Artikel
Trending

Membentuk Generasi Tangguh   

Perkuat generasi muda ini baik secara intelektual, moral, dan akhlak.

GENERASI muda adalah generasi penerus yang akan memegang tongkat estafet untuk melanjutkan dakwah Islamiyah. Untuk bisa mengemban tugas itu, tidak ada kata lain, harus menjadi generasi tangguh. Bagaimana menciptakan suatu generasi yang tangguh? Yaitu dengan menciptakan generasi muda yang baik secara intelektual, moral, dan ahlak. Generasi muda demikianlah yang dibutuhkan untuk membangun peradaban Islam. Karena mereka tak hanya cerdas dalam bidang ilmu pengetahuan, tapi juga beriman dan bertakwa kepada Allah Swt..

Pimpinan AQL Islamic Center Ustadz Bachtiar Nasir dalam sebuah khutbahnya mengungkapkan bahwa untuk membentuk generasi tangguh setidaknya ada dua hal yang harus dikuatkan. “Kriteria generasi tangguh pertama adalah akidahnya bersih. Bersih dari dongeng Persia, bersih dari israiliyat, bersih dari konsep-konsep ketuhanan Nasrani, dan bersih dari dogma-dogma Majusi,” ucapnya.

Ia menjelaskan bahwa walaupun secara formal faham komunisme, lenisme, marxisme telah dilarang, tapi buah pemikiran ini tidak mati begitu saja. Ideologi tersebut masih banyak dianut dan memang ada oknum yang sengaja menyebarkan virus tersebut. “Tapi tidak sedikit otak anak-anak kita di sekolah rupanya sudah teracuni dengan doktrin-doktrin haram tersebut, baik secara konstitusional maupun dalam pandangan agama,” ungkap UBN dalam khutbahnya di AQL Islamic Center, Jumat lalu, (31/1).

Pintu gerbang dari sampah-sampah ideologi ini adalah sekularisme yang pernah gagal di Indonesia. Sebuah faham yang hendak memisahkan agama dan dunia. “Karena sekularisme gagal, sekarnag mereka masuk dengan pintu yang lebih berbahaya yaitu liberalisme,” kata UBN. Liberalisme adalah sebuah keyakinan yang menjadikan kebebasan sebagai tuhan. Dalam hal ini, bebas hanya berdasarkan hawa nafsu.

Para pengagum faham ini tidak menghendaki adanya otoritas dari luar dirinya yang mengatur diri mereka. “Sebagaimana akhir-akhir ini kita melihat doktrin tentang LGBT yang memaksa kita untuk menerima kaum homo, kaum lesbi, biseks, bahkan pecinta hubungan dengan mayat, dan pecinta hubungan seksual dengan binatang. Gerakan ini atas nama hak asasi manusia, bahkan dipaksakan ingin menjadi sebuah UU,” lanjutnya.

Kriteria kedua generasi tangguh adalah berilmu. Generasi muda tangguh yang bisa membangun peradaban Islam adalah mereka yang bersih secara ideologi lalu menjadikan ilmu sebagai asas dalam bertindak, berucap, bahkan mengambil keputusan.

Ada perbedaan yang sangat mendasar antara filsafat ilmu barat dan filsafat ilmu Islam. Barat menjadikan materialisme sebagai barometer pendidikan. Sedangkan Islam menjadikan ilmu sebagai tujuan dalam pendidikan, tentu ilmu yang mengantarkan pada ketakwaan kepada Allah Swt.

“Untuk membentuk generasi tangguh, maka ini yang harus diperhatikan oleh para penyelenggara pendidikan,” ungkap Ustadz Bachtiar Nasir. Tak hanya guru di sekolah, tapi juga orang tua di rumah. Para penyelenggara pendidikan harus memahamkan kepada para peserta didik bahwa tujuan mereka adalah ilmu yang mengantarkan pada takwa, bukan semata-mata menjadi budak materialisme.

Ini perlu dikhawatirkan, sebab kini banyak penyelenggara yang terbawa oleh keinginan publik, tidak berusaha menggiring peserta didik ke tujuan pendidikan yang sesungguhnya. “Penyelanggara pendidikan fokus pada materi, yang sesungguhnya tidak melahirkan ilmuwan yang bermnfaat bagi kehidupan, tapi melahirkan alumni yang hedonisme materialistik,”

“Tujuan pendidikan sebenarnya adalah bagaimana melahirkan generasi yang berilmu, dan ilmunya bermanfaat seluas-luasnya,”

Orang berilmu adalah cahaya rembulan di tengah kegelapan yang akan menerangi jalan orang yang tersesat. Manfaat ilmunya akan dirasakan oleh umat manusia, bahkan bisa mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close