Artikel
Trending

Mengokohkan Ideologi Pancasila dengan Islam

PANCASILA yang menjadi dasar Negara Indonesia mempunyai nilai-nilai keseimbangan hukum antara nilai ketuhanan dan nilai kemanusiaan. Pancasila menjadi ideologi Negara yang universal dan komperhensif yang memuat relasi hablumminallah, hablumminnannas, dan hablum minal alam  untuk mencapat tujuan rahmatan lil alamiin.  

Akan tetapi, cita-cita mulia para pendiri bangsa yang merumuskan lima sila pancasila ini akan terwujud jika umat Islam menjadi yang terdepan mengokohkan ideologi tersebut. Dalam Qur’an, terdapat tiga prinsip yang bisa dijadikan dasar oleh umat Islam dalam mengemban amanah tersebut. Allah swt. berfirman,

قُلْ يَٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَآءٍۭ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِۦ شَيْـًٔا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَقُولُوا۟ ٱشْهَدُوا۟ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

“Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS. Ali Imran: 64).

Tiga prinsip meneguhkan ideology pancasila tersebut adalah; pertama, “bahwa tidak kita sembah kecuali Allah”. Jika kita melihat konteks ayat, maka umat Islam punya kewajiban untuk mengajak para ahlul kitab untuk mengakui bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Swt..

Tentu dalam berdakwah kepada orang yang berlain keyakinan harus dengan cara-cara yang ma’ruf, tidak memaksakan, karena hanya Allah-lah yang bisa memberikan hidayah kepada seorang hamba.

Kedua, menolak kemusyrikan. Kesepakatan harus dibangun untuk tidak menyekutukan Allah Swt. dengan sesuatu apapun. Tidak ada anak tuhan, tidak ada bapak tuhan, dan tidak tuhan-tuhan selain Tuhan Allah Swt.

Ketiga, tidak menjadikan sesame manusia sebagai sesembahan. Saat itu, orang-orang yahudi dan nasrani di zaman Rasul protes, menurut mereka, “Kami tidak menyembah pendeta kami, kami tidak pernah menyembah rahib-rahib kami,” ungkap mereka.

Yang dimaksud menyembah sesame mahluk adalah ketika menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah Swt., demikian juga sebaliknya, ketika mengharamkan apa yang dihalalkan olehNya. Dalam keadaan seperti itulah, manusia menyembah sesamanya manusia.

Penyakit yang dekat dengan ini adalah fanatisme. Orang yang fanatik kepada golongan tertentu atau bahkan tokoh tertentu, sangat mudah terjerumus ke dalam penyakit ini. *Ditulis dari tausiah Ustadz Bachtiar Nasir.

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close