Membangun Peradaban Islam dari Masjid

KH BACHTIAR NASIR
(Tausiah Ramadhan di Masjid al-Husainin, Johar Baru, Jakarta Pusat, Sabtu, 27 Mei 2017)

BETAPA dahsyatnya jika kita mengenal masjid dan memungsikan masjid sebagaimana mestinya. Islam akan membangkitkan peradabannya jika segala sesuatu dimulai dari masjid. Secara bahasa masjid artinya tempat sujud. Kelebihan Islam dibanding agama-agama lain adalah dijadikannya seluruh permukaan bumi sebagai tempat sujud. Seluruh permukaan bumi adalah tempat meletakkan kening kehormatan sejajar dengan telapak kaki kerendahan. Orang-orang yang selalu rukuk dan sujud di muka bumi dan mengimplementasikan rukuk dan sujud dalam kehidupan sehari-hari adalah orang yang tinggi dan mulia di hadapan Allah SWT.

Sebelum dunia ini memiliki tempat ibadah dan Adam AS dikeluarkan dari surga dan diturunkan ke bumi, ia kemudian terlunta-lunta di muka bumi dan menangis. Setiap kali mengenang ketika diusir dari surga maka beliau menangis. Sehingga tetesan air matanya menumbuhkan rerumputan karena kesedihan yang dirasakan Adam AS. Kemudian, Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Adam AS untuk membuat satu tempat ibadah yang sudah ditakdirkan. Allah SWT berfirman:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mkkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. ali-Imran: 96)

Ka’bah yang berada di kota Mekkah adalah masjid pertama yang dibangun oleh Nabi Adam AS. Maka, sejak awal masjid sudah ditetapkan oleh Allah SWT sebagai tempat ibadah sekaligus tempat sujud. Artinya, peradaban oang-orang Islam tidak bangkit jika tidak dimulai dengan membangun kekuatan ibadah dan memusatkan semua kegiatan umat di masjid. Kehormatan Islam tidak akan bangkit jika umatnya tidak memulai setiap gerakannya dengan menyetarakan kening kehormatan dengan telapak kerendahan.

Setelah Adam AS diperintahkan oleh Allah SWT untuk membangun rumah-Nya di bumi yaitu ka’bah, agar Nabi Adam AS merasakan kedamaian di muka bumi. Ka’bah yang diperintahkan Adam AS untuk dibangun itu ditentukan lansung oleh Allah SWT, sebagaimana digambarkan tempatnya dalam surat Ibrahim ayat 37:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”

Dalam ayat ini dijelaskan kisah Ibrahim untuk menunjukkan lokasi Ka’bah yang berada dalam sebuah lembah. Ketika Nabi Adam AS berada dalam rumah Allah SWT dia merasakan ketenangan, kedamaian, dan merasa dekat dengan Tuhan-Nya. Sehingga, mampu bangkit dan membangun peradaban. Sejarah telah membuktikan bahwa peradaban bisa dibangun hanya dengan dekat kepada Allah SWT dan cara yang paling efektif untuk dekat dengan-Nya adalah dengan berada di rumah-Nya. Sehingga, Dia akan memberikan kekuatan kepada hamba yang dekat dengan-Nya. 

Ukuran kekuatan para sahabat dulu bukan pada kekuatannya bergulat tapi ukurannya adalah berapa lama rukuk dan sujud dan berapa banyak rukuk dan sujudnya. Karena kedekatan mereka kepada Allah SWT sehingga dengan mudah mengalahkan musuh-musuh Islam pada saat itu. Sahabat Nabi sekaligus Khalifah Abu Bakar ash-Shiddik mengalahkan kaum murtad. Umar bin Khattab menguasai 2/3 dunia dan Umar bin Abdul Aziz mampu menyejahterakan rakyat walaupun masa kepemimpinannya hanya kurang lebih dua tahun. Muhammad Al-fatih menaklukkan benteng Konstantinopel lewat kekuatan rukuk dan sujud, dan begitu juga para pahlawan Islam lainnya. 

Sehingga, ukuran sukses perjuangan saat ini, jika ingin Islam bangkit di Indonesia maka terlebih dahulu bangun peradaban di masjid dan ajak semua umat Islam untuk memakmurkan masjid.
Karena, Islam tidak akan bangkit dengan laki-laki yang masih shalat wajib di rumah. 

Salah satu kunci kesuksesan peradaban yang dibangun oleh Rasulullah SAW selama di Mekkah adalah beliau menyerang dengan bertahan. Selama 13 tahun di Mekkah, beliau dicaci maki, difitnah, dan bahkan diancam pembunuhan tapi beliau tidak pernah mengajak umatnya untuk mengangkat senjata.

Lalu pertanyaannya, apakah kita sudah menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan dan gelisah jika dalam satu hari ada satu kali waktu shalat tidak berjamaah di masjid? Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, ada tujuh golongan pada hari kiamat yang diberi naungan khusus oleh Allah SWT, salah satunya adalah orang yang bergantung hatinya di masjid. Jika ingin menjadi pelaku bangkitnya peradaban Islam di Indonesia maka makmurkanlah masjid. Ketika Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, yang pertama kali dibangun adalah masjid. Memang beliau diterima untuk menginap di suatu rumah di Madinah tetapi bangunan pertama yang selalu dibangun oleh Nabi SAW adalah masjid, seperti Masjid Quba dan Masjid Nabawi. Oleh karena itu, hanya orang yang mampu merasakan kedamaian, ketentraman, dan merasa gelisah jika tidak shalat berjamaah di masjid yang bisa menjadi pahlawan kebangkitan Islam di Indonesia. Untuk memajukan peradaban, membangkitkan ekonomi umat, dan menguatkan ruh umat, beliau membangunkan bagi mereka masjid bukan hotel, lalu memakmurkan masjid-masjid itu dan menjadikannya sebagai pusat aktivitas umat.

Maryam bukanlah perempuan yang berprofesi seperti perempuan lainnya tapi rezeki Maryam tidak kalah dengan rezeki para wanita yang bekerja di luar. Allah SWT berfirman:

ۖ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا ۖ قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَا ۖ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.” (QS. ali-Imran: 37)

Lalu apa hubungannya kisah Maryam dengan membangun peradaban Islam dari masjid?

Di Masjid Nabawi ada satu tempat yang bernama Raudhah, tempat itu adalah tempat Nabi SAW berdoa dan pasti doanya dikabulkan oleh Allah SWT. Sama halnya, ketika Nabi SAW perjalankan ke Shidratul Muntaha beliau melalui rute masjid ke masjid. Artinya, untuk menembus eskalasi langit harus dimulai dari masjid.

Jika dilihat dari sejarahnya umat ini bisa bangkit karena kegiatan dan ibadahnya dimulai dari masjid ke masjid. Di masjidlah Rasulullah SAW menyusun berbagai macam gerakan dan membentuk sistem, berpolitik, mendidik anak-anak, menjadikan tempat tinggal bagi kaum fakir miskin, tempat tinggal para penuntut ilmu, tempat istirahat musafir, dan lain-lain sebagainya. Maka, jangan tampilkan masjid sebagi tempat yang menyeramkan, sehingga terkesan tidak hidup dan dijauhi oleh umat.

Salah satu cara menjadikan masjid sebagai pusat kebangkitan Islam adalah menjadilan masjid sebagai pusat intelektual masyarakat dengan fasilitas modern agar menciptakan kebetahan di dalamnya. Kebanyakan pengurus Masjid hanya mentakmir takmir mesjidnya tidak mentakmir jamaah masjidnya. *muhajir

Sebarkan Kebaikan!