MARHABAN YA RAMADHAN (6): Bulan Masuk Surga Sekeluarga

BULAN takwa sudah berada di gerbangnya. Mudah-mudahan usia kita disampaikan oleh Allah SWT untuk bertemu dengan bulan yang penuh ampunan itu. Sehingga kita bisa berada dalam dekapan Ramadhan untk bersujud kepada-Nya atas dosa-dosa yang selama ini menggerogoti iman kita. Melalui bulan itu kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT sebagai out put dari Ramadhan itu sendiri. Ramadhan juga menjadi pengingat bagi para ayah untuk meningkatkan keilmuannya agar bisa membawa keluarganya ke surga.

Jadikanlah Ramadhan ini sebagai bulan masuk surga sekeluarga. Kenapa tema ini menjadi pilihan di antara tema-tema yang penting lainnya? Karena sering kali suami atau ayah lalai dari tanggung jawab utama. Perceraian yang tinggi, kasus dekadensi moral di kalangan remaja seperti, pergaulan bebas, narkoba, tawuran, freeseks, dan runtuhan moral lainnya. Kemerosotan moral itu terjadi karena tidak ada pendidikan akhlak di rumah. Ayah yang paling bertanggung jawab atas semua permasalahan tersebut.

Tulisan ini lebih dikhususkan kepada ayah dan pemuda calon ayah. Sehingga yang menjadi fokus bahasan adalah bagaimana agar Ramadhan menjadi bulan masuk surga sekeluarga. Leadership yang kuat dimulai dari rumah dan itu tanggung jawab seorang ayah. Sebagaimana doa Nabi Ibrahim AS untuk meminta keturunan yang baik

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. (Q.S. Ibrahim: 40)

Setelah menanamkan tauhid kepada anaknya Nabi Ibrahim AS kemudian berusaha menjadi tauladan kebaikan buat mereka. Karena sebagai seorang ayah jika sukses dalam mendidik maka efeknya akan berdampak pada keluarga besar dan ketika gagal efeknya juga akan tertular ke keluarga besarnya.

baca juga: http://aqlnews.com/marhaban-ya-ramadhan-5-tiga-pola-interaksi-dengan-al-quran/

Anak-anak yang broken home atau istri-istri yang minta lepas dari suami biasanya terjadi karena kegagalan leadership di dalam rumah. Kegagalah seorang ayah memahami posisinya yang strategis dan mempunyai efek besar. Misalnya ketika kita melihat ayat tentang haji,

فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا
“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu….” (Q.S. al-Baqarah: 200)

Dalam ayat ini orang tua disebutkan dengan kata-kata abu (ayah) karena efek ayah gagal sangat besar kepada lingkungan keluarga. Di dunia ini hanya ada dua agama, yaitu agama Allah SWT dan agama orang tua. Agama orang tua adalah agama tandingan terhadap agama Allah SWT yang banyak dipengaruhi oleh ayah. Pertemuan antara Ibrahim AS dan Islam AS memang tidak intens. Maka langkah yang diambil oleh Nabi Ibrahim AS sebelum mendidik anak dan istrinya adalah terlebih dahulu mendidik diri sendiri. Hidup Ibrahim AS menjadi tauladan yang baik sehingga keturunannya menjadi keturunan yang baik pula.

Al-Qur’an menggambarkan ada empat jenis laki-laki dan anak serta tiga jenis istri. Ini semua tergantung bagaimana posisi ayah membentuk rumah tangga.

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)” (Q.S. ali-Imran: 33)

Empat laki-laki ideal pilihan Allah SWT. Namun, dua laki-laki pertama (Adam AS dan Nuh AS) tidak disebutkan kata keluarga dan kata keluarga dilekatkan pada dua laki-laki setelahnya (Keluarga Ibrahim AS dan keluarga Imran AS). Yang dijadikan model keluarga dalam ayat ini adalah Ibrahim dan Imran. Akan tetapi, bukan berarti Adam dan Nuh gagal menjadi ayah. Adam dan Nuh dijelaskan tentang kasus anaknya sehingga tidak dijadikan model dalam membina keluarga. Namun, hal ini tidak mencederai kasus keayahan.

baca juga: http://aqlnews.com/marhaban-ya-ramadhan-5-tiga-pola-interaksi-dengan-al-quran/

Kemudian ada empat jenis anak yang digambarkanj dalam al-Qur’an yaitu, anak-anak sebagai perhiasan, anak sebagai fitnah, anak sebagai musuh, dan anak sebagai penyejuk hati. Empat karakter sangat tergantung dari cara ayah menjadi tauladan dalam rumah.

Kemudian tiga istri yang digambarkan yaitu, istri sholehah di bawah kendali suami shaleh, istri yang tidak shalehah di bawah kendali suami yang shaleh, dan istri yang tidak shalehah di bawah kendali suami yang tidak shaleh.

Pada umumnya jika istri dan suami shaleh maka keturunannya juga mayoritas shaleh. Karakter seorang anak itu sangat dipengaruhi oleh kedekatannya kepada orang tuanya. Misalnya, Kan’an menjadi kafir karena dekat sama ibunya walaupun ayahnya seorang Nabi. Anak perempuan Nabi Luth AS beriman karena dekat sama ayahnya, walaupun ibunya durhaka.

Maka bulan Ramadhan kita fokuskan untuk menjadi bulan masuk surga sekeluarga dengan memulai dari diri sendiri. Tugas seorang suami adalah berperan menjalankan peran terbaiknya sebagai seorang leader dalam rumah.

Ketika bermasalah dengan istri yang kurang shalehah menjadi perjuangan berat untuk merubahnya. Karena sebelum menikah dia sudah punya karakter yang hasil didikan orang tuanya. Akan tetapi, tidak usah berpikir bagaimana cara merubah dia namun pikirkan bagaimana cara suami merubah dirinya dalam menyikapi istrinya. Ini adalah cara efektif.

Perkelahian di dalam rumah tangga sering kali terjadi karena suami kurang kreatif dalam memimpin. Prinsip istri itu seperti cermin, mudah dikendalikan oleh suami. Karena apa yang ada di dalam cermin itu tergantung apa yang ada di depannya. Pada dasarnya jika suami memperlakukan istri dengan baik maka dia akan menjadi baik.

Jika semua keluarga dalam kebaikan maka sikap yang kita ambil adalah mencontoh keluarga Ibrahim dan keluarga Imran bagaiman cara mengendalikan istri. Sarah (istri Nabi Ibrahim) memang cemburu ketika Hajar hamil tapi Ibrahim tidak pernah mengambil keputusan berdasarkan emosi sendiri atau mengikuti kemauan istri.

Ibrahim tetap berlaku adil dengan istri dan anaknya. Walau terkesan Ismail berjauhan dengan Ibrahim bersama Ishaq. Hajar di tempatkan di tempat yang tandus dan Ibrahim hidup bersama istri pertamanya, Sarah.Seorang suami sangat perlu menempatkan rasa keadilan sebagaimana Ibrahim berlaku adil kepada istri-istrinya. Akan tetapi, hal yang paling penting adalah berlaku adil terhadap diri sendiri.

Adil itu menempatkan sesuatu pada tempatnya dan tidak berlaku zalim. Rasa adil sangat perlu untuk ditanamkan seorang suami agar bisa menjadi tauladan bagi istri dan anaknya. Selain berlaku adil seorang suami juga berkewajiban mendidik keluarganya untuk dekat kepada Allah SWT. Sebab, rumah yang di dalamnya ditegakkan tauhid akan selalu dirahmati oleh Allah SWT. Kebutuhan istri itu sangat sederhana hanya ingin diperhatikan, disayang, dan ingin dijaga. Kesalahan besar menggunakan kekerasan dalam mendidik istri dan anak.

Sulit bagi Ibrahim AS menempatkan istrinya di tempat yang tandus dan tidak ada air.

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” (Q.S. Ibrahim:37)

Metode pertama kali yang digunakan Ibrahim AS dalam membangun rumah tangga adalah memilih lingkungan yang baik yaitu dekat dengan rumah Allah SWT. Sehingga, seorang muslim jangan sampi menempatkan keluarganya di lingkungan kekufuran.

Orang-orang yang ingin membangun baiti jannati maka momen Ramadhan dimanfaatkan sebaik mungkin. Ramadhan juga menjadi momen penting untuk memperbaiki hubungan keluarga. Ada tiga langkah untuk memperbaiki keutuhan rumah tangga di moment bulan suci Ramadhan.

1. Perbaiki hubungan dengan Allah SWT maka Dialah yang akan memperbaiki hubungan dengan keluarga.

2. Perbaiki sisi dalam diri sendiri, tanggung jawab dan niat yang kuat untuk membawa keluarga masuk surga. Karena Allah yang akan memperbaiki sisi luar, tutur kata, tingkah laku, dan lain-lain.

3. Akhirat orientik. Ajak keluarga mementingkan akhirat daripada dunia.

Nabi Ismail AS tidak berjumpa dengan ayahnya setiap tahun namun kenapa dia sangat taat kepada Nabi Ibrahim AS? Maryam tidak diasuh oleh Imran, ayahnya. Tapi kenapa begitu kuat hubunganya dengan keluarganya?

Doa orang tua yang selalu mengalir dan hati yang penuh kasih sayang sehingga menciptakan hubungan yang sangat baik.

قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“……Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (Q.S. al-Ahqof:15)
Ibrahim semakin sukses semakin ingat kepada keluarganya. Karena banyak ayah jika telah sukses ia lupa kepada keluarganya, menitipkan anaknya kepada pembantu, tidak memenuhi hak istri dengan baik, dan lain sebagainya. Apalagi jika anak perempuan yang tidak mendapatkan perhatian khusus dari ayahnya. Karena anak perempuan yang tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah maka ia cenderung mencari jodoh yang berlawanan dengan ayahnya. Bukan anak yang salah tapi ayah yang tidak hadir dalam kehidupan anak perempuan itu.
Lihat ujung doa seorang anak kepada orang tuanya yaitu, kama rabbayani shagira. Jadi anak yang didoakan oleh anak adalaj ayah yang hadir di masa kecilnya. Seorang ayah yang sering didoakan oleh anaknya maka Allah akan memudahkan urusan-urusannya. Sebaliknya, seorang ayah akan susah dalam urusan jika tidak pernah didoakan oleh anak. (Muhajir/ ditulis dari ceramah KH Bachtiar Nasir)

Segera miliki Buku Masuk Surga Sekeluarga karya KH Bachtiar Nasir. Buku dapat dipesan lewat WA: +62 812 88221488 seharga Rp125.000

Sebarkan Kebaikan!