Tadabbur

Mengeksplorasi Sisi Lain Al-Qur’an

Ada banyak penemuan-penemuan ilmiah yang terinspirasi dari Al-Qur’an. Salah satu di antara sekian sifat lautan yang ditemukan adalah berkaitan dengan ayat Al Qur’an sebagai berikut:

“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tak dapat dilampaui oleh masing-masing.” (QS. Ar Rahman:19-20)

Sifat lautan yang saling bertemu, akan tetapi tidak bercampur satu sama lain ini telah ditemukan oleh para ahli kelautan. Dikarenakan gaya fisika yang dinamakan “tegangan permukaan”, air dari laut-laut yang saling bersebelahan tidak menyatu. Akibat adanya perbedaan masa jenis, tegangan permukaan mencegah lautan dari bercampur satu sama lain, seolah terdapat dinding tipis yang memisahkan mereka. (Davis, Richard A., Jr. 1972, Principles of Oceanography, Don Mills, Ontario, Addison-Wesley Publishing, s. 92-93.)

Ketika banyak pihak yang berusaha menista al-Qur’an, Al-Qur’an malah memperlihatkan eksistensinya. Ilmu sains yang dibanggakan masyarakat barat tidak ada satu pun yang kontra dengan  Al-Qur’an. Jika ada kitab yang paling ilmiah maka itu adalah Al-Qur’an. Sebuah kitab yang mampu memperlihatkan secara jelas kepada manusia tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan. Bahkan mengabarkan kejadian-kejadian jika fase dunia telah berakhir, sesuatu yang tidak bisa dirasionalisasikan oleh ilmu sains modern. Tadabburilah dan temukan keajaiban-keajaiban di dalamnya. Karena secara jelas, Al-Qur’an itu memerintahkan kita untuk mentadabburinya tidak sekedar melihatnya. Melihat hanya sekilas tapi memerhatikan (mentadabburi) itu menyelami kedalaman maknanya untuk mengambil apa yang terkandung di dalamnya.

Al-Qur’an menuntut kita untuk mempelajarinya secara serius. Tetapi siapakah yang paling bertanggung jawab atas pengajaran itu. Siapakah yang paling  bertanggung jawab yang akan membawa kita bersama-sama menyelami makna-makna yang tersirat dalam Al-Qur’an. jawabannya ada pada surat al-Ahzab:34.

 “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu (Istri-istri Nabi) dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui”. (QS al-Ahzab:34)

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah contoh terbaik dalam menyikapi setiap persoalan hidup, termasuk soal pendidikan keluarga. Dalam ayat ini digambarkan bahwa Rasulullah sendiri yang mengajari istri-istrinya Al-Qur’an. Jika hal itu dikaitkan dengan kekinian, maka yang paling bertanggung jawab atas  pendidikan seorang istri adalah suaminya. Suami tidak hanya bertanggung jawab atas nafkah, akan tetapi bertugas membawa seluruh keluarganya untuk mendapatkan ridha Allah subhanahu wa ta’aala. Jika istri telah paham, maka otomatis anak-anaknya akan belajar dari ibunya. Itulah makna dalam ungkapan “Ibu adalah madrasah bagi anak-anaknya dan ayah adalah kepala sekolahnya”.

Ketika suami telah termotivasi untuk mengajari istrinya Al-Qur’an berarti ia telah membuktikan cintanya kepada Rasulullah. Gelar istri sholehah itu bagi istri yang belajar lansung dari suami, jika ia belajar dari ayahnya berarti putri solehah, jika belajar dari guru berarti murid solehah.

Lalu kenapa harus al-Qur’an yang menjadi prioritas utama. Kenapa harus mengajak untuk menyelami lautan makna yang terkandung dalam al-Qur’an.

Maka apakah mereka tidak memperhatikan (Mentadabburi) Al Quran ataukah hati mereka terkunci? (QS Muhammad:24)

Dalam ayat ini, hanya ada dua pilihan, mau tadabbur atau hati terkunci. Jika hati telah terkunci satu-satunya cara untuk mengambil kuncinya adalah menyelam ke dasar lautan makna Al-Qur’an. Sama halnya, jika seseorang mengetahui pintu rumahnya terkunci tapi tidak melakukan tindakan apapun, selamanya pintu itu akan terus tertutup. Hati tertutup dari semua nasehat dan pelajaran hidup, Allah telah memberikan solusinya, bertadabbur.

Di ayat lain juga menyebutkan sisi lain dari kenikmatan bertadabbur, selain mendapatkan berkah juga akan mengasah kecerdasan dan meningkatkan cara berfikir kita.

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran”. (QS Shad:29).

Al-Qur’an adalah sumber keberkahan yang dijamin lansung oleh Allah. Jangan menjadi orang yang gagal faham tentang Al-Qur’an, hanya sekedar membaca dan tidak mentadabburinya. Karena indikasi dari tidak sehatnya akal adalah tidak mampu mengambil pelajaran dari Al-Qur’an. Jika di surat Muhammad berkaitan dengan hati, maka dalam ayat ini berkaitan dengan otak, cara berfikir.

Dalam shalat sering kita mengulang-ulang ayat, tapi sama sekali tidak mengambil pelajaran. Tadabbur itu tidak mesti berguru, bisa dilakukan sendiri. Beda dengan tafsir, harus di depan guru. Dalam al-Qur’an pun tidak ada yang menyebutkan harus bersama guru, tetapi perintah perindividu. Kita mau memahami al-Quran tapi tidak mau menyendiri dengan al-Qur’an.

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close