Menularkan Virus Kebaikan

MENJADI saleh itu baik, tapi menjadi mushlih (membuat perbaikan sosial) itu lebih baik. Menjadi orang baik itu bagus, tapi menjadikan orang lain ikut baik, itu lebih bagus. Kaidah fiqhiyah mengajarkan kita nilai penting berupa: al-Khairu al-muta`addi khairun min al-qaashir (kebaikan yang berdampak sosial luas, lebih baik dari pada kebaikan individual).

Kebaikan seharusnya tak hanya dinikmati oleh individu, ia harus mengimbas pada ranah sosial. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sesuai At-Taubah ayat 128 memiliki ciri penting di antaranya: tidak tega atau kasihan terhadap penderitaan manusia dan sangat mengharapkan mereka ikut beriman. Sangat loba dalam menginginkan keimanan mereka adalah bentuk riil bahwa Rasul menginginkan kebaikan untuk semua orang.

Saat Thufail bin ‘Amru Ad-Dusi mengunjungi Makkah, para gembong kafir Qurays berusaha menghalang-halanginya berinteraksi dengan Nabi. Disampaikanlah padanya isu-isu negatif tentang Nabi. Dikatakan bahwa Nabi sangat berbahaya. Kata-katanya laksana sihir yang mampu membuat masyarakat terpecah belah. Thufail tidak boleh dekat-dekat Nabi, supaya tak terpengaruh dengan ucapannya.

Namun suatu ketika, takdir Allah mempertemukannya dengan Nabi. Dari kejauhan Thufail mendengar bacaan Nabi. Ia berusaha menutup telinganya sesuai dengan saran orang kafir Qurays. Tetap saja dia bisa mendengar suara Nabi. Akhirnya ia membuat keputusan: Buat apa aku sumpal telingaku, aku ini kan penyair, kalau kata-katanya baik maka akan aku ikuti, tapi jika jelek maka akan aku campakkan.

Ketika telinga dibuka, tiba-tiba ia mendengar kata-kata yang sungguh mengesankan, sampai akhirnya ia datangi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam hingga masuk Islam.

Yang menarik dan patut dijadikan tauladan ialah Thufail bin `Amru ad-Dausi tak mau kebaikan yang ia dapatkan berupa petunjuk Islam  hanya dinikmati sendiri. Ia meminta doa pada Rasulullah agar semua sukunya diberi petunjuk.

Sepulang dari Mekah, ia mulai berdakwah mengajak keluarganya lebih dahulu. Bapaknya diajak hingga rela masuk Islam. Istrinya dan anaknya pun diajak sampai akhirnya masuk Islam. Dengan semangat yang begitu luar biasa ini nantinya membuat suku daus sebagaimana doa Nabi, bisa memeluk Islam dan bertemu Rasulullah pada perang Khaibar.

Tak hanya itu. Perjuangan dakwahnya yang begitu luar biasa mengantarkan dirinya pada kesyahidan. Kesyahidan yang bukan hanya terbatas pada diri pribadi, namun anak kesayangannya yang bernama `Amru bin Thufail ad-Dausi pun turut mendapat kesyahidan. Takdir syahid keduanya diabadikan sejarah dalam pertempuran Yamamah dan Yarmuk.

Mungkin sangat gampang kita menjumpai sahabat yang syahid di jalan Allah. Namun, menemukan sahabat yang memiliki keluarga yang juga syahid itu sangat jarang. Ia sebagai kepala keluarga, bukan saja mampu mentransfer kebaikan yang ia dapat dari Islam pada dirinya untuk diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, lebih dari itu ia mampu mentransfer kebaikan pada keluarga hingga sukunya.

Pantaslah jika ia dijuluki sebagai, “Dzu an-Nuur” yaitu yang memiliki cahaya. Ya, cahayanya mampu menyinari kegelapan-kegelapan jahiliah yang ada pada lingkungannya. Pantas pula jika keduanya dijuluki, “as-Syahid bin as-Syahid”. Ia lulus mengamalkan ayat: quu anfusakum wa ahlikum naaran (peliharalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka).

Contoh lain yang tidak kalah menarik adalah Usaid bin Khudair dan Sa’ad bin Mu’ad. Awalnya keduanya memusuhi Islam. Berkat hidayah Allah, melalui “tangan dingin” dakwah Mush’ab bin Umair dibantu As’ad bin Zurarah akhirnya kedua tokoh tersebut memeluk Islam. Menariknya, nikmat Islam yang didapat tidak dirasakan sendiri, satu sukunya pun diajak memeluknya. Al-Hamdulillah hampir seluruhnya masuk Islam kecuali satu orang yang pada akhirnya juga masuk Islam.

Abu Dzar al-Ghifari juga tidak kalah menarik. Meski kampung halamannya dikenal sebagai tukang rampok, namun semenjak hatinya diberi hidayah Allah masuk memeluk Islam, beliau berazam agar seluruh penduduk Ghifar juga masuk Islam. Al-Hamdulillah, di kemudian hari mereka juga masuk Islam semuanya.

Kebaikan yang ditularkan secara sosial akan membentuk energi positif yang begitu besar. Energi ini pada gilirannya akan mampu membuat perubahan-perubahan sosial. Namun jika kebaikan itu mandek, berhenti pada diri sendiri maka tidak akan mempunyai dampak perubahan. Kebaikan semacam ini akan terbawa arus kejelekan yang dominan. Kebaikan semacam ini tak mampu mewarnai, malah diwarnai. Kebaikan semacam ini laksana air yang menggenang.

Semakin lama air menggenang, akan menimbulkan bau tak sedap. Maka jangan heran kalau ada kasus di mana kebaikan malah berdampak negatif secara sosial. Ini bisa timbul ketika orang merasa baik secara pribadi, kemudian acuh tak acuh dengan kepentingan sosial. Waktunya kerja bakti sosial, ia malah mengaji di mushallah; waktu ada orang membutuhkan bantuan, ia malah asyik bermunajat pada Tuhan.

Dengan demikian, kebaikan harus dialirkan, supaya tetap segar dan mampu memberikan manfaat sosial. Jika kebaikan dianggap sebagai “virus positif” maka ia harus ditularkan. Semoga kita termasuk bagian dari produsen kebaikan, dan membuat orang lain bukan hanya sebagai konsumen kebaikan, tapi juga turut menjadi produsen kebaikan. Wallahu a’lam.

Sebarkan Kebaikan!