Tadabbur

Tadabbur Al-Qur’an I Mengungkap Rahasia Kehidupan Jin

Seandainya kita benar-benar yakin setiap informasi al-Qur’an dan al-Hadits benar adanya, maka seharusnya hidup kita tidak seperti ini, yang seringkali dipenuhi keraguan dan kecemasan bahkan seringkali kesedihan dan ketakutan.

Seandainya kita betul sudah yakin tentang informasi al-Qur’an, khususnya yang terkait dengan Allah dan kekuasannya, meskinya hidup kita dipenuhi oleh semangat yang tinggi, optimisme untuk melakukan apa saja dengan penuh keberanian. Karena kita yakin Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu.

وَأَنَّا مِنَّا الصَّالِحُونَ وَمِنَّا دُونَ ذَٰلِكَ ۖ كُنَّا طَرَائِقَ قِدَدًا

“Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang shaleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.” (QS. Al-Jinn: 11)

Ayat ini menginformasikan bahwa jin itu menempuh jalan yang berbeda-beda. Sama halnya dengan manusia, ada yang beriman dan ada pula yang memilih jalan sesat.

Dalam Tafsir Jalalain dijelaskan bahwa bangsa jin itu ada yang shaleh dan ada pula yang tidak shaleh. Bangsa jin juga terdiri dari golongan yang berbeda-beda dalam mengambil jalan hidup, ada yang memilih untuk beriman dan ada juga yang memilih untuk kafir.

Ada yang menarik dari sisi bahasa, yaitu kata tharaaiqa (طَرَائِقَ). ( طَرَائِقَ) ini adalah jamak dari kata Thariq (طَريق). Kata ini pun seharusnya jamaknya thuruqun (طَرق) artinya jalanan, tetapi dalam ayat ini dipakai kata (طَرَائِقَ). Jalan dalam bahasa Indonesia berarti jalanan yang sering dilalui oleh manusia, baik itu jalan kecil, jalan raya, dan jalan setapak. Dalam ayat ini, kata jalan tidak mesti menunjukkan jalan yang dipakai oleh manusia untuk berjalan dan mengendarai kendaraan tapi lebih kepada jalan hidup. Artinya, kondisi, mazhab, aliran, dan makna yang serupa dengan itu. Sehingga jin juga mempunyai banyak aliran sama halnya dengan manusia.

Kata qidadan (قِدَدًا) berasal dari kata quddatun (ةِقِدَ). Artinya sebuah kelompok yang berbeda tempat air minumnya dan kecenderungan hawa nafsunya. Di timur tengah pengelompokan berdasarkan tempat air minum mempengaruhi budaya mereka. Salah satu contohnya adalah pembagian kelompok tempat air minum Bani Israil pada zaman Nabi Musa ‘Alaihis Salam.

Jika diaktualisasikan pada masa kini, penyebab utama terjadinya perpecahan di antara umat muslim adalah mereka tidak melihat saudaranya dari sudut pandang Laa Ilaha Illallah Muhammadun Rasulullah. Umat ini masih cenderung melihat saudaranya dengan melihat aspek alirannya, misalnya melihat apakah dia salafi, NU, Muhammadiyah, dan kelompok lainnya. Inilah yang menjadi penyebab utama terjadinya perpecahan di antara umat Islam. Dalam bahasa agamanya adalah tashnif. Jika ingin bersatu maka kita terlebih dahulu membuang sekat-sekat itu.

وَأَنَّا ظَنَنَّا أَنْ لَنْ نُعْجِزَ اللَّهَ فِي الْأَرْضِ وَلَنْ نُعْجِزَهُ هَرَبًا

“Dan sesungguhnya kami mengetahui bahwa kami sekali-kali tidak akan dapat melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di muka bumi dan sekali-kali tidak (pula) dapat melepaskan diri (daripada)Nya dengan lari.” (QS. Al-Jinn: 12)

Kata dzananna (ظَنَنَّا) sebenarnya berarti perkiraan kuat, tapi di sini diartikan kami mengetahui. Statemen bangsa jin dalam ayat ini sangat jelas, yaitu sekali-kali tidak (pula) dapat melepaskan diri (daripada)Nya dengan lari. (نُعْجِز) atau mukjizat, berarti sesuatu yang tidak mungkin bisa dikerjakan oleh siapapun karena ini menjadi salah satu tanda kenabian. Tetapi dalam ayat ini bermakna bahwa kuasa Allah Subhanahu wa Ta’aala tidak akan pernah bisa dihadapi oleh jin dan manusia. pengakuan ini diakui oleh bangsa jin, bahwa mereka tidak akan bisa menghadapi kekuasaan Allah.

Ada dua poin penting dari ayat ini, yaitu:

  1. Jin sangat sadar bahwa mereka tidak bisa lepas dari kekuasaan Allah di muka bumi
  2. Jin juga tidak akan pernah bisa melepaskan diri dengan berlari

Dua poin ini mengisyaratkan bahwa sangat bodoh orang yang mencari kekuatan dan perlindungan dari jin kemudian melepaskan perlindungan dari Allah Subhanahu wa Ta’aala. Dalam ayat ini juga jin menjelaskan kelemahan mutlaknya di hadapan kekuasaan Allah sekaligus penegasan absolutnya bahwa Allah itu Maha Kuasa terhadap semua hamba-Nya.

Hal ini sengaja dijelaskan karena manusia itu bisa saja takjub dan kagum ketika berhadapan dengan jin hebat. Boleh jadi manusia ketika melihat kehebatan jin akan menghamba padanya, minimal meminta perlindungan dan pertolongan kepada mereka. Bisanya, dalam keadaan kondisi kepepet dan sakit parah manusia akan meminta pertolongan kepada jin. Pada awalnya hanya mencari jalan alternatif dengan mendatangi dukun, padahal para dukun itu sendiri mempunyai jin yang dijadikan partner dalam kemusyrikan. Pada kondisi seperti inilah kadang manusia pindah tuhan.

Kata fil ardhi (فِي الْأَرْضِ) menunjukkan bahwa di semua sudut bumi tidak ada tempat yang kosong dari pengamatan dan kendali Allah yang dirasakan oleh jin. Sehingga dia tidak akan pernah terlepas dari qadha dan qadhar-Nya. Apa pun yang akan terjadi, semua di bawah kendali Allah dan jin sangat meyakini hal itu. Lalu, manusia?

Apa pun yang kita lakukan di suatu tempat pasti sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah. Sesuatu yang bisa dinikmati dari dunia ini hanya apa yang ditetapkan dan sesuai dengan takaran-Nya. Sehingga jin itu menegaskan di akhir ayat bahwa mereka tidak akan bisa melepaskan diri dari padanya, apakah itu lari dari bumi menuju ke langit. Ada yang menafsirkan kata haraban (هَرَبًا) bahwa ketika jin itu jika kabur, maka larinya ke langit.

Siapa pun itu pasti dia tidak akan terlepas dari hukum Allah Subhanahu wa Ta’aala, karena pasti akan berhadapan dengan qadha’ dan qadar-Nya. Jika berusaha lari dari ketetapan Allah maka sama saja keluar dari mulut harimau masuk ke mulut serigala. Sebab tidak ada yang bisa lari dari ketetapan-Nya.

Secara garis besar ayat ini menjelaskan kelemahan mutlak jin di hadapan kekuasaan Allah, baik di tingkat makro maupun di tingkat mikro atau baik di bumi maupun di langit.

وَأَنَّا لَمَّا سَمِعْنَا الْهُدَىٰ آمَنَّا بِهِ ۖ فَمَنْ يُؤْمِنْ بِرَبِّهِ فَلَا يَخَافُ بَخْسًا وَلَا رَهَقًا

“Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Al Quran), kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan.” (QS. Al-Jinn: 13)

Ayat ini berisi tentang nasehat dari jin yang telah beriman untuk manusia. Orang yang telah takut kepada Rabbnya, maka dia tak akan pernah takut terhadap penambahan dosa atau pengurangan pahala.

Terkadang manusia itu resah karena memikirkan jika pahalanya dikurangi atau dosanya ditambah. Orang beriman itu selalu memikirkan perihal perbuatannya apakah bernilai di sisi Allah sehingga bisa menjadi hujjah di akhirat kelak. Misalnya, ketika menuju tempat shalat ia akan takut jika pakaiannya itu bernajis sehingga berdampak pada ditolaknya shalat itu. Maka orang yang takut kepada Allah akan memperhatikan secara teliti keadaannya jika ingin menghadap Tuhannya. Lalu apa hubungannya pahala dan dosa dengan hudan (الْهُدَى?

Dalam kitab tafsir disebutkan bahwa para jin itu setelah mendengarkan petunjuk Al-Qur’an yang dibacakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam langsung beriman tanpa ragu dan tanpa menunda-nunda serta tidak ada keraguan sedikit pun. Penyakit manusia, terkadang harus menganalisis informasi dari Al-Qur’an sehingga pada akhirnya tidak beriman pada Al-Qur’an tapi beriman kepada akalnya. *Tadabbur Selasa Pagi di Masjid Raya Pondok Indah, Jakarta Selatan, 24 Oktober 2017

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close