Tadabbur

Menyelami Mutiara-mutiara al-Aliyyu

Allah Subhanallahu wa Taala berfirman:

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّـهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّـهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ ﴿٦٢﴾

(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Al-Haj: 62)

Menurut Ibnu Qayyim ada tiga makna al-Aliyyu yaitu dzat maha tinggi yang terbebas dari segala aib, keburukan, dan kekurangan. Dan diantara kesempurnaan dzatnya adalah tidak ada sesuatu pun di atasnya karena Dia-lah yang Maha Tinggi. (Syifaul Alil)

Kata tinggi disini, bisa dalam bentuk dzat memang berada di tempat yang tinggi atau berada di kedudukan yang tinggi, jadi, al-Aliyyu itu tempat dan kedudukan atau Allah itu tinggi dari segi posisi dan kedudukan. Posisi secara Dzat tinggi dan kedudukan-Nya juga tinggi. Sehingga tidak bisa mengatakan Allah itu dimana mana secara Dzat dan secara Dzat kita tidak bisa mengatakan Allah itu berada di sembarang tempat. Pengetahuan-Nya di mana sampai dimanapun kita berada Dia maha Tau. Kehendak Allah dimana-mana tapi Dzatnya di langit (tinggi).

Secara Dzat Allah itu maha tinggi demikian pula kedudukan-Nya, sehingga terbebas dari semua bentuk kekurangan dan keburukan dan terbebas dari semua celah yang terkait dengan kerendahan. Dia juga maha tinggi dalam segi kemuliaan.

Selain penjelasan di atas, di antara makna al-Aliyy adalah Ketinggian yang mutlak dari segala sisi, memiliki ketinggian kekuasaan, ketinggian penaklukan, dan ketinggian Dzat-Nya. Baransiapa yang mengingkari ketinggian Dzat-Nya, maka dia telah menolak konsekuensi dari asma Allah al-‘Aliyyu.

Ibnu Manzhur dalam lisanul Arab Makna Al-‘Aliyyu. “Allah adalah al-‘Aliyy, al-Muta’ali, al-A’la, dan al-‘Aalii. Yang punya keluhuran, yang punya ketinggian, yang punya kemuliaan, Maha Tinggi dari anggapan orang yang zhalim.

  1. al-Muta’aal

Orang-orang dzalim (Musyrik) mempunyai pandangan yang rendah ketika meninggikan Allah, oleh Karena itu Allah itu al-Mutaal. Misalnya, orang musyrik itu meninggikan Allah itu dengan cara menyembah berhala, dia percaya Tuhan ada tapi menganggap Tuhan butuh pertolongan. Sehingga Allah itu al-Mutaal, maha tinggi dari cara-cara mereka yang rendah.

Di dunia ini tidak ada penguasa yang mampu menguasai semua yang dikuasainya. Persiden sebagai pemegang jabatan tertinggi di Negeri ini terbukti tidak bisa menguasai bawahannya. Sehingga Allah sebagai al-Muta’aali maha kuasa yang menguasai semua penguasa berikut keuasaannya. Allah menguasai jasad dan hati mahluk-Nya, menguasai umurnya, dan menguasai semua kekuatan dan kekuasaan hamba-Nya.

  1. Al-A’laa

Yang paling tinggi (al-A’laa) berarti yang tinggi (al-‘Aalii), ini yang terkait dengan kekuasaan-Nya. Sehingga ketika bersujud kita membaca Subhana rabbiyal a’la artinya maha suci Allah yang memiliki ketinggian paling tinggi, baik dari sisi kedudukan yang tinggi maupun dari posisinya yang tidak ada yang lebih tinggi dari-Nya.

“Ketidak mampuan lagi untuk mengenal Allah maka hanya sebatas itulah kemampuan kita dalam mengenal-Nya”

Walaupun pada akhirnya kita tidak akan pernah sanggup memuji Allah yang maha tinggi dengan ketinggian-Nya, tapi semoga sedikitnya pengetahuan dan pemahaman kita akan meninggikan derajat kita di hadapan Allah.

Makna lain dari al-A’laa adalah Allah lebih tinggi dari semua yang tinggi. Al-A’la menunjukkan bahwa sifat Allah adalah sifat-sifat yang paling tinggi. Al-A’la artinya kemuliaan atau dzul Ulaa artinya memiliki sifat-sifat tinggi.

Kata al-Ula merupakan bentuk jamak dari al-‘Ulya, yang artinya yang menghimpunkan segala sifat dan ungkapan yang tinggi.

Al-Ula bisa juga merupakan bentuk jamak dari al-A’laa. Disifatinya Allah dengan segala Yang Tinggi merupakan persaksian bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah. Ini adalah sifat yang tertinggi, dan hanya Allah yang berhak disifati demikian. Hanya Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Dan Allah selalu Tinggi, Yang Tinggi, dan Yang Maha Tinggi. Maha Tinggi Allah dari segala anggapan yang menyimpang dari orang-orang yang menyimpang. Allah Tinggi lagi Maha besar. (Lisanul Arab)

  1. Ta’ala

Sedangkan tafsiran Ta’ala (Maha Tinggi) adalah Maha Agung dan tidak terwakili oleh segala bentuk pujian, karena Dia lebih Agung, lebih besar, dan lebih tinggi dari segala yang dipujikan, tiadaTuhan selain Allah dan  tiada sekutu bagi-Nya.

Allah itu maha suci karena tidak ada satu pun  cela pada diri-Nya dan tidak ada sedikit pun hina pada diri-Nya. Apa pun pujian kita kepada-Nya tidak akan sampai pada hakikat ketinggian-Nya. Kalau pun kita mencoba untuk mengagungkan Dia, maka kita tidak akan pernah sampai pada tingkat pengagungan yang sesungguhnya. Sehebat apa pun kita mengagungkan Allah, Dia masih lebih tinggi dari yang kita ekspresikan.

Jika kita memuji Allah dengan penuh perasaan yang difahamkan kepada kita, maka lambat laun kita akan dekat dengan-Nya. Jika demikian, walau pun kita tidak dikenal oleh penduduk bumi tapi penduduk langit selalu mendoakan keselamatan kita.

Betapa agungnya Allah subhana wa ta’ala sehigga Rasulullah bersabda,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا عَلَى الأَرْضِ رَجُلٌ يَقُولُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ إِلاَّ كُفِّرَتْ عَنْهُ ذُنُوبُهُ وَلَوْ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ زَبَدِ الْبَحْرِ »

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang di muka bumi ini mengucapkan: Laa ilaha illallah, wallahu akbar, subhanallah, wal hamdulillah, wa laa hawla wa laa quwwata illa billah, melainkan dosa-dosanya akan dihapus walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Ahmad 2/158, sanadnya hasan)

  1. Al-Aaliy

Imam Khathabi menambahkan terkait makna “al-‘Aliyy,  berarti juga yang Maha Mengatur, berwazan fa’iil tapi artinya Faa’il (al-Aaliy), seperti Qadiir dan Qaadir, al-‘Aliim dan al-‘Aalim. Allah mempunyai segala yang tinggi. Siapapun yang mengingkarinya maka ia telah jauh tersesat. Banyak nash yang menunjukkan bahwa segala bentuk keluhuran itu milik Allah subhanahu wa ta’ala.

Menurut Azhari, “Penafsiran sifat-sifat Allah tersebut, satu sama lain saling berdekatan arti. Al-Aliyy sama dengan al-Aali. Mengacu kepada pengertian tidak ada yang lebih dari-Nya.

Makna lain dari al-Aliyy adalah ‘Ala al-Khalqa artinya melebihi makhluk, baik itu dari segi posisi maupun dari sisi kedudukan. Hal itu berarti pula menguasai mahluk dengan kekuatan-Nya atau aliyyun fil qahr.

Sedangkan al-Muta’aali berarti yang lebih agung dari apa yang dituduhkan oleh mereka yang suka mengada-ada dan terhindar dari anggapan orang-orang yang bingung. Namun terkadang, al-Muta’aali juga berarti al-‘Aaly.

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close