Menyambut Ramadhan 1438

TRADISI menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan patut diapresiasi. Hanya saja, untuk menghargai tibanya bulan suci ini (1438), alangkah baiknya berangkat dari persepsi yang benar. Hal ini karena kita tidak menginginkan tradisi penyambutan ini sebatas tradisi, sehingga menjadikan Ramadhan sebagai ibadah tahunan belaka tanpa membekas pada bulan-bulan lainnya. Maka solusinya adalah kembali kepada persepsi.

Mengenai persepsi Ramadhan ini, ada cerita menarik yang bisa dijadikan pelajaran bersama agar tidak salah dalam menyambut Ramadhan.  Alkisah, Salafus Shalih yang zuhud dan wara’ bernama Hasan bin Shalih memiliki kebiasaan baik dan unik. Saudara, ibu dan dirinya terbiasa melaksanakan shalat malam dibagi tiga bagian. Ketika ibunya meninggal, shalat malam dibagi dua dengan saudaranya. Setengah malam shalih, dan setengahnya lagi saudaranya. Ketika saudara Hasan meninggal, maka ia shalat malam seluruhnya.

Hasan bin Shalih punya seorang budak perempuan. Suatu saat budak ini dijual kepada temannya. Saat pertengahan malam, di rumah tuan barunya, tiba-tiba budak ini berteriak, “Wahai penghuni rumah…! Shalat….Shalat….!”. Mendengar teriakan tersebut, sontak seisi rumah terbangun, sembari menanyakan kepadanya: “Apakah sudah datang waktu shubuh?” Mendapat jawaban demikian, budak wanita ini menjawab, “Apa kalian hanya melakukan shalat wajib saja?”

Keesokan hari, lantaran kecewa dengan apa yang dilihatnya semalam, ia kembali kepada Hasan bin Shalih, seraya berkata, “Engkau telah mejualku kepada keluarga yang buruk, mereka tidak shalat kecuali yang wajib saja; tidak puasa melainkan yang wajib saja, maka kembalikanlah aku. Akhirnya buduk yang takwa ini dikembalikan kepada Hasan bin Shalih. Ia merasa nyaman dengan Hasan yang tidak membedakan Ramadhan dengan bulan-bulan lain dalam melaksanakan ketaatan. (Salman, Duruus Ramadhaan Waqafaatun li al-Shaa`imiin, 6-7).

Bulan agung ini tidak hanya diperlakukan sebagai tamu, tetapi sebagai sahabat yang selalu memantik kesadaran jiwa untuk senantiasa istikamah beramal di bulan-bulan lainnya.

Dari budak brilian ini, kita bisa belajar bagaimana seharusnya menyambut Ramadhan. Bulan agung ini tidak hanya diperlakukan sebagai tamu, tetapi sebagai sahabat yang selalu memantik kesadaran jiwa untuk senantiasa istikamah beramal di bulan-bulan lainnya. Karenanya, Ramadhan seolah tidak berjarak dengan dirinya. Ibadah-ibadah seperti puasa, shalat, dan lain sebagainya yang dilakukan secara intensif di bulan Ramadhan, juga diamalkan di bulan-bulan lain. Demikianlah kita belajar dari budak bijaksana ini akan persepsi benar mengenai Ramadhan. Wallahu a’lam.

*Abu Kafillah

Sebarkan Kebaikan!