Melangkah Bersama al-Qur’an

Ketika mempelajari kisah hijrah Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam kita akan mendapati bahwa hijrah adalah perkara ubudiyah, karena merupakan perintah Allah subhana wa ta’aala. Dalam kisahnya, Rasul hijrah bukan karena takut. Karena Nabi adalah orang terpilih, sehingga apa pun yang ditimpakan mereka selalu siap dan tawakkal. Para Nabi itu walau harus masuk ke dalam api, walau tubuhnya harus dibelah, diusir dari kampung halaman, dan berbagai intimidasi keji lainnya mereka tidak akan pernah mundur dalam mendakwakan risalah.

Rasulullah pada awalnya mengira bahwa tujuan hijrah adalah Syam bukan Madinah, karena arah dari Mekah ke bukit Tsur itu berlawanan dengan arah dengan Madinah. Memang jika dari sudut pandang kelayakan maka berhijrah itu menuju tempat yang lebih aman dan sejahtera dan pada saat itu yang pantas adalah Syam.

Pada kenyataannya hijrah ke Madinah itu bukan lebih mudah. Di Madinah telah ada sistem sosial yahudi dan mereka lebih dulu ada daripada bangsa arab. Selain sistem yahudi sudah eksis mereka juga menempati tempat yang strategis dan orang Arab terpinggirkan. Jika ditanyakan pada kepada kita, lebih pilih mana tinggal di Mekkah atau Madinah pada saat itu, mana yang kita pilih? Hijrah itu bukan menjalankan enaknya tapi menjalankan perintah.

Sebagaimana yang terjadi di Indoensia akhir-akhir ini, di mana umat Islam tiba-tiba muncul ghirahnya. Sehingga ada semacam pesan tersirat dari Allah agar umat islam terbesar dunia ini harus melakukan sebuah gerakan perubahan yang tidak boleh berhenti, harus melakukan sebuah lompatan-lompatan besar bersama Islam, dan membela Islam yang sedang tertindas di mana pun di muka bumi ini.

Sebagai aktualisasi hijrah Rasul maka hijrah kita bersama al-Qur’an harus dengan akidah, amal, dan dakwah. Karena pada hakikatnya tidak ada hijrah lagi setelah penaklukan kota mekkah. Artinya tidak ada lagi hijrah fisik dari satu lokasi ke lokasi lain setelah dikuasainnya kota mekah. Hijrah kita pada zaman ini lebih kepada jirah ideologi, hijrah dari maksiat kepada taat. Hijrah orang Indonesia yaitu dari Islam yang dinistakan menjadi Islam yang mulia.

Hijrah adalah bagian dari yang tak terpisahkan dari dinamika kehidupan seorang mukmin. Rasulullah memulai tanpa ragu. Karena jika ingin berhijrah hanya satu prinsipnya, yaitu mulai dan melangkahlah dan setelah itu biar Allah yang sempurnakan. Allah subhana wa ta’aala berfirman:

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nisa: 100)

Dalam konteks kekinian ketika dikaitkan dengan hijrah ideologi, maka surat an-Nisa ayat 89 menjadi jawabannya. Allah subhana wa ta’aala berfirman:

وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً ۖ فَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ أَوْلِيَاءَ حَتَّىٰ يُهَاجِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَخُذُوهُمْ وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ ۖ وَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا

Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong, (QS. An-Nisa: 89)

Upaya orang-orang kafir untuk meruntuhkan tauhid kita agar selevel dengan mereka adalah upaya yang tidak pernah berhenti. Salah satu contoh, pernyataan yang terlontar dari mulut seorang akademisi, “tidak usah marah dnegan orang atheis, karena Tuhan sendiri tidak bertuhan”. Ini adalah salah contoh upaya peruntuhan akidah. Mereka ingin meruntuhkan kembali akidah umat ini yang sudah mulai bangkit Izzahnya, agar kita runtuh kembali.

Ideologi bangsa Indonesia adalah ideologi Ya’muruna bil ma’ruf wa yanhauna anil munkar. Kita tidak akan pernah menjadi umat yang berkualitas sebelum mengamalkan hal itu. “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”(QS. Ali-Imran: 110)

Umat Islam dengan al-Qur’an yang dibawanya harus memperjuangkan Islam agar manusia tidak menjadi atheis, agar manusia menjadi umat yang berketuhanan yang maha esa, menjadi umat yang bertauhid, dan agar bangsa Indoensia menjadi bangsa yang bertauhid. Ini adalah hal yang kontekstual yang harus kita lakukan.

Terkait melangkah bersama al-Qur’an, Kisah tentang Nabi Ibrahim alaihis salam mengajarkan kepada kita bagaimana menghadapi tantangan dan ujian yang selalu dihadapinya dengan gagah berani. Ketika masih mudah ia harus berhadapan dengan para penyembah bintang, bulan, dan matahari, tidak mudah berargumentasi ketika mengahadapii penyembah berhala itu. Ibrahim dituntut untuk memiliki ilmu yang dalam, wawasan yang luas, keteguhan batin, dan konsekuensi menghadapi kejahatan yang berdasarkan kemusyrikan. Sungguh tidak mudah menjadi Ibrahim alaihis salam. Seorang Ibrahim harus dibakar hidup-hidup, diperintahkan menyembelih anak sendiri yang sangat dicintai, dan meninggalkan keluarga di tengah gurun pasir yang tandus, tak berair dan tak ada tumbuh-tumbuhan. Tapi karena mengikuti perintah Allah, maka dia dimudahkan dalam semua urusannya. Intinya, mulai Allah yang semupurnakan.

Di era modern ini tantangan terberat ketika ingin melangkah bersama al-Qur’an adalah hijrah untuk keluar dari cengkraman hawa nafsu. Pemuda dengan lingkungan yang sangat sulit untuk merealisasikanm sami’naa wa atha’naa. Taat kepada perintah tanpa protes adalah ciri generasi rabbani, karena orang yang seperti itu mendahulukan wahyu daripada rasio ketika memecahkan perkara kehidupan, apa pun itu. Terlebih lagi orang yang selalu mengedapankan wahyu adalah orang yang akan ditinggikan kedudukannya di sisi Allah dan ia mulia ketika berada di mana pun.

Proses hijrah adalah proses yang tidak berhenti dan hijrah yang paling utama dari hijrah ideologi adalah sami’na wa atha’naa. Liberalisme lewat doktrin-doktrin yahudi dan nasrani ditambah lagi sekarang sampah ideologi atheis, sampah politik komunis, sehingga kita wajib mengokohkan jati diri bangsa, yaitu bangsa yang berketuhanan yang Maha Esa. Namun, untuk mencapai cita-cita itu bukan perkara besar, karena pasti berhadapan dengan kekuatan besar. Akan tetapi, Allah Maha Besar dari segala-galanya. Mulailah maka Allah yang akan sempurnakan.

Untuk menjadi generasi rabbani yang melangkah bersama al-Qur’an, hijrah selanjutnya yang harus direalisasikan adalah hijrah amal shalih. Allah subhana wa ta’aala berfirman:

وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nisa: 100)

Sudah mahsyur cerita tentang seseorang yang telah membunuh 100 orang. Ketika ia bertanya kepada orang bijaksana, ia diangjurkan untuk hijrah ke tempat dimana orang shalih banyak di sana. Sangat sulit untuk hijrah jika terus berada di lingkungan yang buruk dan manusia yang suka bermaksiat. Dalam kisahnya, orang tersebut belum sampai ke tempat tujuan namun Allah menghendaki untuk dicabut nyawanya. Maka beradu argumenlah malaikat rahmat dan malaikat azab, siapa di anatara mereka yang berhak menjemput orang tersebut. Namun, atas kehendak Allah orang tersebut menjadi penghuni surga. Berhijralah dari maksiat kepada taat.

Jika ingin berhijrah secara amal shalih maka lakukan saja jangan kebanyakan mikir. Tugas kita adalah mengawali dan Allah yang akan menyempurnakan hijrah kita. Disebutkan dalam sebuah hadist qudsi,Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR bukhari, no. 7405 dan Muslim, no. 2675)”

Jika sekarang berniat untuk berbuat baik maka Allah akan percepat. Orang-orang yang berhijrah itu akan dimudahkan jalannya oleh Allah subhana wa ta’aala. *dinukil dari tausiah KH Bachtiar Nasir

Sebarkan Kebaikan!