MARHABAN YA RAMADHAN (8): Piring Kosong

KH BACHTIAR NASIR
(Pimpinan AQL Islamic Center)

RAMADHAN adalah bulan diturunkan al-Qur’an sehingga hubungan bulan itu dengan kalam Allah sangat kuat. Seperti, sebuah piring kosong yang diisi dengan makanan. Ramadhan adalah piring itu dan al-Qur’an adalah makanannya. Lalu jika ada orang yang mengambil piring tapi tidak diisi dengan makanan, maka dia adalah orang bodoh karena tidak peka dengan bejana ampunan Allah SWT. Orang yang demikian seperti orang lapar yang disorientasi. Artinya, ia berpuasa tapi tidak memasukkan al-Qur’an ke dalam hatinya maka ia seperti orang lapar yang memegang piring kosong. Makanannya sudah di depan mata tapi ia tidak mengambilnya.
Jadi, orang yang tidak membaca lalu memahami al-Qur’an di bulan Ramadhan sama seperti orang yang membawa piring kosong. Lapar tapi tidak mengisi piringnya dengan makanan.
Banyak orang di dunia ini yang puncak keinginannya adalah mencari uang. Ketika telah mendapatkan uang, ia bingung mau dikemanakan uang itu. Akhirnya, uang itu dialokasikan sekedar memuaskan nafsu belaka. Orang yang seperti inilah yang disebut orang yang haus tapi ketika mendapakan air ia berhenti tidak menyentuh air itu. Kebutuhannya adalah akhirat tapi ia habiskan untuk dunia.
Tidak akan bahagia orang yang haus tanpa mengisi gelasnya dengan air. Kebahagiaan itu jika Allah sudah memenuhi jiwa seseorang dan hanya Allah yang selalu menjadi tujuan dalam hidup.

Bulan Ramadhan adalah bulan dimana jiwa kita seperti besi yang ditempa oleh panasnya api untuk dibentuk menjadi lebih baik. Ramadhan adalah bulan dimana jiwa kita dikosongkan dengan lapar dan haus untuk dimasukkan di dalamnya al-Qur’an. Maka jangan kehilangan momentun besar demi kesenangan yang sangat sedikit. Kebodohan orang yang seperti ini adalah seperti orang yang menenun benang untuk dijadikan kain tetapi setelah selesai hasil tenunan itu kembali dilepas.

Ketika ruh kita dimasak lalu dicairkan oleh Allah SWT untuk dibuang dosa-dosa dari dalam jiwa. Dipisahkan dimana emas dan pasir-pasir dosa, besi, dan lumpur lalu dibentuk menjadi perhiasan yang indah. Sama halnya, di bulan Ramadhan dia berpuasa tapi tidak membentuk jiwanya dengan al-Qur’an. Maka sangat bodohlah jika ada orang yang menyia-nyiakan kesempatan bulan Ramadhan.

Ketika kita telah paham dengan subtansi Ramadhan itu barulah kita mempelajari ilmu fikih puasa agar puasa kita lebih mantap. Sehingga kita tidak perlu lagi menanyakan hal-hal yang bisa didapatkan lewat buku. Misalnya, menanyakan apa hukumnya menelan ludah ketika sedang bepuasa.

Ilmu tentang Ramadhan seperti berada di samudera lepas. Kita bisa mendapatkan apa saja di dalamnya sesuai dengan yang kita inginkan. Jika persiapan kapalnya besar maka hasilnya juga besar, jika tali pancingnya besar maka yang didapatkan juga besar. Maka jika ingin mendapatkan banyak maka harus membaca ilmu puasa agar tidak salah. Lalu bagaimana persiapan kita untuk menyambut bulan Ramadhan. *muhajir

Sebarkan Kebaikan!