Menapaki Hijrah Rasulullah dalam konteks keindonesiaan

Hijrah Nabi Muhammad  shallallohu alaihi wa sallam dari Mekah ke Madinah menjadi peristiwa besar bagi umat Islam. Kisah itu punya makna mendalam bagi muslimin dunia. Peristiwa itu kemudian menjadi awal tahun kalender Islam dan diperingati hingga sekarang.

Secara sosiologi dan hukum di Yatsrib (Madinah) sebelum Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam hijrah, kota itu menganut sistem Yahudi yang sudah mengakar di tubuh kota. Proses hijrah fisik Rasulullah dan para sahabat adalah perintah Allah subhana wa ta’aala sehingga tidak didasari oleh kepentingan dunia maupun pribadi. Madinah sebagai kota tujuan hijrah juga merupakan pilihan Allah, Rasulullah dan para sahabat hanya mengikuti alur yang telah diperintahkan, bukan karena takut akan penindasan yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy.

Sejarawan mencatat bahwa sebelum hijrah dakwah islam sudah berjalan di tengah sistem Yahudi. Dakwah itu disebarkan oleh utusan kaum ansar sewaktu berhaji dan bertemu Rasulullah di Mekah, setelah kembali ke Madinah mereka menyebarkan dakwah Islam. hal yang menarik untuk dipelajari adalah sahabat ansar itu tidak melakukan tindakan apa pun tanpa komando dari Rasulullah yang kala itu masih di Mekkah.

Kekuatan itu tidak bermula dari kekuatan fisik dan jumlah, tapi kekuatan seseorang bermula dari kekuatan tauhid atau penghambaan yang sesungguhnya kepada Allah. Bekal tauhid dan ubudiyah inilah yang telah dimiliki oleh para sahabat yang ditraning lansung oleh Rasulullah selama 13 tahun di Mekkah. Sehingga setiba di Madinah mereka mampu melakukan gerakan perubahan yang nyata, bahkan masih dirasakan buah manis dari perjuangan mereka sampai saat ini. buah manis dari perjuangan Rasulullah dan para sahabatnya adalah seperti, hijrah sistem politik yang tadinya sistem Yahudi, sosial, ekonomi, pertahanan, keamanan, seni, budaya, dan olahraga.

Bekal tauhid itu bersumber dari al-Qur’an. di mana semua isi semua kitab suci yang pernah ada di muka bumi (mulai dari suhuf Nabi Adam AS sampai kitab injil yang diturunkan kepada al-Masih) semua sudah terangkum dalam al-Qur’an. dalam riwayat dikatakan bahwa, semua isi al-Qur’an sudah terangkum dalam surat-surat pendek, semua isi surat pendek sudah terangkum dalam surat al-Fatihah, dan sebagian ulama mengatakan bahwa surat al-Fatihah terangkum dalam ayat 4 surat al-Fatihah (iyyakana’budu wa iyyaka nastain). Para ulama menyimpulkan bahwa jika ada permintaan pertolongan yang palng patut kita minta kepada Allah adalah, agar kita bisa istiqamah menyembah kepada-Nya.

Dalam konteks keindonesiaan tidak ada lagi hijrah setelah kemerdekaanya, sebagaimana setelah penaklukan kota Mekkah. Hijrah yang paling ditekankan adalah hijrah dari maksiat menuju taat kepada Allah. Ketika Rasulullah di Madinah, beliau mendapatkan wilayah dan tantangan baru karena berhadapan dengan system Yahudi. Di Mekah semusyrik apa pun mereka, Rasulullah masih mendapatkan perlindungan dan musuh Islam sangat jelas. Di Madinah Beliau menghadapi musuh dengan kerumitan yang luar biasa. Dala surat al-Baqarah disebutkan cukup lima ayat untuk mengetahui sifat orang beriman, cukup dua ayat untuk mengetahui sifat orang kafir, dan butuh tiga belas ayat untuk mengenal orang munafik.

Terkait keindonesiaan kita dalam berbangsa dan bernegara dan untuk mengokohkan ideologi Islam dengan tauhid, maka umat Islam Indonesia harus merenungi kandungan surat an-nisa ayat 100. Apakah kita sering bersyukur karena punya Tuhan yang tidak anak? Apakah kita sering bersyukur karena Tuhan kita tidak punya partner dalam penguasaan jagad raya? Apakah kita sering bersyukur punya Tuhan yang tidak butuh kepada mahluk?

 

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ ۖ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا

Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.(QS. An-Nisa:100)

 

Tiga poin dalam ayat ini adalah bekal ideologi yang penting untuk orang Indonesia hari ini. Di awal kemerdekaan kita berhadapan dengan kekuatan komunisme dan sekarang kita diperhadapkan dengan benturan peradaban, Timur, Barat, dan Islam. Timur membawa sosialisme dan komunisme, barat membawa kapitalisme, akan berbenturan dengan kekuatan Islam yang memang bertentangan dengan keduanya.

Islam akan menghadapi tantangan berat karena ada rumus pertarungan ideologi dalam agama suci ini, “kekuatan ideologi kufur akan bersatu ketika menghadapi Islam”. ini adalah kaidah pertarungan yang harus difahami karena hal ini sedang berlangsung saat ini.

Apakah kita sering bersyukur karena punya Tuhan yang tidak anak? Apakah kita sering bersyukur karena Tuhan kita tidak punya partner dalam penguasaan jagad raya? Apakah kita sering bersyukur punya Tuhan yang tidak butuh kepada mahluk?

Tiga poin ini harus disyukuri jika ingin menjadi orang yang kuat menghadapi pertarungan peradaban. Sehingga otak kita tidak teracuni ideologi-ideologi sesat. Kalau tidak punya kekuatan berfikir sebagaimana yang diajarkan dalam al-Qur’an mungkin kita akan kehilangan argumentasi ketika berhadapan dengan ideologi sesat itu. Suasana hangat tentang komunis ini mengharuskan kita untuk hijrah ideology. Hijrah kepada arah yang diridhai Allah.

Jika ingin kuat dengan proses pertarungan yang sedang berlansung maka perkuatlah kesadaran tiga poin yang disebutkan surat al-Isra ayat terakhir. Ada perbedaan kualitas takbir orang yang sudah punya tiga poin itu dalam hatinya dengan orang yang takbirnya hanya teriakan. Orang yang tidak pandai bersyukur dengan tiga poin itu maka takbirnya hanya teriakan kosong tak berarti.

Di tengah sekularisme Indonesia yang tidak menginginkan adanya agama dan di tengah hantaman pemikiran liberalisme yang menganggap agama menjadi penyebab semua kekacauan, boleh jadi sampah-sampah ideologi komunis menjadi harapan baru bagi sebagian orang, namun tanpa disadari hal itu sedang berjalan. Maka perlu ada hijrah idelogi.

Indonesia terus dijajah secara system oleh kekuatan luar tentu efek dari ketidak mandirian ekonomi kita, hal ini berangkat dari ketidak kuatan kita dalam bernegara dan berbangsa, dan mungkin hilangnya nilai-nilai falsafah pancasila sehingga tanpa di sadari falsafah Negara hanya sebuah jargon tak bernyawa, kering tanpa makna. Di tahun baru Hijriyah ini 1439 mudah-mudahan Allah turunkan kepada kita semua dan mencurahkan rahmat-Nya kepada bangsa Indonesia, dan mudah-mudahan Allah sayangi pemimpin-pemimpin Indonesia, semoga mereka menjadi pemimpin yang amanah yang membawa rahmat Tuhan di muka bumi ini.

Bekal untuk melakukan lompatan besar di tahun baru ini yang harus kita perhatikan pertama adalah pijakannya. Darimana kita bermula. Menuju sebuah hijrah atau perubahan hindari prasangka dan presepsimu, jauhkan dari keinginan yang sudah bercampur kepentingan. Karena jika hal itu masih terjadi maka hijrahmu masih kacau.

Pertarungan itu tidak bisa dihindari tapi bekal untuk menang itu yang harus kita lakukan, dan untuk mendapatkan itu kita harus berangkat dari akidah yang kuat, tentu dimulai dengah hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya.

وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.( QS. An-Nisa: 100)

Barangsiapa yang keluar untuk berhijrah maka pasti dia akan dapati bumi baru, dan barang siapa yang mati dalam hijrahnya maka akan dicatat untuknya pahala di sisi Allah. Hal ini terjadi jika berangkat dari tempat yang benar dengan niat yang benar dari pijakan yang kokoh dan kuat.

Al-kisah ada orang yang telah membunuh 99 orang, lalu ketika berjumpa dengan orang yang kurang bijaksana maka orang itu dibunuh sehingga genap menjadi 100. Ketika berjumpa dengan orang bijak tentang apa yang harus dilakukan jika ingin berhijrah. Orang bijak itu memberikan nasihat untuk berpijak pada tempat yang kokoh dan niat yang kuat.

Hal yang paling fundamental yang harus dipersiapkan untuk berhijrah menuju pertarungan peradaban adalah pendekatan diri kepada Allah subhana wa ta’aala. Kalau mau tau bagaimana posisi kita dihadapan Allah maka tanyakan pada hati kita seberapa agung kita mengagungkan Allah? Jika ingin tau seberapa hebat posisi kita dihadapan Allah maka coba lihat seberapa agung Allah di dalam hati kita? Jika ingin tau siapa kita di hadapan Allah coba lihat dirimu dimana kamu di tempatkan oleh-Nya?

Dua indicator sangat penting untuk bercermin dan bermuhasabah diri di awal tahun baru ini. orang yang lalai sesungguhnya adalah orang yang tidak fokus dengan indikator-indikator tadi. Siapa saya di hadapan Tuhan saya dan bagaimana kondisi saya di hadapan Tuhan saya? Jawabanya adalah seagung apa Tuhanmu di dalam hatimu dan lihat mayoritas aktivitasmu dimana Tuhan menempatkan kamu. Dari situ kita akan tersentak sadar bahwa ternyata selama ini kita telah lalai.

Ketika sadar bahwa kita mengagungkan Allah belum mestinya maka hal itu sangat berbahaya. Bahaya paling berbahaya adalah kita menjadi hamba yang tidak pandai berserah diri dengan penyerahan diri yang sesungguhnya. Ketika berserah diri kita tidak pandai melakukannya, maka pada saat itulah posisi kita jauh dari Allah subhana wa ta’aala..

Jika ingin menjadi orang tangguh dan berangkat menuju perubahan dari tempat yang tepat lewat pijakan yang kuat maka mulailah dekatkan diri kepada Allah, agungkan Dia sebagaimana mestinya.

Mengapa Allah subhana wa ta’ala memerintahkan kita memuji-Nya yang maha tinggi pada saat sujud dengan membaca subhana rabbiyal a’laa?  Ibnu Qayyim menjelaskan tentang kondisi hamba yang sedang bersujud, “Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk mensucikan-Nya dengan menyebutkan asma-Nya al-Aliyyu. Seorang hamba menyebutkannya dalam kondisi berada di bawah (dalam keadaan sujud) dan menyucikan-Nya dari sifat rendah, dan meyakini bahwa Allah Maha Tinggi di atas segalanya dan menyucikan diri dari segala bentuk kerendahan, bahkan Dia Maha tinggi dari setiap sifat tinggi. Allahu A’lam bishawab

Sebarkan Kebaikan!