InternasionalNasionalNews
Trending

Menyatukan Peran Besar Para Ulama

Sejumlah ulama dan dai dari berbagai negara berkumpul di Jakarta, untuk merumuskan berbagai langkah dakwah sebagai solusi bagi umat Islam di dunia.

TEGAKNYA sebuah bangsa jika ditopang fondasi pemimpin yang kuat, adil dan amanah. Suksesnya kepemimpinan selain didukung oleh rakyatnya, juga para ulama. Karena, merekalah pewaris para nabi. Mereka mengemban amanah untuk melanjutkan misi para nabi, yaitu menegakan kebenaran dan menyampaikan risalah ilahiyah.

Para ulama bukanlah sekedar alat untuk legitmasi politik dan kekuasaan. Peran dan tanggungjawab para ulama, yang bersanding harmonis dengan para pemimpin bangsa, begitu sangat dibutuhkan. Setidaknya, inilah yang tercermin dalam Forum Ulama dan Dai se-Asia Tenggara, Afrika dan Eropa di Hotel Grand Cempaka, Jakarta 3-6 Juli 2018.

Acara ini dibuka Wakil Presiden RI Jusuf Kalla pada Selasa (3/7), yang juga didampingi Gubernur DKI Anies Rasyid Baswedan selaku tuan rumah acara ini. Wapres berpesan agar seluruh umat Islam di dunia, terutama para ulama berperan bersama-sama menjaga perdamaian. Karena, umat Islam di bebeapa belahan dunia saat ini mengalami konflik, seperti di Irak, Siria, Libya, Afghanistan dan Nigeria. Begitu juga umat Islam di Asia Tenggara, seperti di Myanmar dan Filipina

“Islam sebagai agama perdamaian tentu merupakan kewajiban kita untuk mendorong (perdamaian). Tapi tidak cukup perdamaian, harus diimbangi kemajuan bangsa itu sendiri,” tegas Jusuf Kalla. Karena itulah, pertemuan para ulama ini diharapkan bisa memberikan kontribusi pemikiran untuk menciptakan kedamaian di beberapa negara berpenduduk mayoritas muslim, yang tengah menghadapi konflik.

Menurut Jusuf Kalla, konflik yang berkepanjangan tentu akan merugikan umat Islam sendiri. Misalnya, untuk mengembalikan kondisi Suriah seperti sebelum perang butuh waktu 30-40 tahun. Karena itulah, seluruh umat Islam harus bersatu untuk menyelesaikan konflik ini sehingga terciptanya kemajuan umat.

Persatuan umat Islam juga menjadi pesan penting yang disampaikan oleh Gubernur DKI Anis Rasyid Baswedan dalam pidato pembukaan dalam forum ulama ini. “Membangun persatuan di Indonesia, bukan berarti kita menghilangkan masalah, tetapi dari waktu ke waktu kita sebagai bangsa selalu bisa menyelesaikan masalah dan menjaga persatuan, dan mungkin dunia Islam bisa belajar banyak dari bagaimana persatuan di Indonesia bisa dibangun,” jelas Anies

Indonesia negeri yang beragam suku, budaya dan agama tapi masyarakat hidup secara damai dan toleran, tentu bukan sebagai slogan. Semua pihak harus terlibat menciptakan perdamaian, terutama peran strategis itu dipikul oleh para ulama. Bahkan, para ulama di Indonesia tidak hanya ingin berkontribusi untuk negerinya, juga dunia.

Inilah yang melatarbelakangi terselenggaranya Forum Ulama Internasional yang digelar Yayasan al Manarah Al Islamiyah bersama Rabithah Ulama dan Dai Asia Tenggara, yang didukung oleh Pemprov DKI Jakarta. Lebih dari 500 ulama dan dai hadir dalam acara ini, tidak hanya dari Asia Tenggara, juga utusan dari Afrika dan Eropa.
Lembaga dan Ormas Islam dari Indonesia, yang hadir antara lain dari Majelis Ulama Indonesia, Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama, Persis, Wahdah Islamiyah, AQL Islamic Center, Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia, Front Pembela Islam, Al Irsyad, Hidayatullah, Al Washliyah, Persatuan Umat Islam dan ormas Islam lainnya.

Menurut Dr. Jeje Zaenudin, Sekretaris Rabithah Ulama dan Dai Asia Tenggara, Forum Ilmiah Internasional ke-5 ini mengambil tema adalah wa’tashimu (berpegang teguhlah kalian semua). Artinya mencerminkan tujuan utama dari forum ini adalah merumuskan langkah-langkah konkret dalam mewujudkan kesatuan dan persatuan para ulama serta dai dalam berdakwah, serta menjauhi perselisihan dan perpecahan umat. “Kita ingin mengembangkan cara-cara dialog yang saling menghormati dalam menghadapi berbagai isu kontroversi di tengah masyarakat,” jelasnya.

Pertemuan para ulama ini bertujuan murni untuk pengembangan dakwah, tidak ditunggangi kepentingan politik pragmatis. Diharapkan acara ini bisa melahirkan kesadaran bersama tentang besarnya tanggungjawab para ulama dan dai dalam mengembangkan dakwah Islam yang penuh hikmah.

Forum Internasional ini pertama dirintis pada tahun 2014, di Depok, Jawa Barat hingga terbentuknya Rabithah Ulama dan Dai Asia Tenggara. Kemudian, forum yang melibatkan para ulama dari berbagai negara ini, menjadi program tahunan lembaga itu. Sedangkan, Forum Ilmiah Internasional ke-2 diselenggarakan di Bandung dengan mengusung tema Waman Ahsanu Qaulan. Kemudian, berlanjut pada Forum Ilmiah Internasional ke-3 diselenggarakan di Bogor dengan mengusung tema Ummatan Wasatha. Adapun, Forum Ilmiah Internasional ke-4 diselenggarakan di Kota Padang dengan mengusung tema Wihdatul Ummat.

Umat Islam membutuhkan para ulama untuk berperan lebih besar. Mereka harus menjadi teladan dan tokoh panutan dalam masyarakat. Karena itulah, tidak hanya kemampuan keilmuan, juga integritas para ulama diharapkan menjadi solusi dalam berbagai persoalan umat Islam di berbagai belahan dunia. (Kholis Bakri)

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close