Mendeklarasikan Diri Sebagai Muslim Sejati

KH BACHTIAR NASIR
(Pimpinan AQL Islamic Center)

Allah SWT berfirman dalam surat Fushshilat:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS Fushshilat [41]: 33)

Ada tiga poin penting yang harus diperhatikan untuk menjadi seorang muslim sejati.
1. Seruan Kepada Allah Adalah Narasi Yang Paling Kuat
Di balik semua perkataan yang kita lontarkan dalam bentuk pidato, orasi, ceramah, dan tulisan-tulisan berapa banyak yang mengajak kepada Allah SWT? Perkataan yang paling bergensi dari semua perkataan yang ada adalah mengajak manusia untuk kembali kepada Allah SWT. Karena perkataan yang di dalam terdapat ajakan untuk kembali kepada Allah memiliki bobot nilai yang tinggi dan merupakan narasi yang sangat kuat. Jika ingin memilih kata dan diksi yang terbaik dan memiliki pegaruh besar maka tidak ada yang lebih kuat narasinya daripada perkataan yang mengajak kepada Allah SWT, inilah yang membedakan bobot bahasa verbal seseorang di banding yang lain.
Lalu, berapa banyak kalimat yang telah kita lontarkan dengan tujuan mengajak kepada Allah dan membetengi manusia dari perbuatan syirik, dan berapa kata yang telah kita ucapkan untuk mencari cinta hanya kepada Allah SWT?

Ada banyak tema yang bisa disampaikan untuk mengajak manusia kepada-Nya. Tema itu bisa mengajak manusia untuk mencari rahmat-Nya, mencari ampunan-Nya, mencari kasih dan sayang-Nya, mengajal manusia untuk menuju jenjang-jejang cinta kepada-Nya, mengajak manusia untuk menjadi Muslim sejati bukan menjadi Muslim imitasi (Muslim setengah-tengah), dan puncaknya adalah bagaimana mengajak manusia mencari ridha Allah SWT agar dapat masuk surga dan melihat-Nya di dalam surga.

Nabi SAW menggambarkan, barangi siapa yang bisa menjadi perantara hidayah bagi orang lain maka dia akan mendapatkan balasan sebanyak orang yang mendapatkan hidayah. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدىً كَانَ لَهُ مِنَ الَأجْرِ مِثلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ ، لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئاً

“Barangsiapa menyeru kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dari pahala mereka sedikit pun.” (HR. Muslim)

2. Mengiringi Seruan dengan Amal Shalih
Tentu tidak cukup hanya dengan perkataan, sebab dakwah dengan penuh kebijaksanaan dan perkataan yang baik harus dibarengi dengan tingkah laku yang baik dan mencerminkan perkataan kita sendiri. Perbuatan adalah esensi dari sebuah perkataan dan rahasia sukses Nabi SAW dalam dakwahnya karena yang pang mencolok dari Rasul adalah keteladanan.

Pemilihan kata memang harus bagus tapi lebih bagus lagi dibarengi dengan amal shalih maka berilmulah sebelum beramal, supaya pekerjaan yang kita lakukan termasuk dalam kategori amal shalih. Kebenaran itu bukan menurut manusia tapi kebenaran itu menurut Allah dan Rasul-Nya.
3. Mendeklarasikan Diri Sebagai Muslim Sejati
Pelajaran yang ketiga dari surat Fushilat ayat 33 adalah mendeklarasikan diri sebagai muslim sejati bukan muslim imitasi. Di era modern ini banyak orang yang mengaku Islam bahkan kartu penduduknya beragama Islam tapi tidak pernah terbetik dalam hati untuk memperjuangkan Islam dan banyak juga pejabat yang duduk negara yang mempunyai kekuasaan untuk memperjuangkan Islam tapi malah lebih membela harga diri mereka sendiri dibanding kitabnya yang dinistakan. Siklus kehidupan muslim imitasi itu sangat simple dan sangat tidak berkelas, lahir-sekolah-kerja-nikah-tua-mati, tidak ada sedikit pun dalam fikirannya untuk berkorban demi Islam. Islam tidak akan pernah bisa bangkit dengan muslim yang setengah-tengah.

Umat Islam yang hatinya tidak terpanggil dengan kondisi umat belakangan ini, jika hatinya tidak miris ketika al-Qur’an dinistakan, ketika Nabi dihina, dan ulama difitnah maka hatinya perlu disunat lagi. Artinya, kelakian dia sebagai seorang muslim sangat diragukan. Sebab, Islam tidak akan pernah jaya bahkan tidak bisa bertahan jika muslim sudah menjadi lelaki pengecut. Bahkan, banyak pejabat muslim yang tega menjual agamanya demi memperjuangkan sesuatu yang semu. Saat ini dunia mendambakan muslim-muslim sejati yang siap berkorban ketika agamanya dihina. Berbeda dengan Rasulullah SAW, beliau tidak pernah marah dan terusik sedikit pun jika yang dihina adalah harga dirinya. Akan tetapi, jika yang dhina adalah agama dan al-Qur’an maka beliau sendiri yang memimpin pasukannya. *muhajir

Sebarkan Kebaikan!