Menghayati Maulid Nabi

 

SEBELUM kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kondisi dunia begitu bobrok. Dalam riwayat Imam Muslim, ada informasi terkait kondisi seluruh penduduk bumi kala itu:

 

إِنَّ اللَّهَ نَظَرَ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ فَمَقَتَهُمْ عَرَبَهُمْ وَعَجَمَهُمْ إِلَّا بَقَايَا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ

 

Sesungguhnya Allah melihat penduduk bumi, Dia sangat membenci mereka, baik bangsa Arab maupun non-Arab  kecuali orang-orang dari Ahlul Kitab (yang masih berpegang-teguh dengan agama mereka yang murni)”  Kata “sangat membenci” menunjukkan bahwa perilaku mereka sudah begitu rusak dalam pandangan Allah subhanahu wata’ala.

Abu Hasan An-Nadawi dalam buku Mâdzâ Khasira al-‘Âlâm bi Inkhithâti al-Muslimîn (1945: 32-91) menjelaskan dengan cukup gamblang kondisi dunia sebelum kelahiran Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam pada saat itu. Kondisi Yahudi, Nashrani, Mesir, Habasyah, India, China, Persia, Romawi, serta Arab pada saat itu begitu rusak parah. Sehingga, kedatangan sosok agung yang bisa membuat perubahan besar sampai pada akar-akarnya begitu mendesak.

Pada puncak kegelapan inilah lahir sosok manusia pilihan yang bakal menjadi Nabi. Al-Qur`an menggambarkan: “untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi” (QS. Al-Ahzab [33]: 46) Sangat indah sekali ungkapan Al-Qur`an. Beliau diibaratkan sebagai sirājan munīrān (cahaya yang menerangi). Pada ayat lain dikatakan: “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan.” (QS. Al-Ma`idah [5]: 15) Al-Âlûsi dalam tafsirnya Rûh al-Ma’âni (1415: IX/358) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan cahaya dalam ayat ini adalah Nabi Muhammad SAW.

Uniknya, informasi kelahiran Nabi Muhammad shallallâhu `alaihi wasallam sudah diberitahukan Allah subhanahu wata’ala sejak lama, sebelum kelahirannya. Karenanya, tidak mengherankan jika dalam Surah Ali Imran [3] ayat 81, disebutkan bahwa seluruh nabi disumpah Allah subhanahu wata’ala agar mereka mengimani dan menolong saat berjumpa dengan beliau, meski mereka belum berjumpa. Tidak mengherankan jika dalam kitab-kitab yang masih belum terdistorsi seperti Taurat dan Injil, terdapat berita mengenai hal ini. Bahkan, ketika nabi ditanya oleh Maisarah al-Fajr, “Kapan kamu ditetapkan sebagai nabi?” Beliau pun menjawab, “sedang Adam masih di antara ruh dan jasadnya.” (HR. Ahmad) Artinya, kenabian (otomatis kelahiran) beliau, sudah ditetapkan sejak Nabi Adam ‘alahis salam diciptakan.

Kelahiran beliau ditandai dengan peristiwa-peristiwa besar. Shafiyyur Rahmân Mubârakfûri dalam al-Rahîq al-Makhtûm (1427: 7) mencatat peristiwa-peristiwa ketika Nabi Muhammad SAW lahir, di antaranya: keluarnya cahaya dari rahim ibu nabi yang menyinari istana-istana Syam; empat belas tiang bangunan Kisra Persia runtuh; padamnya api yang disembah orang majusi; runtuhnya gereja-gereja di sekitar daerah Bahirah. Bahkan –menurut catatan  Muhammad bin Yusuf Shalihi dalam Subul al-Huda wa al-Rasyâd (1414: I/350)- Iblis pun berduka cita saat kelahiran beliau.

Dalam catatan sejarah terbukti, keberadaan beliau di kemudian hari benar-benar menerangi kegelapan manusia yang sedang di ambang kehancuran. Dari sini bisa dikatakan, kelahiran nabi merupakan simbol dimulainya fajar kebangkitan. Kebangkitan manusia dari masa jahiliyah menuju Islam; dari kebatilan menuju yang haq; dari kegelapan menuju cahaya; dari kezaliman menuju keadilan.

Apa yang digariskan Allah ta`âla pun terjadi. Dalam waktu yang relatif singkat, dua puluh tiga tahun –selama menjadi nabi dan rasul-, beliau mampu mengubah penduduk Arab yang sebelumnya masih kaum penyembah pagan, menjadi orang-rang yang beriman. Tak hanya itu, tiga puluh tahun sesudahnya, Islam sudah menyebar luar ke penjuru dunia. Dua peradaban besar Romawi dan Persia pun, tak kuasa menghadapi derasnya cahaya yang melebur kelam, hingga mereka ‘tunduk’ pada agama Islam.

Mengingat besarnya peristiwa hari kelahiran Nabi, maka dalam sejarah muncullah peringatan “Maulid Nabi”. Ada yang mengatakan bahwa maulid pertama kali dirayakan sejak era Dinasti Syi’ah Fathimiyah pada era kepemimpinan Abu Tamim (Mu’iz Li Dinillah). Pendapat lain menyatakan sejak masa Abu Sa’id Mudhzaffar Kukaburi, Gubernur Irbil di wilayah Irak. Ada juga yang berpendapat semenjak zaman Shalahuddin Al-Ayyubi untuk menggiatkan semangat jihad umat Islam saat menghadapi Perang Salib (Waskito, 2014: 23-24)

Menurut Waskito dalam buku Pro dan Kontra Maulid Nabi (2014: 26) ketiga sumber sejarah itu bisa dikompromikan. Mula-mula perayaan maulid dilakukan di zaman Dinasti Fathimiyah sebagai trik untuk merebut hati umat Islam Sunni. Selanjutnya digunakan Shalahuddin –sebagai pendekatan kultural- untuk menggalakkan semangat jihad. Lalu ditiru oleh sejawatnya, Abu Sa’id Mudzaffar Kukaburi dengan mengundang para ulama, ahli ilmu, ahli tashawuf, dan rakyatnya.

            Terlepas dari pro dan kontra mengenainya, ada fakta yang tidak bisa terbantahkan: perayaan maulid ini sudah dijalankan umat Islam selama berabad-abad di hampir seluruh negara muslim dengan tata cara yang berbeda-beda.  Hanya saja, baik bagi yang terbiasa memperingatinya maupun tidak, ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan dari Maulid Nabi.

            Pertama, besyukur kepada Allah yang telah menjadikan Muhammad sebagai nabi teladan umat. Nabi sendiri, dalam suatu hadits (seperti riwayat: Muslim dan Tirmidzi) bersyukur atas hari kelahirannya dengan puasa Senin-Kamis.

Kedua, tak hanya berhenti pada peringatan simbolis dan formalitas belaka. Ketiga, menghayati sejarahnya secara mendalam, sehingga nilai-nilai dalam kehidupan beliau bisa diambil dan diteladani dalam kehidupan sehari-hari.”

Pertanyaannya sekarang ialah: “Dalam momentum perayaan maulid, sudahkah kita menghayati dan meneladai Nabi?” yang oleh sastrawan masyhur Jerman, Johann Wolfgang Goethe digambarkan: “Aku meneliti teladan ideal bagi manusia dalam sejarah, lalu aku temukan teladan ideal itu pada Nabi Muhammad” (al-Rahmah fī Hayāti al-Rasūl, Rāghib al-Sirjāni, hal. 421).

*Amoe Hirata

Sebarkan Kebaikan!