Melejitkan Kedermawanan di Bulan Ramadhan

RASULULLAH Muhammad SAW adalah sosok yang sangat dermawan. Musa bin Anas mengisahkan dari bapaknya perihal kedermawanan nabi: “Tidak pernah Rasulullah SAW dimintai sesuatu karena Islam, melainkan selalu dipenuhinya. Pada suatu hari datang kepada beliau seorang laki-laki, lalu diberinya seekor kambing di antara dua bukit. Kemudian orang itu pulang ke kampungnya dan berseru kepada kaumnya; “Hai, kaumku! Masuk Islamlah kalian semuanya! Sesungguhnya Muhammad telah memberiku suatu pemberian yang dia sendiri tidak takut miskin.” (HR. Muslim).

Di lain kesempatan, sebagai penuturan Jubair bin Muth’im RA, ketika dirinya bersama Rasulullah  SAW beserta orang-orang yang baru kembali dari perang Hunain, Beliau dihampiri oleh orang-orang Arab Badui yang meminta bagian dan mendesak Beliau hingga menyudutkan Beliau ke pohon berduri sementara rida’ (selendang) Beliau raib (ada yang mengambil). Maka Rasulullah  tertahan lalu bersabda, “Berikan rida’-ku. Seandainya aku memiliki banyak pohon berduri ini sebagai harta maka aku bagikan kepada kalian, lalu kalian tidak akan mendapati aku sebagai orang yang pelit, dusta atau pengecut.” (HR. Bukhari).

            Pada waktu yang lain, Sahl bin Sa’d  RA bercerita bahwa ada seorang wanita datang kepada Nabi SAW dengan membawa selimut bersulam. Selimut itu diberikan kepada Rasulullah SAW. Beliau pun dengan senang hati menerima, karena memang sedang butuh selimut. Tiba-tiba, ada sahabat yang meminta selimut yang dipakai nabi. Tanpa berpikir panjang, beliau pun memberikannya.” (HR. Bukhari).

Beberapa contoh tersebut adalah sekelumit kisah yang menunjukkan bahwa nabi adalah figur yang sangat dermawan. Menariknya, kedermawanan beliau semakin melejit dalam bulan Ramadhan. Dalam suatu hadits, Ibnu Abbas menceritakan:

 

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

“Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, lebih-lebih ketika bertemu Jibril di bulan Ramadhan. Beliau bertemu Jibril pada pada setiap malam bulan Ramadhan untuk tadarus Al-Qur’an. Maka sifat kedermawanan Rasulullah melebihi hembusan angin.” (HR. Bukhari, Muslim).

Abdullah bin Umar RA tidak akan berbuka melainkan bersama anak-anak yatim dan orang-orang miskin.”

Para sahabatnya pun meneladani kedermawanan beliau di bulan Ramadhan. Sebagai contoh, Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam tafsirnya (1422: II/176) menyebutkan bahwa Abdullah bin Umar RA tidak akan berbuka melainkan bersama anak-anak yatim dan orang-orang miskin. Ulama salaf seperti Dawud Ath-Thai, Abdul Aziz bin Sulaiman, Malik bin Dinar, Ahmad bin Hanbal dan lainnya juga meneladani kedermawan yang mulia ini.

Ada kisah lain yang tak kalah mengharukan dalam hal melejitkan kedermawanan di bulan Ramadhan.  Alkisah, ada seorang kakek tua yang terkenal dermawan. Kondisinya sebenarnya sangat fakir, namun ia tidak pernah menolak permintaan seorang pun. Suatu hari, ketika ia melihat orang menggigil kedinginan, seketika beliau melepas jubahnya dan memberikannya kepada orang tersebut dan pulang hanya mengenakan sarung. Di lain waktu, ia diberi anaknya meja makan (hamparan untuk makan), lalu ketika ada yang memintanya, akhirnya meja itu diberikan dengan cuma-cuma.

Suatu hari di bulan Ramadhan, saat menunggu adzan Maghrib, di meja makan sudah tersaji makanan. Dalam kondisi demikian, tiba-tiba ada pengemis yang bersumpah bahwa diri dan keluarganya tidak memiliki makanan. Dengan lekas kakek tua ini, tanpa sepengetahuan istrinya, memberikan semua makanannya. Ketika istrinya melihat, langsung berteriak dan bersumpah -lantaran marah- tidak akan tinggal bersamanya selama ia masih tinggal di rumah ini.

Tidak sampai berselang setengah jam, ada yang mengetuk pintu rumahnya. Ternyata ada orang yang membawa piring yang berisi aneka makanan, kue dan buah-buahan. Ketika ditanya sumbernya, ia menjawab bahwa ada salah seorang kaya yang mengundang orang-orang terhormat, tapi mereka tidak hadir dengan berbagai alasan, akhirnya ia murka dan bersumpah tidak akan memakan semua makanan yang sudah dihidangkan. Kemudian orang itu menyuruh pembantunya untuk memberikan semua makanan itu ke rumah kakek fakir yang dermawan ini. (Hani Al-Haj, 2008: 476).

Dari kisah-kisah di atas, bulan Ramadhan adalah momen yang sangat pas untuk melejitkan kedermawanan. Di samping itu, jangan takut miskin ketika menjadi dermawan. Terlebih, dermawan tak harus menunggu hartawan. Kisah kakek tersebut menunjukkan bahwa menjadi dermawan tak harus mapan. Sebagai penutup, hadits nabi berikut bisa menjadi inspirasi:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

Sedekah tidak akan mengurangi harta,” (HR. Muslim, Turmudzi). Wallahu a’lam.

*Abu Kafillah

Sebarkan Kebaikan!