Menghadapi Perbedaan Secara Elegan

KٍِASUS pengusiran salah seorang ustadz yang distereotipkan “wahabi” di Sidoarja oleh golongan ormas tertentu beberapa hari lalu (baca: http://www.panjimas.com/news/2017/03/04/pengajian-manajemen-rumah-tangga-islami-dibubar-paksa-pemuda-ansor-ulama-diusir/) patut disayangkan. Pasalnya, wewenang pengusiran seharusnya bukan di tangan massa, tapi pada pihak yang diberi kuasa. Ke depan, hal ini tentu saja bisa menjadi preseden buruk bagi otoritas aparat berwenang, sekaligus mengancam persatuan umat Islam.

Seyogianya, pemikiran yang berbeda dihadapi dengan pemikiran juga. Istilahnya meminjam bahasa Arab, al-Dalil bi al-dalil wal al-hujjah bi al-hujjah (dalil dengan dalil, dan argumentasi dengan argumentasi). Inilah yang dimaksud dengan menghadapi perbedaan secara elegan. Bila pemikiran dihadapi dengan kekerasan fisik (seperti: pengusiaran), tentu akan menyulut konflik internal yang lebih besar.

            Di zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam konflik mengenai hukum furu’iyyah (parsial, cabang) memang pernah terjadi. Namun, bisa disikapi dengan sangat baik dan bijaksana. Peristiwa seperti perbedaan pendapat mengenai pelaksanaan perintah shalat Ashar di Bani Quraidza (HR. Bukhari, Muslim) Amru bin Ash’ yang tayamum ketika junub meski ada air, dan tata cara tayammum seperti yang dilakukan Ammar bin Yasir dengan berguling-guling di tanah, adalah di antara contoh kecil perbedaan di masa nabi dan bisa diselesaikan secara baik.

Dalam masalah ushul (pokok, fundamental) pun, jika itu berkaitan dengan pemikiran menyimpang dari agama lain, beliau menghadapinya dengan pemikiran juga. Koreksi serta kritik al-Qur`an terhadap keyakinan dan pemikiran menyimpang agama-agama sebelumnya (seperti: Yahudi dan Nashrani) adalah contoh riil bahwa pemikiran harus dihadapi dengan pemikiran, bukan kekerasan.

Media-media propoganda yang melancarkan serangan pemikiran melalui sya’ir pun, dihadapi nabi dengan menyiapkan penyair-penyair andal. Penyair kenamaan seperti Abdullah bin Rawahah, Ka’ab bin Malik dan Hassan bin Tsabit radhiyallahu ‘anhum adalah salah satu bentuk konkret upaya nabi dalam menghadapi derasnya serangan arus pemikiran.

Dalam lembar perjalanan sejarah umat Islam, bisa dibaca, telah lahir banyak buku pro dan kontra dalam internal umat Islam. Namun, uniknya, konsep dibalas dengan konsep; buku dibalas dengan buku; pemikiran dibalas dengan pemikiran. Ketika hal itu bisa dijaga dengan baik, insyaallah stabilitas keamanan masih bisa dikondisikan.

            Lain halnya jika pemikiran dihadapi dengan kekerasan. Di samping tidak menyelesaikan masalah, justru akan melahirkan anti pati dikalangan masyarakat. Bahkan, akan membuat yang diperlakukan dengan keras semakin tenar. Saat dakwah Abdullah bin Tsamir (Ibnu Hisyam, 1955: I, 35) dihadapi dengan cara kekerasan (sampai merenggut nyawanya) oleh Raja Najran, justru membuat penduduk Najran mengikuti Abdullah bin Tsamir.

Demikian juga kisah penyiksaan Imam Ahmad bin Hanbal di masa Ma’mun akibat tidak setuju dengan pemikiran Mu’tazilah mengenai kemakhlukan al-Qur`an (Ibnu Atsir, 1417 H: V, 572), menjadi bukti nyata bahwa kekerasan tidak akan pernah bisa menjadi solusi dalam menyikapi perbedaan pemikiran. Justru ketika pemikiran dihadapi dengan kekerasan, yang ada membuatnya semakin kuat dan tersohor.

Konflik pemikiran keagamaan, utamanya mengenai ikhtilaf furu’iyah sebelum kemerdekaan Indonesia sudah biasa terjadi. Namun, tidak dihadapi dengan cara-cara kekerasan. Pada masa itu, perdebatan mengenai taqlid, pelafalan ushalli sebelum shalat, qunut Shubuh, kafa’ah (kesetaraan) dan lain sebagainya biasa terjadi. Tak jarang mereka saling adu argumen di media massa. Bahkan, perdebatan secara terbuka acap kali digelar, untuk mengatasi konflik.

Sebagai contoh, pada 15 November 1935, di Bandung terjadi debat menarik antara NO (Nahdhatul Oelama) yang mewajibkan taklid dengan Persis (Persatuan Islam) yang mengharamkan taklid. Waktu itu, KH. Abdul Wahab mewaki NO. Sedangkan Persis, diwakili oleh A. Hassan.

Singkat cerita, perdebatan berlangsung aman dan tidak ada kekerasan sama sekali di dalamnya. Hal ini tercatat dengan baik dalam Majalah Al-Lisan, “Masing-masing berpisah dengan tjara persaudaraan jang baik. Mudah-mudahan tjara jang begini didjadikan tjontoh buat lain kali di sini dan di tempat-tempat lain,” (baca: Madjalah Al-Lisaan edisi “Extra Debat Taqlid” tahun 1935). Kisah ini juga disinggung sedikit oleh Federspiel dalam Persatuan Islam Islamic Reform in Twentieth Century Indonesia (2009: 71).

            Lebih jauh dari itu, konflik kebangsaan antara kaum nasionalis dan Islam, juga patut dijadikan teladan. Mereka menghadapi perbedaan pemikiran, juga dengan pemikiran. Meski mereka berkonflik secara tajam di media massa, sebagaimana polemik yang terjadi antara  M. Natsir, A. Hasan dengan Soekarno mengenai Islam dan kebangsaan, mereka tetap menjaga hubungan baik. Bahkan, ketika  Soekarno dipenjara di Sukamiskin, A. Hassan bersama sahabat-sahabatnya membesuk Soekarno (Tamar Djaja, 1980: 42). Demikian juga Soekarno, saat A. Hassan dirawat di rumah sakit Malang, beliau mengirim uang untuk pengobatan A. Hassan (Dadan Wildan, 1997: 44).

Kisah Buya Hamka pun juga tidak kalah menarik untuk diteladani. Meski terjadi konflik yang tajam dengan Soekarno, Yamin, dan Pramoedya, beliau hadapi dengan biasa tanpa ada dendam sedikit pun (Irfan, 2016: 253). Saat Soekarno meninggal, beliau jadi imam shalat jenazahnya (Irfan, 2016: 255); ketika Yamin wafat, beliau menemaninya hingga dimakamkan di kampung halaman (Irfan, 2016: 258); saat Pramoedya mengirim anak perempuan dan calon menantunya kepada Hamka, keduanya diterima dengan sangat baik (Irfan Hamka, 2016: 263) Mereka menghadapi perbedaan pemikiran secara elegan, dan di luar itu tidak menyimpan dendam, bahkan memaafkan.

Dari berbagai ulasan cerita di atas, seharusnya tidak ada lagi kejadian-kejadian kekerasan lagi. Mengatasi perbedaan dengan cara pengusiran sangat tidak elok. Cara terbaik untuk menghadapi perbedaan pemikiran secara elegan, tentu juga dengan pemikiran juga, tanpa harus menyimpan dendam. Semoga cara-cara yang dilakukan ulama dan tokoh-tokoh Islam terdahulu bisa diteladani. Sehingga, persatuan dan kesatuan umat Islam bisa terjaga. Wallahu a’lam.

Sebarkan Kebaikan!