Meningkatkan Level Puasa

ABU Hamid Al-Ghazali (450-505 H/1058-1111 M) dalam Ihyâ Ulûmiddîn (I/234) menyebutkan ada tiga tingkatan puasa. Pertama, puasa orang awam. Puasa, khusus (istimewa). Ketiga, super khusus.

Puasa orang awam adalah puasa dalam level menahan diri dari syahwat perut, kemaluan, dan pemenuhan hawa nafsu. Sedangkan puasa khusus adalah mengontrol pendengaran, pengelihatan, lisan, tangan, kaki dan seluruh anggota tubuh dari dosa-dosa. Adapun puasa super khusus adalah puasanya hati dari mencerna sesuatu yang rendah dan pikiran-pikiran duniawi serta mengendalikannya dari selain Allah secara total.

            Pada umumnya, orang masih berpuasa pada level pertama yang dalam Fikih didefinisikan sebagai: “Menahan diri -dengan niat beribadah- dari makan, minum, serta menggauli istri dan segala hal yang membatalkannya sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.” (Al-Jazâiri, Minhâju al-Muslim, 232).

Secara fikih memang orang yang sudah melakukan pengendalian yang bersifat jasmani tersebut, dianggap sah puasanya. Tapi bagaimana jika rohaninya tidak dikendalikan, sehingga dengan mudahnya mengejek, merendahkan, menghinakan orang lain dengan perkataan-perkataan yang menyakitkan?

Di sinilah kita akan memahami sabda nabi berikut yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah tidak mempunyai sebuah keperluan pun untuk meninggalkan makan dan minumnya”. (HR. Bukhari).

Boleh secara jasmani seorang muslim sudah puasa dan gugur kewajibannya di bulan Ramadhan, tapi akibat tidak bisa mengendalikan diri secara rohani, maka dengan enteng berkata dan beramal dusta sehingga Allah tidak butuh puasanya.

Bagaimana mau diterima Allah, untuk hal yang sebelum Ramadhan halal (makan, minum, berhubungan intim dengan istri) bisa ditahan, sedangkan hal yang jelas haram (berkata dan beramal dusta) malah tetap dilakukan? Ini membuktikan, puasa bukan saja persoalan jasmani, tapi sekaligus rohani.

Pada riwayat lain, ada sindiran nabi yang begitu tajam bagi orang yang hanya mencukupkan diri pada puasa jasmani:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Thabrani). Puasa jenis demikian, anak kecil tingkat SD juga kuat.

Dalam bait syair Arab ada ungkapan:

 

 

 

 

 

Tidaklah (bernilai) puasa orang yang menahan diri dari lapar

            Sedangkan (pada saat bersamaan) ia tunduk pada dosa dan syahwat

Orang yang berpuasa hanya karena menahan lapar

            Maka sungguh hanya kerugian dan penyesalan yang akan didapat

Hafidz Zainuddin Abdurrahman bin Rajab mendapat cerita dari Hafidz Musa al-Madini, “Sebagian ulama salaf menganggap bahwa puasa yang paling ringan adalah meninggalkan minum dan makan.” Sedangkan Jabir RA berkata, “Jika kamu puasa, maka puasakan juga pendengaran, pengeliahatan, dan lisanmu dari kedustaan dan yang diharamkan. Di samping itu, jangan mengganggu tetangga. Ketika berpuasa hendaklah bersikap tenang, takzim. Jangan sampai hari puasamu sama dengan hari ketika tidak berpuasa.” (Hasan Masyâth, 1392: 44-45).

Hafidz Zainuddin Abdurrahman bin Rajab mendapat cerita dari Hafidz Musa al-Madini, “Sebagian ulama salaf menganggap bahwa puasa yang paling ringan adalah meninggalkan minum dan makan.”

Maka dari itu, jika ingin puasa berkualitas, puasa pada level jasmani harus ditingkatkan ke level rohani (khusus apalagi super khusus). Artinya, berpuasa bukan lagi mengendalikan diri dari urusan perut atau di bawah perut, tapi lebih dari itu adalah pengendalian diri secara total lahir batin.

*Abu Kafillah

Sebarkan Kebaikan!