SirahTadabbur
Trending

Mengenal Said Nursi, Tokoh Istimewa Abad Ini

Terlahir di era kemunduran Dinasti Turki Usmani, Badiuzzaman Said Nursi tumbuh dengan keberkahan. Ia lahir di Desa Nurs, Provinsi Bitlis Anatolia Timur pada 1877. Ia adalah anak keempat dari tujuh bersaudara. Ayahnya bernama Mirza dan ibunya bernama Nuriye atau Nura. Keluarga itu tinggal bersama masyarakat Kurdistan.

“Sang ulama ini adalah seorang sayyid, yakni keturunan langsung dari Nabi Muhammad SAW. Konon, ibunya adalah seorang Husaini dan ayahnya ‘Hasani. Namun, ia tak pernah menyombongkan nasab keluarganya.” Tulis Sukran Vahide, penulis buku Biografi Bediuzzaman Said Nursi.

Kehidupan Said Nursi sendiri dibagi menjadi dua periode. Periode pertama adalah Said Qadim (Said Lama). Periode ini dimulai dari kelahirannya sampai tahun 1920.

Periode kedua kehidupannya disebut Said Jadid (Said Baru). Periode itu berlangsung sejak 1920 sampai beliau wafat pada 23 Mac 1960.

Sejak kecil, Said Nursi telah menunjukkan kepandaiannya. Ia merupakan seorang anak yang cerdas dan kritis. Ia mulai mempelajari ilmu agama dan ilmu lainnya pada usia sembilan tahun.

Ia pertama kali belajar pada madrasah yang dipimpin Muhammad Afandi di Desa Thag pada 1886. Ia juga menimba ilmu dari para ulama terkenal di daerahnya. Pada 1891, ia bersama seorang temannya berangkat menuju madrasah di Bayezid, satu daerah di Turki Timur. Di tempat itulah, Said Nursi mempelajari ilmu-ilmu agama dasar karena sebelum itu ia hanya belajar Nahwu dan Sharaf.

Dalam belajar, Said Nursi menunjukkan kesungguhannya. Dalam waktu tiga bulan, Said Nursi telah membaca seluruh buku. Ia menguasai sekitar 80 kitab, di antaranya Jam’u al-Jawami, Syarh al-Mawakif, dan Tuhfah.

Pada 1894, Said Nursi berangkat menuju KotaVan atas undangan wali kotanya yang bernama Hasan Pasya. Dalam waktu yang relatif singkat, ia mampu menguasai matematika, ilmu falak, kimia, fisika, geologi, filsafat, sejarah, geografi, dan lain-lain.

Berkat kecerdasan dan kemampuannya menguasai beragam ilmu pengetahuan itulah, ia dijuluki Badiuzzaman. Said Nursi tidak puas dengan sistem pendidikan yang ada di Turki Usmani. Pada 1907, ia berangkat ke Istanbul untuk menyampaikan usulan kepada pemerintah agar mendirikan Universitas Zahra yang memadukan sains dan iptek dengan agama. Sayangnya, impiannya itu tak tercapai karena pecahnya Perang Dunia I dan kondisi Turki Usmani yang tidak stabil.

Mengenai perang dunia 1, ia berkata, “Dia bilang ini adalah waktu berjihad dengan pedang bukan dengan tulisan maupun lisan. Karena musuh-mush masuk ke Negara Islam.” terang Ust. Cemal Şahin, pemateri tadabbur kamis pagi di AQL Islamic Center.

Ust. Cemal Şahin, M. Sos. menjelaskan biografi Said Nursi (Foto Mohajer – AQLNews)

Pada 1911, Said Nursi berangkat ke Damaskus untuk menyampaikan pidato di Masjid Umayyah tentang kondisi umat Muslim dan cara mengatasi masalah-masalahnya. Pidato itu, beberapa tahun kemudian, diterbitkan dalam sebuah risalah berjudul Hutbe-I Samiye.

Mengenai kecerdasan Said Nursi, selah satu temannya pernah bertanya, “kenapa kamu begitu cerdas?”

“Saya sama seperti kalian. Kecerdasana saya datang dari kedua orang tua saya.”

Kata Ust. Cemal Şahin, ibunda Said Nursi selalu berwudhu sebelum memberikan ASI kepada anaknya. Ayahnya adalah seorang petani yang memiliki dua ekor sapi. Namun yang membuat dia berbeda dari petani lain adalah kehatia-hatiannya pada benda haram. “Tapi ketika memakan rumput belum pernah makan dari tanah orang lain.” Ungkap pria asal Turki tersebut.

“Jadi ketakwaann yang membuat dia sangat cerdas. Fitrah manusia dibentuk oleh dua, yaitu makanan dan tempat. Dan inilah yang sangat diperhatikan oleh kedua orang tua Said Nursi.” (Bersambung)

*Artikel ini ditulis dari pemaparan Ust. Cemal Şahin, M. Sos dalam kajian tadabbur kamis pagi, (17/1), di AQL Islamic Center, Tebet Utara, Jakarta Selatan.

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close