Melahirkan Pemimpin di Atas Puing Integritas

Melahirkan pemimpin dengan integritas tinggi bukan perkara muda. Cita-cita itu harus dengan sinergi antara kaum muda dan kaum tua. Pemuda terbiasa aksi baru berfikir, sementara kaum tua berfikir terlebih dahulu lalu bertindak. Sehingga sinergi keduanya mampu melahirkan dentuman peradaban di muka bumi. Memang, setiap perjuangan suatu bangsa pemuda selalu menjadi front terdepan, tapi kaum tua selalu menjadi tokoh di belakang layar.

Sekarang timbul tanda tanya, apakah kaum tua sudah memiliki kapabilitas untuk melahirkan generasi muda yang kelak menjadi pemimpin yang berkualitas? Sebab, jika kaum tua masih mementingkan ego dan berleha-leha di rumahnya, maka tidak akan lahir pemimpin berkualitas dari kaum muda.

Orang tua juga mempunyai peran yang sangat penting untuk melahirkan pemimpin dengan integritas tinggi. Dengan menceritakan sejarah perjalanan Rasulullah, sahabat, tabiin, ulama, dan para pejuang. Maka mereka pasti akan mengidolakan Rasul, sahabat, tabiin, ulama, dan para pejuang Islam.

Muhammad Al-Fatih diangkat oleh ayahnya menjadi khalifah sejak usia 18 tahun. Dia adalah pemuda yang digambarkan oleh Rasulullah sebagai pemimpin terbaik dan mempunyai pasukan terbaik. Namun, Al-Fatih tidak lansung menjadi seperti itu, ada sosok yang sangat berpengaruh di balik kesuksesannya. Raja Murad II ayah Al-Fatih. Raja Murad II adalah ahli strategi perang, ahli administrasi, ahli sastra, ahli arsitek, dan suka dengan tasawuf. Ia meneruskan perjuangan kakeknya untuk menaklukkan konstantinopel. Walau belum tidak berhasil menaklukkan benteng terkuat di dunia itu, ia bisa menguasai Yunani Bulgaria dan Eropa. Ketika Raja Murad II merasa tidak ada peralwanan dari musuhnya, ia mengangkat Al-Fatih untuk menjadi Khalifah.

Sultan Murad II, ayah Al-Fatih, mencarikan guru yang paling cakap membentuk kharakter, akhirnya dia memanggil Syeikh Ahmad bin Ismail Al-Qur’ani dan Syeikh Aaq Syamsudin. Berkat pendidikan karakter dan pendidikan Islami, kelak Sang Anak itulah yang bergelar Sultan Muhammad Al-Fatih (Sang Penakluk). Sultan yang mampu menaklukkan sebuah benteng paling kuat dalam sejarah, 1000 tahun lebih tak tergoyahkan dan selama 825 tahun penantian atas kebenaran Sabda Nabi akan takluknya benteng Konstantinopel oleh Sultan terbaik.


kekuatan umat Islam itu sangat besar. 1 : 10, Jika ada 20 orang sabar maka akan mengalahkan 200 orang. Kekuatan dalam kondisi tidak ideal standar minimalnya 1000 : 2000 (1:2). Kekuatan di bawah standar 1:2 sudah dipastikan Islam berada dalam posisi yang tidak akan bisa menang, itu jika memakai logika manusia. tapi dengan sabar, tembok-tembok kemustahilan akan runtuh (QS. Al-Anfal : 65-66).

Gambar minimal kualitas umat Islam ini menjadi problem. Saat ini berbagai bidang umat Islam terlhat mulai tertinggal. Hal ini sebenarnya akibat dari pendidikan tauhid yang juga mulai melemah.

Jika umat Islam berada dalam kondisi ideal, maka akan membawa dampak positif untuk masyarakat dan Negara. umat Islam ini tidak akan melemah dan tidak akan pernah hancur karena lawan, tapi karena pertikaian antar sesama muslim. hal inilah yang harus kita sadari bersama, bahwa musuh-musuh Islam menggunakan strategi ini untuk melemahkan Islam. strategi adu domba antar sesama adalah cara terbaik melemahkan Islam.

lalu apa hubungannya dengan melahirkan pemimpin di tengah puing integritas? Syarat utama pembangunan peradaban Islam adalah persatuan. Jika Umat Islam sudah bersatu dalam satu kalimat, yaitu tauhid dan tidak saling menyalahkan, maka sangat mudah untuk mencapai cita-cita peradaban Islam itu. Untuk mencapai persatuan itu, kaum tua dan kaum muda harus bersinergi. Perenungan panjang kaum tua dan aksi cepat kaum tua itulah yang bisa menciptakan peradaban Islam. Dari situ akan lahir pemimpin-pemimpin yang menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai undang-undang wajib.

Sebarkan Kebaikan!