Mau Ikut Musa atau Fir’aun?

 

KH BACHTIAR NASIR

(Pimpinan AQL Islamic Center/ Ketua GNPF-MUI)

SEJARAH kelam rezim Fir’aun seakan berulang di masa kini. Di mana budak-budak Fir’aun menjelma ke banyak orang termasuk di Indonesia. Membela penista Qur’an demi popularitas. Melumpuhkan hukum untuk kelompok dan menajamkan bagi siapa saja yang melawan. Kita memang merayakan demokrasi tapi seakan memotong lidah orang yang berani meneriakkan kebenaran. Virus materialisme yang menggerogoti orientasi masyarakat sering kali mengesampingkan ayat al-Qur’an demi selembar uang. Rela kehilangan akidah demi kartu Mesir pintar, kartu Mesir sehat dan silau karena yang memperbaiki infrastruktur kota adalah Fir’aun.

Jika dihadapkan dengan pilihan, apakah mengikuti Musa AS ke laut tanpa perahu atau bersama Fir’aun dengan segala janji materialismenya? Iman yang kuat yang meyakini bahwa di balik kebenaran ada keajaiban, pasti memilih jalan yang ditunjuki oleh Musa AS. Akan tetapi jika dibutakan oleh virus materi, janji ala Fir’aun tentu lebih menggoda.

Al-Qur’an adalah petunjuk bagi kehidupan. Dengan petunjuk dari al-Qur’an kita bisa menentukan pilihan bahwa mengikuti Nabi Musa AS jauh lebih baik daripada berdiam diri menikmati kartu Mesir pintar, kartu Mesir sehat, dan tatanan kota yang megah. Perestasi dunia itu tidaklah penting jika pemilik prestasi itu adalah kafir, karena tidak ada nilainya di sisi Allah SWT. Al-Qur’an sangat jelas menunjuki bahwa Muslim wajib menjadikan pemimpin itu dari kalangannya sendiri seperti yang tercantum dalam surat al-Maidah 51. Jika melanggar itu, ancaman Allah sangat jelas, seperti yang tercantum dalam surat Ali-Imran 28, kalian tidak akan mendapatkan pertolongan Allah SWT dan lambat laun akan menjadi golongan mereka.

Al-Qur’an adalah pedoman bagaimana kita hidup dan bagaimana kita mati. Pada awalnya Nabi Musa AS tidak mengetahui kalau tongkatnya bisa membela lautan, tapi karena patuh terhadap wahyu Allah SWT, mukjizat itu dperlihatkan dengan sangat jelas. Materialis yang memilih janji-janji Fir’aun akhirnya tenggelam dalam lautan bersama idolanya. Maka tinggal pilih, mau ikut musa atau Fir’aun? Al-Qur’an sudah mengingatkan dan memberitahukan akibat dari pilihan kita itu.

Menghadapi pergolakan politik yang memanas, umat Islam tidak perlu melawan dengan membakar gedung dan fasilitas umum. Jadikanlah Peristiwa 98 sebagai guru terbaik untuk berkaca dan menganalisa akibat perbuatan kita jika melawan rezim sekarang dengan bakar-bakaran. Karena kehidupan ini adalah sebuah etalase sejarah yang pasti berulang. Kesombongan akan menenggelamkan pemiliknya di laut lepas. Cinta harta yang berlebihan akan membuat harta itu yang menyiksa kita sendiri, dan berbagai pelajaran yang al-Qur’an telah paparkan. Memang akibatnya tidak sama persis tapi potret kejadian tetap sama.

Konfrontasi antara yang haq dan bathil yang sedang menimpa Indonesia sejatinya masih permulaan, bahkan bisa dikatakan belum memasuki garis start. Maka tidak usah terlalu cepat mengorbankan nyawa karena syahid yang sesungguhnya masih menanti kita. Mujahid itu bukan hanya yang berani mati demi kebenaran tapi juga mereka yang  berani hidup untuk menegakkan kebenaran. Maka kokohkan kaki di atas jalan Allah SWT karena Dia tidak pernah mewajibkan hamba-Nya untuk sampai ke ujung jalan, hanya memerintahkan untuk mati dan hidup di atas jalan-Nya.

Kita tidak menginginkan Indonesia seperti Suriah, Palestina, dan negara berdarah lainnya. Indonesia adalah bangsa yang cinta damai. Sejarah mencatat bahwa Islam memasuki Indonesia dengan cara damai, lewat para dai yang memang sengaja datang untuk menyebarkan Islam. Tapi tidak ada satupun dalam catatan sejarah Indonesia bahwa Islam dibawa dengan pedang. Kalau pun ada, peperangan yang terjadi seperti perlawanan Imam Bonjol dan ulama lainnya adalah perjuangan mengusir penjajah yang ingin merebut bangsa Indonesia dan mengerut kekayaan kita. Maka tidak perlu melakukan hal-hal yang bisa memancing perang saudara, yang justru mementingkan orang-orang yang menginginkan itu. Rakyat Indonesia mandi darah, “mereka” mandi kekayaan negeri kita.

Menurut data PBB, 20 juta jiwa dalam enam bulan ke depan terancam mati karena kelaparan. Yang menjadi penyebab utama bencana itu adalah perang saudara. Yaman, Somalia, Nigeria, dan Sudan Selatan adalah bukti nyata dari buruknya akibat perang saudara itu. Indonesia dengan kekayaan alam yang melimpah, adalah modal besar untuk tampil sebagai negara mandiri, apalagi rakyatnya adalah mayoritas muslim. China dengan komunismenya mampu membawa negara itu ke tingkat ekonomi tinggi dunia. Indonesia bisa lebih maju jika memakai sistem Islam dalam mengelola kekayaan bangsa ini. Karena satu-satunya sistem yang sempurna yang ada di dunia ini hanya sistem yang diajarkan oleh al-Qur’an.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. [QS Ali-Imran 3:103]

Saat ini Allah sedang menurunkan dua modal kekuatan yang sangat dahsyat di Indonesia. Jika salah memaknai dan menyikapinya, maka nasib Indonesia akan menjadi negara yang dibidik untuk diporak-porandakan seperti bangsa lainnya. Akan tetapi jika dua nikmat itu mampu dimaknai dan disikapi dengan benar, dengan izin Allah kebangkitan Islam akan dimulai dari Indonesia. Kedua nikmat itu adalah Izzah islam dan persatuan umat Islam. Dengan dua modal besar itu umat Islam akan diberi dua pilihan. Mau ikut Musa AS atau ikut Fir’aun? *(Disampaikan pada Tabligh Akbar di Masjid Sunan Ampel Surabaya, 11 April 2017)

reporter : muhajir

editor : azh pawennay

 

Sebarkan Kebaikan!