Mengenal Toleransi Shalahuddin Al-Ayyubi

SEJARAH tidak mengenal penaklukan yang lebih santun dari penaklukan kaum Muslimin. Shalahuddin menepati janjinya. Dia mempersilakan orang yang membayar tebusan untuk keluar. Dia telah menunjuk amir-amir untuk menyambut orang-orang yang akan keluar kota, dan menerima tebusan darinya, lalu mengizinkan mereka pergi.

Meskipun Shalahuddin menerapkan nilai tebusan rendah, sebagai imbalan atas mereka yang keluar dari Baitul Maqdis secara aman, tetap saja masih banyak yang tidak mampu membayar tebusan dirinya. Setelah 40 hari ditunggu, mereka belum juga membebaskan diri, jadilah mereka tawanan. Sedikit saia orang-orang kaya kaum salib yang membantu pembayaran tebusan itu.

Patrick Hiraklius keluar dari Baitul Maqdis dengan membawa simpanan besar, tanpa peduli nasib orang-orang kecil. Mungkin itulah penyebab hilangnya ikatan kekeluargaan dan kesatuan di antara sesama kaum salib pada waktu itu. Tawanan terdiri dari berbagai ras dan bangsa Eropa. Mereka umumnya adalah tentara-tentara amatir yang berkelana ke negeri Timur, untuk melepaskan diri dari perbudakan kaum feodal di Eropa di masa itu.

Sikap memalukan yang ditunjukkan oleh pembesar kaum salib, lalu sikap murah hati dan toleransi yang ditunjukkan Shalahuddin, telah memaksa penulis Inggris Lin Paul mengungkapkan kekagumannya kepada Shalahuddin. Setelah mencela Patrick, dia mengatakan: ”Waktu itu adalah kesempatan bagi penguasa Muslim untuk mengajari umat Kristen makna toleransi. Shalahuddin dan amir-amir Muslimin lainnya telah membuktikan kemurahan hati dan toleransi ketika ribuan masyarakat kaum salib yang tidak sanggup membayar tebusan yang telah ditetapkan untuk seorang tawanan ditangan Shalahuddin.

Raja ‘Adil memohon kepada saudaranya Sultan Shalahuddin untuk menghadiahkan kepadanya seribu orang dari kaum salib yang miskin tersebut untuk dibebaskan karena Allah. Shalahuddin mengabulkan permintaannya. Perlakuan manusiawi yang dilakukan oleh raja ‘Adil menggerakkan perasaan Patrick dan Balian. Keduanya menghadap Shalahuddin dan memohon untuk diberikan seperti itu juga. Shalahuddin mengabulkan permintaan keduanya, dilepaskanlah tawanan mereka. Kemudian Shalahuddin maju ke depan dan menyuruh pengawalnya untuk meneriakkan di jalan-jalan Baitul Maqdis, bahwa dia akan membebaskan seluruh kaum salib yang tidak sanggup membayar

Tebusan di pintu kota denganjumlah yang tak terhitung. Albert memohon untuk dibebaskan tawanan sebanyak 500 orang Armenia, karena mereka dari kampungnya dan datang ke Baitul Maqdis untuk beribadah (bukan untuk missi perang). Begitu juga dengan Muzhaffaruddin Ali Kujek, dia memohon dibebaskannya sebanyak 2.000 orang Armenia, dengan alasan mereka berasal dari Ruha. Shalahuddin pun mengabulkan permintaan itu dan membebaskan mereka. Toleransi ini tidak hanya pada perlakuan para pejabat saja, tetapi juga ditunjukkan oleh kaum Muslimin biasa.

Pada kenyataannya Shalahuddin telah menampakkan rasa toleransi dan akhlak mulia terhadap para tawanan kaum salib di Baitul Maqdis. Hal ini sangat tampak dari sikap penghormatan dan toleransi Shalahuddin kepada istri-istri dan anak-anak para ksatria salibis yang terbunuh atau tertawan dalam peperangan. Mereka berkumpul di hadapan Shalahudin sambil menangis. Shalahhuddin menanyakan kondisi mereka dan apa

yang mereka inginkan Kemudian dikatakan kepada Sultan: “wanita-wanita ltu minta belas kasihan .” Lalu Shulahuddin pun mengasihi, mempersilahkan bagi mereka untuk mencari suaminya yang masih hidup. lalu membebaskan mereka, mengizinkan mereka pergi kemana saja sesuai keinginan mereka. Adapun bagi wanita-wanita yang suami dan orangtuanya telah wafat, Shalahuddin memerintahkan untuk memberikan kepada mereka simpanan pribadinya sesuai dengan kehidupan dan tempat tinggal mereka; sehingga lidah wanita-wanita itu terus komat-kamit berdoa untuk kebaikan Shalahuddin.

Di antara orang-orang yang jelas mendapatkan kemurahan dan Sultan Al-Ayyubi adalah sebagai berikut:

Ratu Romawi sang pelayan tuhan. Dia adalah seorang Ratu Romawi, pelayan tuhan dan seorang pendeta; kerjanya menyembah salib yang dipajang. Dia haus terhadap ujian tuhan dan sangat fanatik dalam berpegang kepada agama. jiwanya melayang karena sedih, air matanya bercucuran seperti hujan. Dia mempunyai kedudukan, harta, perhiasan, dan para pengikut. Ketika Baitul Maqdis jatuh, dia minta perlindungan kepada Sultan. Sultan pun melindunginya, memberinya kelapangan, termasuk kepada para pengikutnya. Shalahuddin mengizinkan dia keluar dari kota, dengan seluruh harta dalam pundi-pundinya. Dia aman membawa perhiasan salib emas, berlian, barang-barang berharga, dll. Dia keluar dengan seluruh harta, kedudukan, dayang-dayangnya, para pengikutnya, dan peti-peti harta yang terkunci rapi, diiringi orang-orang di belakangnya.

Menghormati simbol-simbol Kristiani.

Shalahuddin menghormati simbol-simbol Kristiani, sesudah masuknya ke Baitul Maqdis. Sebagian ( Muslimin mengusulkan kepadanya untuk menghancurkan gereja Qiyamah dan peninggalan-peninggalannya. “Jika bangunan Kristiani diruntuhkan. Jadilah atapnya rata dengan tanah, kuburan (Yesus) digali, api yang menyala dipadamkan, lukisan-lukisan dihilangkan, bantuan penziarah akan terputus, maka habislah sudah tujuan ziarah ruhani penduduk neraka. Selama bangunan tetap utuh, penziarah akan selalu datang,” kata mereka. Sebagian lain menyarankan, agar bangunan-bangunan itu dibiarkan saja. Ketika Amirul Mukminin, Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu menaklukkan Al-Quds, beliau membiarkan tempat-tempat tersebut; Umar tidak menyuruh menghancurkan bangunan. Mereka mengusulkan, agar Shalahuddin bersikap toleran daripada menghancurkan.

Sebagian umat Kristiani memilih tinggal di Al-Quds.

Sebagian umat Kristiani memohon kepada Shalahuddin untuk diizinkan menetap di Kota Baitul Maqdis, setelah mereka membayar tebusan seperti yang telah ditetapkan untuk mereka. Mereka berjanji untuk tidak menganggu seorang pun dan akan ikut membangun kota. Shalahuddin menyetujuinya dan memberikan beberapa syarat yang harus mereka patuhi, Mereka membayar upeti, sebagai ahlu dzimmah, sehingga hak dan kewajiban mereka sama seperti kaum Muslimin. Begitulah toleransi agung kaum Muslimin ketika kota jatuh ke tangannya.

Berbeda dengan kaum Kristiani saat memasuki Baitul Maqdis, pada tahun 1099 M. Ketika itu Godfrey dan Condrad menebar kematian di jalanan, saat itu para pejuang Islam ditenggelamkan dan dibakar ke dalam lautan darah, genangan darah di jalan-jalan sampai setinggi mata kaki. Perampokan, penjarahan, dan penculikan marak dimana-mana. Lihatlah, betapa jauhnya perbedaan akhlak antara Shalahuddin dan para pemimpin salibis yang biadab itu. Shalahuddin berpegang pada toleransi dan Hukum Syariat yang luhur; sangat jauh dari pengaruh emosi dan hawa nafsu, ketika memperlakukan kaum salib yang telah melakukan kejahatan paling keji pada seabad sebelumnya.

James Reston berkata: “Begitulah perlakuan tentara Shalahuddin, perlakuan yang patut dicontoh dalam pendudukan Al-Quds tahun 1187 M. Kepribadian dan reputasi Shalahuddin sangat tersohor setelah membalas perlakuan kaum salib dalam perang pertama tahun 1099 M, ketika dia melindungi gereja Qiyamah dan banyak situs-situs Kristen lainnya. Semua orang akan teringat dengan toleransinya terhadap penganut agama lain dan situs-situs sejarah agama Kristen. Sepertinya perlakuan Shalahuddin merupakan tanda dan contoh bagaimana perilaku pemimpin yang adil. Karena sifat pemaafnya, berbagai kebaikan tabiatnya, dan tindakannya terhadap musuh; akan selalu dikenang sepanjang masa dengan kesantunan, toleransi, dan kebijaksanaan.”

(Ali Muhammad, 2013, hlm. 635)

Sebarkan Kebaikan!