Memahami Moderasi (1)

Imam Shamsi Ali*

Istilah moderasi, dan lawan katanya ekstremisme dan radikalisme, sejak beberapa tahun terakhir menjadi sangat populer. Saking pepolernya di hampir semua pidato pemimpin negara, termasuk pidato Raja Salman bin Abdulaziz di gerung MPR RI juga mengulangi kata-kata itu berkali-kali. Tidak luput tentunya hampir di semua pidato kampanye maupun debat capres AS ketika itu selalu menyebut-nyebut kata moderasi dan lawan katanya ekstremisme atau radikalisme.

Dari zaman Bush, Obama, hingga eranya presiden Trump sekarang ini, kata ini masih menjadi objek yang menarik dan menyenangkan banyak pihak. Bagaimana tidak menarik dan menyenangkan. Kata ini bisa mengangkat atau sebaliknya menurunkan dukungan bagi sebagian pemburu kekuasaan.

Tapi apakah moderasi itu? Sebelum saya menjelaskan makna moderasi, saya ingin menyampaikan dialog tanpa sengaja dengan seorang non Muslim dalam perjalanan dari rumah ke kota. Saat itu kebetulan keteta bawah tanah lagi sepi, dan tiba-tiba orang itu bertanya ke saya: “where are from”?

Setelah saya jawab: “I am from Indonesia” dia mengubah bahasanya dari Inggris ke Indonesia terbata-bata. “Oh bagus. Saya pernah pergi ke Indonesia”.

Tentu saya senang dan bangga. Karena seringkali orang di Amerika lupa Indonesia di saat berbicara kunjungannya berlibur ke Indonesia. Rata-rata yang diingat adalah Bali.

“So do you like Indonesia”? tanya saya.

“Iyaaa…saya suka”, jawabnya masih dalam bahasa Indonesia yang terbata-bata.

Entah apa di benaknya tiba-tiba bertanya tentang agama. Hal ini sesungguhnya agak asing di Amerika. Agama dianggap urusan pribadi dan tidak perlu diumumkan, apalagi ditanyakan.

“So are you a Muslim”? tanyanya.

Mungkin karena saya merasakan kedekatan dalam waktu singkat itu, apalagi orangnya memang cukup ramah, saya spontan menjawab: “yes of course”.

Dia kemudian agak serius, lalu bertanya: “What kind of Islam do you follow? It is a radical or moderate one”?

Entah karena saya tersinggung atau karena sensitifitas saya, saya balik bertanya: “are you a Christian? Moderate of radical Christianity?”

Orang itu melihat ke saya, walau berusaha tersenyum, tapi nampak di wajahnya ketidak senangannya dengan pertanyaan itu. Dia kemudian menjawab: “Christianity I assume is a moderate religion”.

Saya kemudian mengatakan: “all religions are inherently moderate. It is the followers who pull it into radical view and behaviors”.

Saya kemudian melanjutkan: “as in the Christian community you have people such as KKK, or those who blew some clinics as they disagree with their practices, we have such also in our community. Muslims hate others simply because of their faiths, are no less than those of KKK in Christianity”.

Saya lalu ingin tahu apa defenisi dia tentang “moderasi dan radikalisme”?

Mendengar pertanyaan saya itu dia hanya diam. Tapi mungkin karena terlanjur memulai percakapakan itu dia menjelaskan: “moderate are those who live their lives as any one else. Dress as others, partying as others, eating and drinking as others, marrying as others”.

Intinya dia ingin mengatakan bahwa untuk disebut moderat, seseorang harus melakukan apa saja semua orang lakukan. Walau dia tidak merincikan, tapi moderasi bagi dia adalah jangan dibatasi lagi oleh batasan-batasan aturan agama anda. Seolah kalau sholat, puasa, haji, memakai pakaian yanh diatur agama itu ekstrim. Sebaliknya, minum alkohol, pergaulan bebas, ikut pesta di bar-bar, dan semua yang dilakukan oleh orang yang tidak diikat atutan agama itulah moderasi.

Mendengar itu saya kemudian teringat banyak peristiwa yang terjadi di dunia ini. Saya diingatkan betapa memang ada orang-orang yang berusaha menampakkan agama itu, tidak saja Islam tapi semua agama, sebagai lawan dari kebebasan. Dan karenanya menjalankannya adalah bentuk radikalisme yang melawan kebebasan manusia.

Saya juga diingatkan ketika banyak pemimpin dunia, termasuk dunia Islam, mempropagandakan perlunya moderasi. Tapi ternyata benak terdalam para politisi dan pemimpin dunia itu moderasi dimaknai sebagai enteng saja dengan nilai-nilai dan ajaran agama. Karena ketika nilai dan ajaran agama ditegakkan, borok banyak pemimpin itu akan semakin tersingkap. Maklum agama itu ruhhnya adalah “mendukung kebenaran dan keadilan, dan melawan kebatilan dan kezaliman”. Inilah yang ditakutkan oleh banyak pemimpin sehingga moderasi, sebagai kata lain dari tidak peduli dengan agama, dipropagandakan.

Sebagian pemimpin agama juga, khususnya di agama Islam, menghendaki hal yang sama. Kata moderasi seringkali dipakai sebagai senjata untuk menyerang sesama untuk tujuan yang satu. Yaitu menekan kelompok lain dalam komunitasnya sendiri agar tetat lemah, marginalized, dan dicurigai. Dengan demikian hanya kelompoknya sendiri yang dianggap dan dijadikan rujukan oleh penguasa dan mereka yang punya kepentingan. Jika digali lebih jauh, ujung-ujungnya juga demi keuangan yang maha kuat.

Intinya adalah banyak orang yang mendefenisikan agama dengan “meremehkan” bahkan “merendahkan” agama. Itulah yang menjadikan sebagian dengan entengnya bersikap biasa saja kepada “pelecehan” agama. Tidak jarang bahkan mendukung mereka yang menoda agama. Karena memang bagi mereka agama dan moderasi dalam beragama bearti menghindarkan aturan-aturan agama.

Sebaliknya mereka memiliki komitmen dengan ajaran agama, menjalankan agama sesuai keyakinan dan ajarannya, cenderung dianggap tidak moderate alias ekstrim. Apalagi tentunya mereka yang karena keyakinannya “membela” agamanya. (Bersambung)

New York, 4 April 2017

* Presiden Nusantara Foundation

Sebarkan Kebaikan!