Menyoal Peran Pemuda Muslim Indonesia

HAMPIR tiga tahun sebelum bergulirnya Sumpah Pemuda, memori umat Islam diingatkan kepada Perhimpunan Pemuda Islam yang di dalam lembaran sejarah disebut Jong Islamieten Bond (1 Januari 1925). Organisasi pemuda Islam ini pantas ditilik kembali karena sedikit-banyak turut berperan dalam proses terjadinya Sumpah Pemuda dalam Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928.

Meskipun sebelum itu ada organisasi pemuda yang disebut Jong Java (1915) atau Trikoro Dharmo, namun anak organisasi dari Budi Utomo ini dalam catatan sejarah menolak cita-cita persatuan (dalam Kongres 6-9 April 1928 di Surakarta) yang didambakan oleh Jong Islamieten Bond (JIB) (A.M. Surya Negara, 2015: 525). Organisasi pemuda Islam ini bermula saat usul dari Ketua Perhimpunan Pemuda Jawa, R. Samsurijal ditolak dalam kongres Jong Java (JJ) tahun 1924 yang hendak memasukkan Islam dan politik di dalam organisasi.

Penolakan ini menginspirasi berdirinya organisasi pemuda baru. Atas saran H. Agus Salim, didirikanlah JIB sebagai alternatif untuk mewadahi keinginan Samsurijal dan kawan-kawannya. Pendirian JIB ini cukup berlasan karena Jong Java terlalu fokus kepada etnis Jawa dan membolehkan pengajaran ajaran-ajaran kejawen (kebatinan) teosofi, bahkan agama lain selain Islam, sehingga tidak mengakomodasi pelajaran agama Islam bagi pemuda-pemuda Islam.

Jong Islamieten Bond pun berdiri. Diketuai oleh Samsurijal dan yang menjadi penasihat ketika itu adalah H. Agus Salim. Menarik untuk dicatat di sini, tujuan JIB didirikan di antaranya: memajukan pengetahuan, hidup dan persatuan Islam. Berbeda dengan JJ yang memprioritaskan etnis Jawa, JIB justru menjaring pemuda-pemuda berumur di bawah 30 tahun dari seluruh Indonesia (Franklin Book, Ensiklopedi Umum, 506).

Pada saat kongres pertama (Desember 1925), dicanangkan asas tujuan perhimpunan di antaranya: mempelajari dan memperbesar rasa cinta terhadap agama Islam; toleransi terhadap agama-agama lain; memajukan campur-gaul antara pelajar. Uniknya, meski bukan organisasi politik, berbeda dengan JJ yang menolak yang tidak ikut serta dalam politik, JIB membolehkan anggotanya ikut politik yang dikemudian hari anggotanya menonjol dan berperan besar dalam politik seperti: M. Natsir dan M. Roem.

Pada kongres tahun berikutnya (Desember 1926 dan 1927) pembahasan kongres jauh lebih progresif: Islam dan pandangan dunia; perkembangan Islam di luar negeri; Islam dan pikiran merdeka; etika perang dalam Islam dan lain sebagainya. Dari sini saja bisa dilihat bahwa spirit persatuan dan kemerdekaan tercermin jelas dalam organisasi yang masih terhitung muda dibanding Jong Java.

JIB ini berperan aktif juga dalam membela Islam dari serangan pembencinya. Ketika Islam diserang melalui syariat poligami, JIB berada di garda depan dalam membelanya. Yang menjadi masalah bukan aturan poligama, tapi pelakunya yang salah dalam menjalankannya. Satu hal lagi yang menarik dari JIB adalah di dalamnya juga didirikan kepanduan baik pemuda (Natipy) maupun pemudi (Jibda).

Ahmad Mansur Surya Negara dalam Api Sejarah I (2015: 522) menjelaskan fenomena menarik mengenai pengaruh Kongres JIB terhadap Kongres Pemuda. Berdirinya JIB menurutnya membangkitkan perjuangan menegakkan nasionalisme Indonesia. JIB berjuang untuk melepaskan diri dari penindasan Barat serta berjuang menjadi tuan di rumah sendiri. Tidak mengherankan jika pada akhirnya, organisasi pemuda yang melepaskan diri dari keterikatan dasar perjuangan kedaerahan Jawa ini mendorong lahirnya Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (1926) dan Jong Indonesia yang nantinya berperan besar dalam Kongres Pemuda II yang mencetuskan lahirnya Sumpah Pemuda.

            Sebelum Kongres Pemuda II (28 Oktober), pada Kongres Pemuda I (27 Oktober), Karto Suwiryo (pemuda 23 tahun) yang pada waktu itu diutus oleh Partai Sarikat Islam mengusulkan ide brilian, yaitu: menjadikan bahasa asing sebagai bahasa internasional sedangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa penghubung persatuan pemuda.”

Dari pemaparan singkat di atas, pembaca bisa mengetahui bagaimana peran pemuda muslim sebelum lahirnya Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Mereka tidak saja berperan dan mencetuskan ide persatuan bangsa, tetapi semangat nasionalisme juga terpatri jelas dalam spirit organisasi mereka. Kongres Pemuda II yang bersepakat satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa, tidak terlepas dari peran pemuda muslim dalam organisasi Jong Islamieten Bond.

Di era digital seperti sekarang ini, bersamaan dengan berlangsungnya “bonus demografi” di mana usia produktif penduduk Indonesia (20-50 tahun) mendominasi, apa kira-kira peran pemuda muslim dalam menghadapi tantangan zaman yang jauh berbeda dengan tantangan pemuda muslim pra-kemerdekaan? Apa sekadar menjadi generasi pengikut arus, atau justru menciptakan perubahan-perubahan besar yang bernilai positif bagi agama, bangsa dan negaranya?

Sebagai penutup, pernyataan Musthafa Al-Ghalayaini dalam ‘Idhah al-Nâsyi`în ini perlu dicermati baik-baik oleh pemuda, “Ketahuilah bahwa di tangan pemudalah urusan ummat dan di kakinyalah kehidupannya.” (1982: 7)

*Amoe Hirata

Sebarkan Kebaikan!