk bertaubat.

Kesabaran juga menjadi hal yang sangat penting untuk melewati ujian ini. Di mana kesabaran diuji, di situlah keikhlasan diperlukan. *Disarikan dari khutbah Idul Adha Ustadz Bachtiar Nasir di posko pengungsian, Lombok Utara.

*Muhajir

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close