Menyiapkan Generasi Akhir zaman

(Sari Khutbah Jum’at Ustadz. Bendri Jaysurrahman)

            SAAT ini kita sampai pada zaman yang diistilahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai berikut:

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ

Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh kedustaan,” sekarang kita telah mengalaminya. Tahun-tahun penuh hoaks. Mengingat di sini menggunakan kata “tahun-tahun” berarti prosesnya akan panjang sampai hari kiamat sehingga kita juga harus mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Rasulullah memberikan beberapa indikator tahun-tahun penuh hoaks tersebut:

يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ» ، قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: «الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ»

Di mana banyak orang-orang yang membenarkan orang yang berdusta dan mendustakan orang yang benar; orang khianat diberi amanah, orang yang amanah dianggap khianat; dan yang berbicara adalah ruwaibidhah,” ketika ditanya tentang itu, beliau menjawab, “Seorang bodoh yang berbicara tentang urusan manusia,” (HR. Ibnu Majah).

Dalam kondisi seperti ini, kita jangan sampai ikut-ikutan orang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan:

لَا تَكُونُوا إِمَّعَةً، تَقُولُونَ: إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا، وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا

Jangan menjadi (generasi) imma’ah!” indikarornya, “(yaitu jika orang berbuat baik kami berbuat baik. Jika orang berbuat dzalim, maka kami berbuat dzalim,” (HR. Tirmidzi). Jika ada orang baik, ikut baik; saat orang berbuak buruk, ikut melakukan keburukan. Inilah yang kita khawatirkan pada generasi kita.

Karena itu penting kiranya disiapkan generasi yang kokoh untuk menghadapi akhir zaman. Urusan menyiapkan ini penting, karena al-Qur`an memperingatkan kita:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُواْ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافاً خَافُواْ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللّهَ وَلْيَقُولُواْ قَوْلاً سَدِيداً

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisa [4] : 9).

Untuk mendidik generasi akhir zaman, kita harus berani tampil beda demi kebenaran. Berani melawan arus. Islam sendiri, kata Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dimulai dalam keaadan asing, dan nanti akan kembali asing (HR. Muslim).

Ada empat hal yang perlu ditanamkan kepada anak agar menjadi generasi kuat akhir zaman. Pertama, menanamkan keimanan. Mungkin ini dianggap kilise dan biasa bagi sementara orang. Padahal, ini adalah hal inti yang menjadikan sahabat nabi menjadi generasi hebat. Jundub bin Junadah meriwayatkan:

فَتَعَلَّمَنَا الإِيمَانَ قَبْلَ الْقُرْآنِ ، ثُمَّ تَعَلَّمَنَا الْقُرْآنَ ، فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا وَإِنَّكُمُ الْيَوْمَ تَعَلَّمُونَ الْقُرْآنَ قَبْلَ الإِيمَانِ.

“Kami lebih dulu diajarkan iman sebelum al-Qur`an, kemudian kami belajar al-Qur`an,maka bertambahlah iman kamu. Sedangkan kalian belajar al-Qur`an sebelum iman.” (HR.  Baihaqi). Jadi hal pertama yang perlu ditanamkan untuk membina generasi kuat akhir zaman adalah keimanan.

Kedua, menguatkan ikatan batin antara orang tua dan anak, khususnya ayah. Kasus Nabi Yusuf ‘alaihissalam misalnya, dia memiliki kedekatan yang sangat intim dengan ayahnya sehingga ketika mimpi, dengan leluasa beliau tidak takut menceritakan kepada ayahnya. Di samping itu, saat Nabi Yusuf ‘alaihis salam digoda istri Aziz, salah satu hal yang bisa melindunginya adalah burhan Rabbih [petunjuk Allah] (QS. Yusuf [12] : 24).

Menurut ulama tafsir, saat Yusuf mau melakukannya, di dekat jendela ada sosok wajah ayahnya. Pada riwayat lain, riwayat Qatadah tiba-tiba Yusuf melihat ayahnya di depannya dengan menggigit jari tangan dan mengingatkan itu tidak pantas dilakukan oleh nabi. Ini menunjukkan betapa dekatnya Yusuf dengan ayahnya.

            Jangan menyepelekan kedekatan batin antara anak dan orang tua. Inilah yang hilang di negeri ini. Anak-anak yang gampang terpengaruh dengan lingkungannya karena tidak memiliki keterikatan batin dengan orang tuanya. Salah satu indikator rusaknya ikatan batin adalah ketika anak sudah tidak lagi mau bercerita kepada orang tuanya. Semua masalahnya disimpan sendiri.

Ketiga, mengasah akalnya. Al-Qur`an banyak menyebutkan banyak ayat yang menganjuran berpikir. Anak-anak sekarang mengalami gegar berpikir. Jadi daya pikirnya mati dan gampang dibuai oleh berita hoaks. Salah satu indikatornya adalah ketika anak ditanya mengenai sesuatu, misalnya, “Mau makan apa?” dia menjawabnya: “Terserah” dia mengikut saja.  Indikator lain, ketika ditanya, “Gimana, bagus ndak?” dia menjawab, “Ya bagus deh.” Ini menunjukkan sudah mati daya pikirnya. Inilah mengapa mereka bisa gampang dipengaruhi.

Lihat bagaimana kedekatan Ibrahim dengan Ismai. Pada saat menerima titah dari Allah melalui mimpi agar menyembelih Ismail, beliau masih dialog dengan Ismail. Ini membuktikan orang tua selain dekat juga, melibatkan anak dialog dengan anak dan menguatkan nalarnya. Makanya, ada banyak ayat al-Qur`an yang menggunakan ayat-ayat dengan gaya dialog. Al-Qur`an mengajarkan cara mendidik anak bukan monolog, tapi dengan dialog.

Keempat, menjaga fase igo balita (usia 3-7 tahun). Kalau kita hendak melarang anak pada usia tersebut, jangan dengan menggunakan cara-cara kasar, karena itu akan berpengaruh pada mereka. Kelak ketika remaja –akibat tidak dijaga fase egonya- dia akan menjadi orang baik tapi tidak enakan, karena sering ditegur oleh ayanya pada masa balita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan cara mendidik anak di fase ego:

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ أُتِيَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَدَحٍ فَشَرِبَ وَعَنْ يَمِينِهِ غُلَامٌ هُوَ أَحْدَثُ الْقَوْمِ وَالْأَشْيَاخُ عَنْ يَسَارِهِ فَقَالَ يَا غُلَامُ أَتَأْذَنُ لِي أَنْ أُعْطِيَ الْأَشْيَاخَ فَقَالَ مَا كُنْتُ لِأُوثِرَ بِنَصِيبِي مِنْكَ أَحَدًا يَا رَسُولَ اللهِ فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ

Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah diberi sebuah gelas yang berisi air, lalu beliau meminumnya. Di sampingnya ada seorang anak yang paling muda usianya di antara mereka. Di samping kirinya ada kakek-kakek. Lalu Nabi bertanya, “Apakah kamu mengizinkanku memberikan minum (yang kau berikan kepadaku) ke kakek-kakek tersebut?” Anak itu menjawab, “Aku tidak mau memberikan bagian yang aku prioritaskan untukmu,  kepada siapapun.” Akhirnya anak itu pun memberikan minum kepada kakek tersebut (HR. Bukhari).

            Lihat bagaimana cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendidik anak di fase ego. Ketika mereka berbuat salah, beliau tidak menghardik atau menyalahkannya, tapi dengan sikap yang lembut beliau memberi tahunya. Akhirnya, anak itu pun sadar dengan sendirinya. Fase ego ini sangat penting dijaga agar ketika dewasa kelak anak bisa berkata tidak ketika diajak pada keburukan.

Jadi, supaya untuk menyiapkan generasi kuat, jangan ikut-ikutan orang, kita harus berani melawan arus dalam hal kebaikan, dan menanamkan empat hal kepada jiwa anak: Pertama, keimanan. Kedua, kedekatan batin. Ketiga, mengasah akalnya. Keempat, menjaga fase ego atau masa balitanya. Wallahu a’lam.

Sebarkan Kebaikan!