ArtikelTadabbur
Trending

Meraih Derajat Paling Tinggi di Sisi Allah

MUKMIN sejati memiliki keimanan sejati pula. Mereka tidak sekedar mengucapkan keimanan di dalam lisan, tapi meyakini dalam hati lalu merealisasikan melalui perbuatan. Saat iman dirasa turun, mereka berusaha bangkit dan memperbaharui keimanan dengan amal-amal yang mengundang keridhaan Allah Swt..

Menjadi manusia beriman bukan perihal mudah, sebab ujian pasti datang silih berganti. Itu sudah menjadi harga mati. Namun bagi mereka yang sudah dekat dengan Allah tidak menjadikan hal sebagai masalah. Sebab sejatinya ujian adalah pembeda pecinta sejati dan yang hanya bermodal kepura-puraan.

Dalam bahasa Arab, iman dan aman berasal dari akar kata yang sama. Artinya, orang beriman akan merasa aman walaupun ancaman dari pihak luar silih berganti. Bagi mereka ancaman itu adalah ujian yang tentu akan semakin menguatkan keimanan mereka. Intimidasi adalah sarapan pagi yang begitu nikmat, presekusi menjadi santapan malam yang membuat tubuh syahdu dalam istirahat. Demikianlah, keimanan selalu mendatangkan kelapangan dada, damai, sejahtera, dan penuh optimisme tinggi.

Ujian itu kadang pula datang dari keluarga, dikuculkan dilingkungan masyarakat, dan berbagai perlakuan lainnya. Tapi bagi mereka yang dadanya sudah dipenuhi keimanan tidak pernah risih apalagi takut kehilangan dunia. Lagi-lagi ini hanya ujian untuk menguatkan keimanannya.

Bagi orang beriman dunia hanya bayangan. Rasa takut kehilangan dunia tercabut tak berbekas. Mereka terus berjalan menuju cahaya (iman dan Allah sebagai sumber cahaya), sehingga bayang itu yang mengikutinya. Mengejar akhirat, dunia pasti ikut.

Orang beriman melangkah dengan cara pandang yang benar. Melihat dunia dengan cara pandang yang benar, sebab informasinya berasal dari Qur’an. semakin terang cahaya keimanan dalam dada seseorang maka semakin jelas baying-bayang kefanaan dalam matanya. Baying akan sirna dan cahaya itu akan abadai terbawa sampai di padang mahsyar nanti.

Orang beriman adalah orang yang tercahayakan. Hidupnya selalu damai dan tenteram. Kebahagiaan bagi mereka adalah saat melakukan amal-amal kebaikan. Mereka yakin bahwa kematian adalah kepastian. Bagaimanapun caranya bersembuyi kematian pasti akan menemukan kita, begitu juga dengan rezeki da jodoh. Keyakinan inilah yang mendatangkan kebahagiaan dalam hati, sehingga yang terfikirkan hanya bagaimana bisa memperbanyak amal shalih di dunia untuk bekal di hari akhirat kelak.

Berdasarkan surat at-Taubah ayat 20, keimanan itu harus berdampingan dengan hijrah. Ibarat iman dan hijrah adalah sahabat.

الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.

Hijrah artinya berpindah dari satu tempat ke tempat yang lebih baik, dari satu situasi ke situasi yang lebih baik, atau dari maksiat kepada ketaatan kepada-Nya. Tingkatan orang beriman yang seperti ini lebih tinggi.

Hijrah bukan perkara yang mudah. Hijrah membutuhkan pengorbanan fisik maupun perasaan. Jika tidak mendapat pertolongan Allah saat berniat untuk hijrah maka dipastikan di tengah jalan akan mundur. Tidak ada yang bisa menjamin seseorang bisa terhindar dari perbuatan salah, tapi seseorang yang kuat niatnya berhijrah pasti akan terus berjuang memperbaiki diri di hadapan Allah Swt.. Maka minta tolonglah kepada Allah, semoga Dia mengistiqomakan kita di jalan-Nya.

Janji Allah yang termaktub dalam surat Fushilat ayat 30-31 sangatlah indah jika diresapi dengan hati yang bersih. Allah Swt. berfirman;

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.

Iman harus dideklarasikan. Tidak boleh seperti anggapan orang liberal, bahwa cukup dalam hati saja. keimanan sejati adalah apa yang diucapkan oleh lisa, diyakini oleh hati, lalu direalisasikan dalam amal perbuatan.

Deklarasi itu tidak boleh hanya dalam satu momen saja, tapi harus berkelanjutan sampai mati. Istiqamah. Sebab, informasi yang terdapat dalam ayat di atas mampu menggetarkan hati. Seseorang yang mampu mengikrarkan keimannya lalu istiqamah di jalan-Nya maka para malaikat akan berkata, “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.

Bukan hanya itu, Allah berjanji akan menjadi pelindung bagi orang yang mampu istiqamah. Dia-lah yang akan menadi pelindung dalam kehidupan dunia dan akhirat. Lalu bayangkan Dia sang Maha Agung berkata kepada kita, “di dalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.” Lalu apa lagi yang kita tunggu?

setelah hijrah, ditambah jihad. Iman dan hijrah belum komplit jika tidak disempurnakan dengan jihad harta dan nyawa di jalan Allah Swt.. Derajat kita di sisi-Nya tidak akan naik sebelum kita jihad dengan harta dan nyawa.

Orang yang punya ketiga ini (iman, hijrah, & jihad) adalah orang yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah. Tidak hanya itu, mereka adalah pemenang. Artinya, derajat tinggi dan kemenangan akan diperoleh dengan beriman, berhijrah, lalu berjihad di jalan Allah dengan harta dan nyawa. *Ditulis dari tadabbur kamis pagi oleh KH Bachtiar Nasir di AQL Islamic Center, Tebet Utara, Jakarta Selata, 20/9/18.

*Muhajir

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close