Meneladani Sirah Nabi Muhammad

SOSOK yang akan dibicarakan adalah manusia teragung di muka bumi. Allah subhanahu wata’ala sendiri memberi sematan kepada manusia mulia ini:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ ٤

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. al-Qalam [68] : 4). Sesungguhnya engkau, sudah berada dalam posisi akhlak yang sangat agung.

 

Fisik Rasulullah

Rasulullallah shallallahu `alaihi wasallam, dari segi fisik, perawakannya tidak terlalu tinggi, tidak juga pendek. Rambutnya tidak terlalu keras, tetapi juga tidak terlalu ikal. Setiap orang yang menatapnya pasti bahagia. Orang yang berada di sekelilingnya, akan senang bersamanya. Karena beliau bassaam, orang yang senantiasa tersenyum, cerah wajahnya.

Beliau tidak pernah menampakkan kesedihan hatinya untuk di bagikan ke orang lain. Tidak sudi menyimpan ganjalan hati pada orang sulit. Lapang jiwanya; sehingga setiap orang yang berada di sekelilingnya, baru melihat air mukanya, merasakan kebahagian, sampai tidak pernah hendak berhenti untuk menatap wajahnya.

Kerling matanya memang ada sedikit kemerahan. Keningnya agak lebar. Kulitnya putih tapi tidak terlalu putih. Perawakanya ideal. Tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek. Jika berjalan, tidak lambat seperti orang malas, tapi tidak terlalu cepat seperti orang yang tergesah-gesah dan langkahnya seimbang. Balance, dan tegak. Semangat, tapi tidak  dibuat-buat.

 

Kepribadian Rasulullah

Dari sisi kepribadian, dari figur agung ini menampakkan keindahan. Tetapi keberkahan dari Allah subhanahu wata`ala dan pengawalan para malaikat rahmat di sekelilingnya yang memberikan karismanya tersendiri. Sewaktu masih kecil, kalau Halimah Sa`diyah kehilangan Rasulullah, gampang mencarinya. Di mana hewan-hewan mengarah dan burung terbang, di situ ada Muhammad shallallahu `alaihi wasallam.

Makanannya tidak dimakan sendiri. Hewan pun senang, karena pada hewan pun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbagi. Orang-orang yang cinta kepada Rasulullah shallallahu `alahi wasallam, baru diceritakan bagaimana masa kecil beliau, yang saat itu tidak ada yang menerimanya kerana bukan dari keluarga kaya.

Beliau waktu itu dianggap orang biasa. Ketika dibawa ke pedalaman suku Arab, untuk dicarikan kepadanya seorang ibu asuh, hanya jiwa yang mulia, hati yang jernih, mata yang terang, telinga yang peka, yang bisa manangkap keindahan sosok manusia yang agung bernama Muhammad shallallahu `alahi wasallam.

 

Akhlak Rasulullah

Sejak kecil, perangainya sangat lembut. Tak sudi menyakiti orang lain. Tutur katanya sangat santun.            Pada suatu hari, untuk pertama kalinya, beliau dibedah oleh dua malaikat. Anak-anak di sekelilingnya itu menjadi saksi bahwa, tiba-tiba Muhammad berada dalam kejauhan dan menghilang dari pandangan meraka. Lalu ada bagian paling inti dari kalbunya, lalu dicuci dengan air zam-zam. Peristiwa ini terjadi dua kali: Pertama, ketika baginda Rasulullah shallallahu `alahi wasallam masih dalam pengasuhan Halimah Sa`diah. Kedua, ketika Rasulullah hendak mi`raj ke sidratul muntaha.

Rasulullah shallallahu `alahi wasallam sebelum menjadi seorang nabi, fitrahnya tidak pernah ternodai. Gelisah berat. Gelisah melihat sesuatu yang tak lazim dianggap lazim, karena pada masa itu manusia pada puncak kebinatangannya. Menghamba kepada yang tidak pantas untuk disembah. Berharap kepada yang tidak bisa memberikan. Takut kepada sesuatu yang tidak bisa mendatangkan bahaya. Bersandar kepada yang rapuh. Bahkan menyebut mereka sebagai Tuhan. Tuhan dalam rekayasa pemikiran mereka. Sifat-sifat Tuhan adalah serpihan-serpihan hawa nafsu yang mereka bangun sendiri, sehingga menjadi sosok berhala bernama: Latta, `Uzza, Manat, dan Hubal.

            Manusia betul-betul sudah kehilangan naluri kemanusiaannya. Tapi manusia yang agung, seperti ikan segar yang terus berenang di tengah laut yang asin. Tidak terasinkan tubuhnya. Dia yang disebut al-amiin, bukan sekadar terpercaya, dipercaya. Beliau dijuluki al-amin bukan karena dititipi sesuatu lalu amanah, bukan sekadar itu. Karena kata al-amin bukan sekadar terpercaya ketika diamanahkan sesuatu atau lawan kata khianat. Al-amiin adalah orang yang siap memikul beban umat, mengambil alih persoalan umatnya, untuk berkorban waktu, berkorban tenaga, berkorban harta, dan berkorban apa saja untuk umatnya, itulah al-amiin.

Tidak ada manusia paling lembut di dunia yang bisa menandingi Rasulallah. Betapa meruginya jika kita malas bershalawat kepadanya. Padahal kode etik menajadi umat Muhammad minimal bershalawat sepuluh kali di awal pagi dan sepuluh kali di sore hari. Allahumma shalli `ala muhammad, wa `ala aali muhaammad. Mudah-mudahan kita dimampukan menjadi umat yang setia kepada baginda Rasulillah shallallahu `alaihi wasallam.

Ketika marah,  marahnya bukan karena hawa nafsu. Saat agama Allah didustakan di dunia, memuncak amarahnya. Wajahnya  memerah membara ketika menjelaskan tentang keagungan ayat-ayat Allah dan marahnya karena Allah subhaanahu wata`aala. Tetapi kasih sayang Rasulallah juga tidak ada yang menandingi.

 

Cinta Rasulullah Terhadap Umatnya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat mencintai umatnya. Cinta beliau digambarkan oleh pujangga masa kini: “Bagai cahaya suwarga”. Untuk mengetahui kadar cinta beliau kepada umatnya adalah dengan membaca ayat berikut:

لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ١٢٨

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”(Qs. At-Taubah [9] : 128).

            Ayat ini memberi beberapa gambaran mengenai cinta beliau kepada umatnya: Pertama, merasa berat melihat penderitaan umatnya. Apa yang menjadi deritamu adalah deritanya juga. Apa yang menjadi kesusahanmu adalah kesusahannya juga. Manusia mana di dunia ini yang mau memikul beban derita kita? Manusia mana di dunia ini yang bisa tulus mencari tau yang paling pedih di dalam hati kita?

Kedua, sangat menginginkan umatnya beriman agar selamat. Yang dia pikirkan setiap malam, setiap siang, hanyalah bagaimana caranya agar umatnya menikmati manisnya iman. Bagaimana agar umatnya selamat dari tipu daya dunia, hari kebangkitan, dan perhitungan. Cuma itu yang ada dalam benak dan pikirannya.

Kalau dia bekerja, berjalan, menghabiskan waktu, menembus hal-hal yang rumit baginya cuma satu keinginan harishun `alaikum motivasinya yang paling besar adalah bagaimana agar kamu bisa menikmati manisnya iman dan agar kamu menjadi orang yang selamat di dunia dan di akhirat. Para pecinta Rasulullah hari ini belajar bagaimana caranya tulus dan ikhlasnya Rasulullah dalam cinta.

Ketiga, belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu`min. Yang menjadi obsesinya sehari-hari adalah bersama orang-orang beriman. Tidak bisa makan-makan enak sendirian di rumah. Aisyah meriwayatkan, “Bulan purnama berlalu. Bulan tanpa purnama berlalu.” (HR. Ahmad). Ceritanya melewati malam tanpa lampu. Karena tidak ada bahan bakar untuk menyalakan lampu.

Kesederhanaan Hidup Rasulullah

Kehidupannya dipenuhi dengan rasa lapar, dan sering kali memakai ikat pinggang, dan di depan pusarnya diganjal dengan batu untuk menahan lapar. Tidak pernah ada roti lembut  di rumah baginda Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam. Roti murah yang kasar gandumnya. Di rumah istrinya disaksikan itu dan dirasakan. Kenapa beliau lakukan itu? Lebih memilih hidupnya untuk itu?

Bukan berarti Rasulullah melakukan demikian karena miskin. Siapa bilang beliau tidak kaya raya? Mana mungkin Islam bisa menantang raja Romawi, mana mungkin pasukan Islam bertahan berjalan berhari-hari berbulan-bulan tanpa kendaraan yang cukup? Kendaraan perang yang kokoh dan kuat? Mana mungkin bisa menang melawan mereka kalau gizinya kurang? Tidak.

Rasulullah kaya raya. Tetapi, untuk dirinya, beliau memilih hidup zuhud. Dibiarkanlah umatnya berkembang sesuai dengan budayanya. Karena semua memang tidak sanggup seperti Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam. Tapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memilih untuk hidup dengan kesahajaannya demi mengekspresikan cintanya kepada kita semua.

Interaksi Sosial Rasulullah

Interaksi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada semua orang sangat bagus. Sebagai contoh kecil, pembantunya, Anas bin Malik sembilan tahun dalam melayaninya, memberi kesaksian, ‘Kalau bersalah, Rasulullah tak pernah bilang begini: “Kenapa kamu berbuat seperti itu, kenapa kamu melakukan itu?” Itu tidak pernah keluar dari mulutnya. Semua kata-katanya positif. Beginilah akhlak rasulullah shallallahu `alaihi wasallam. Mudah-madahan ada syafaat yang kita dapatkan di dunia.

Sebagai penutup, kalau betul-betul setia kepada umat Muhammad shallallahu `alaihi wasallam cuma tiga jalan hidup kita: Pertama, mencari ridha Allah subhanahu wata’ala. Kedua, obsesi kita adalah memperjuangkan agama Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam. Ketiga, membawa manfaat kepada hamba-hamba Allah subhaanahu wata`ala.

 

Sebarkan Kebaikan!