ArtikelTausiyah

Menggapai Manisnya Iman di Bulan Ramadhan

SUNGGUH manusia itu merugi, seperti yang Alloh Ta’ala sebutkan dalam surat Al-‘Ashr dengan bersumpah dengan waktu ashar. Karena, banyak diantara kita yang menghabiskan waktu, dengan perbuatan yang sia-sia, tak ada manfaatnya.

Ayat itu juga mengingatkan kita, untuk tidak merugi ketika menjalankan hari-hari di bulan Ramadhan ini, terutama saat menginjak 10 malam terakhir ini.

Jika saja, Allah panjangkan umur kita, mungkin lebih dari 60 tahun. Mungkin amal baik kita tak sebanding dengan dosa-dosa kita. Jika dibandingkan dengan umat-umat terdahulu , seperti Nabi Nuh yang berusia 950 tahun. Alangkah pendeknya usia umat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, yang sekitar 60-70 tahun. Sungguh tak sebanding.

Namun, Allah suguhi kita dengan nikmat yang sangat besar, yaitu Puasa Ramadhan. Semua amal ibadah kita, Allah lipatgandakan.  Apalagi, di 10 malam terakhir ini, Allah jamu kita dengan Lailatul Qodr, yang nilainya satu malam lebih dari seribu bulan. Cukuplah hanya satu malam mulia itu, lailatul qadr, kita mampu menggapai pahala ibadah, melebihi rata-rata usia kita.

Namun, sayangnya ada yang merugi ketika datang Ramadhan, justru tak mendapatkan apa-apa

عن أبي هريرة ، أن رسول الله

 صلى الله عليه وسلم رقي المنبر فقال : آمين ، آمين ، آمين ، فقيل له : يا رسول الله ، ما كنت تصنع هذا فقال : قال لي جبريل : أرغم الله أنف عبد – أو بعد – دخل رمضان فلم يغفر له ، فقلت : آمين ، ثم قال : رغم أنف عبد – أو بعد – أدرك والديه أو أحدهما لم يدخله الجنة ، فقلت : آمين ، ثم قال : رغم أنف عبد – أو بعد – ذكرت عنده فلم يصل عليك ، فقلت : آمين

 

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam naik mimbar lalu beliau mengucapkan, “Aamiin… aamiin… aamiin.” Maka ditanyakan kepada beliau, “Mengapa engkau berkata demikian, wahai Rasulullah?” Kemudian, beliau bersabda, “Baru saja Jibril berkata kepadaku, ‘Allah melaknat seorang hamba yang berjumpa Ramadan namun tidak mendapatkan ampunan,’ maka kukatakan, ‘Amin.’ Kemudian, Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya masih hidup, namun itu tidak membuatnya masuk surga,’ maka aku berkata, ‘Amin.’ Kemudian, Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang ketika namamu disebut, ia tidak bershalawat,’ maka kukatakan, ‘Amin.’” (HR. Ibnu Khuzaimah)

Ramadhan adalah berkah sekaligus ujian. Puasa bagi orang munafik sangat berat untuk dilaksanakan. Tapi bagi orang beriman, ramadhan adalah nikmat terbesar semasa hidupnya. Allah Ta’ala berfirman,

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS. al-Baqarah: 183).

Kata kutiba adalah kosakata dalam al-Qur’an yang secara khusus dipakai untuk perintah yang berat dilaksanakan. Dalam ayat ini juga hanya orang beriman yang diseur oleh Allah. Artinya hanya orang yang berbekal iman yang mampu menikmati ujian shiam (puasa).

Nikmat secara teori syahwat hanya berkisar seputar perut dan kemaluan. Sedangkan iman adalah menahan diri dari yang dibolehkan. Manisnya iman hanya akan dirasakan oleh mempunyai iman dalam hatinya. Keindahan ini pula yang akan di dapatkan di surga. Bukan nikmat dalam definisi syahwat, tapi nikmat dalam definisi iman.

Nikmat yang sesungguhnya jika mampu menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih kita cintai dari diri sendiri. Membunuh keinginan untuk menjalankan perintah Allah Ta’ala. Memprioritaskan perintah Allh dari nafsu syahwat. Hanya orang berpuasa dengan iman yang mampu menikmati kebahagian saat berbuka dan berjumpa dengan Allah. Sangat berbeda dengan orang yang berpuasa syahwat, saat sore tiba yang ada dalam fikirannya hanya makanan.

Madrasah ramadhan ini seharusnya membawa kita ke derajat takwa. Ini adalah bulan yang paling indah bagi orang yang mempunyai daya rasa yang indah. Orang yang mempunyai daya rasa indah itu,qalbunya bertengger di arasy ar-Rahman dan tidak terpengaruh dengan gravitasi bumi. Dia bisa mendapatkan dunia tapi itu bukan pencapaian baginya. Pencapaian baginya adalah ketika “bertemu” dengan Allah Ta’ala.

Carilah kebahagiaan akhirat tetapi jangan lupa bagianmu di dunia. Inilah formulasi keluarga idaman dan ideal yang ditanamkan al-Qur`an bagi rumah tangganya: “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.” (QS. al-Qashash [28]: 77)

Formulasi di atas jangan dibalik, dengan artian mencari kebahagiaan dunia tetapi jangan lupa akhirat. Dari realitas kehidupan masa kini, kita mendapati sebagian besar keluarga lebih memperioritaskan dunianya dibanding akhiratnya.

Itulah sebabnya tidak sedikit keluarga yang berantakan karena formulasi dunianya didahulukan dan akhirat hanya pelengkap saja atau berada di urutan terakhir.

“وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا”

“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.” (QS. al-Qashash [28]: 77). *Ditulis dari tausiyah KH Bachtiar Nasir.

*Mohajer

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close