MARHABAN YA RAMADHAN (9): Merajut Serpihan Jiwa yang Terserak

KH BACHTIAR NASIR
(Pimpinan AQL Islamic Center)

KETIKA mata tidak menjadi saksi bagi pendengaran, ketika lisan tidak bertutur kebenaran, maka tangan akan menyentuh sembarangan, dan kaki akan berjalan tanpa tujuan. Tubuh yang seperti itu bagai rumah yang tak bertuan karena sepenuhnya telah dikendalikan setan. Jiwa yang terserak adalah ketika telinga tidak tunduk dan taat, ketika mata tidak menjadi saksi bagi pendengaran, ketika lisan tak mengikrarkan apa yang didengar dan disaksikan. Matanya entah kemana dan telinganya tak mendengarkan apa yang mesti didengarkan. Dia hanya serpihan-serpihan meski sosoknya utuh sebagai manusia. Ketika qalbu sudah dikuasai setan dan seluruh diri dan jiwa dikendalikan serta dikudeta. Kepada orang seperti itu katakan:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ. ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً. فَادْخُلِي فِي عِبَادِي
“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku” (Q.S. al-fajr:28-30)

Bagaimana merajut jiwa yang telah terserak? Pahami surat al-Fajr ayat 27-30. Merapatlah dan jadilah manusia seutuhnya setelah lama menjadi serpihan-serpihan berserakan.

Wahai jiwa yang tenang dengan kebenaran, wahai jiwa yang telah tenang dengan mengingat Allah, wahai jiwa yang akan tenang setelah bersyukur dan berzikir kepada Allah SWT. Kembalilah kepada keridhaan Tuhanmu dengan rasa puasterhadap nikmat yang telah dikaruniakan kepadamu terutama Ramadhan yang sebentar lagi akan kamu dapatkan. Puas pula dengan perbuatan yang telah kamu lakukan jika menjelang Ramadhan ini, kau serahkan sepenuhnya dirimu dan hadapkan sepenuhnya kepada Tuhanmu. Kemudian katakan:

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan” (Q.S. al-An’am:79)

Sebentar lagi Ramadhan kita jelang, beberapa saat lagi dia akan datang maka hadapkan sepenuh jiwa. Mari bersama-sama berikrar untuk mengeluarkan setan dari dalam diri. Kemudian hentikan kebiasaan setan dalam diri. Memang setan dari kalangan jin akan dikerangkeng sebentar lagi tetapi sifat kesetanan yang telah menjadi kebiasaan akan terus berlangsung selama bulan suci Ramadhan. Maka menghadaplah kepada Tuhan dengan penuh keridhaan dan sama-sama kita ikrarkan, “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”.

Deklarasikan dan teriakkan di dalam jiwa agar semuanya serempak menghadapakan segenap dimensi kemanusiaan, tubuh, ruh, pikiran, perasaan, mata, telinga, lisan, tangan, kaki dan semua ujung-ujung jemariku kepada Allah SWT. Kita fokus menghadapkan segenap diri kita kepada satu wajah Laa ilaha illalloh. Karena Dia-lah yang telah menaklukkan segenap lapisan langit dan bumi beserta isinya. Fokus bukan kepada yang lain lagi dan berhentilah sejenak untuk melupakan hiruk-pikup dunia. Katakanlah, kalaupun langit akan runtuh dan bumi akan goncang asalkan jiwaku dan segenap diriku telah kuhadapkan sepenuhnya kepada laa ilaha illalloh dengan bimbingan Muhammadurasululloh.

Kalau itu sudah terjadi maka masuklah ke dalam komunitas hamba-hamba Allah yang shaleh di bulan suci Ramadhan. Bagaimana orang-orang shaleh di bulan suci Ramadhan?

Bulan ini adalah musim ibadah yang malamnya lebih terang daripada siangnya, makanan terindah adalah ma’rifat, minuman yang paling menyejukkan adalah hikmah, itulah orang-orang yang telah hidup qalbunya dan telah bersinar matanya. Maka bergabunglah dengan hamba-hamba yang sholeh terutama selalu bersama al-Qur’an.

Karena jika ada yang paling prioritas dikerjakan dari semua pekerjaan dan yang paling menyita kesibukan dari semua kesibukan dialah al-Qur’an. Ini saatnya bukan sekedar khatam tapi saatnya untuk paham dan saatnya untuk mengamalkan. Puncaknya pada saat malam nominasi adalah turunnya kenikmatan yang paling dahsyat dan terbesar,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. (Q.S. al-Qadr:1)

Yang turun di bulan Ramadhan dan akan dirasakan serta disaksikan oleh hamba-hamba yang sesungguhnya adalah al-Qur’an yang akan diturunkan pada malam lailatul qadr. Tetapi tidak bisa turun kepada jiwa yang tidak tenang, tidak bisa turun kepada qalbu yang terkoyak, dan tidak bisa turun kepada jiwa yang tersorak. Berat menerima al-Qur’an pada malam itu kecuali qalbu yang telah tertata dan jiwa yang telah terajuk. Kecuali qalbu yang telah hidup dan telingan, mata dan lisan yang telah siap menghadapi bulan suci Ramadhan. *muhajir

Sebarkan Kebaikan!