MARHABAN YA RAMADHAN (5): Tiga Pola Interaksi dengan al-Qur’an

ALLAH SWT berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

“Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil…….”(QS al-Baqarah:185)
Dalam ayat ini disebutkan ada tiga tiga pola interaksi dengan al-Qur’an di bulan Ramadhan.

1. Petunjuk Bagi Manusia (Hudan Linnas)
Petunjuk bagi seluruh manusia untuk keluar dari kesesatan. Berbeda dengan sura al-Baqarah ayat 2 yaitu Hudan lil muttaqin (Petunjuk bagi orang yang bertakwa). Ayat 185 ini adalah motivasi bagi orang yang masih bergelimang dosa bahwa ternyata al-Qur’an adalah petunjuk bagi semua orang.

Ada seorang masuk Islam hanya karena mendengar ta’wudz dan basmalah. Tidak ada yang bisa mengondisikan kenapa orang tersebut tiba-tiba menjadi baik di bulan Ramadhan. Tiba-tiba semua orang ingin berbuat baik. Inilah yang disebut Energi Hudan linnas.

Seorang pembunuh, pencuri, pezina, dan sudah merasa kotor jiwanya, tapi al-Qur’an menjadi pintu gerbang bagi mereka untuk memasuki surga Allah SWT. Maka berinteraksilah dengan al-Qur’an sebagai pernan hudan linnas agar keluar dari kesesatan pemikiran, selerah, dan kesesatan keyakinan.

2. Penjelasan-Penjelasan Mengenai Petunjuk Itu (Wa Bayyinatin Minal Huda)

Ini adalah level menengah, kenapa banyak orang yang berjatuhan hari-hari terahir Ramadhan? Karena banyak orang yang tidak melanjutkan energi al-Qur’an pada fase yang kedua yaitu, wa bayyinatin minal huda. Misalnya, bulan Ramadhan menjadi waktu yang tepat untuk mendidik anak-anak, mengajari mereka membagi waktu dengan baik, shalat subuh berjamaah, bersedekah, dan berbagai kebajikan lainnya.

Melalui bayyinaat itu al-Qur’an juga menjelaskan bahwa hal yang paling tepat di akhir malam itu adalah memperbanyak istigfar. Apapun masalah dalam kehidupan kita dengan istigfar yang diniatkan untuk mendapatkan solusi, Allah SWT akan membukakan jalan.

Jika Anda mengamalkan satu ayat saja dalam surat at-thur. Dalam surat itu ada bayyinat bagaimana mendidik anak agar mentauhidkan Allah SWT. Bayyinat bagaimana Nabi Ya’qub AS menanamkan Tauhid kepada anaknya, membebaskannya dari syirik, dan membuat anak-anaknya disiplin terhadap aturan-aturan Islam.

Baca juga: http://aqlnews.com/marhaban-ya-ramadhan-4-agar-tidak-menjadi-orang-yang-rugi/

Bulan ramadhan adalah momentum untuk bisa masuk sekeluarga melalui bimbingan al-Qur’an.

3. Al-Qur’an Sebagai Pembeda Antara Yang Haq Dan Bathil (Wal Furqan)

Semua orang mempunyai mushaf di rumahnya, tapi apa manfaat sesungguhnya? Mushaf itu akan menjadi al-Qur’an jika ayat yang tertulis di dalamnya dibaca. Jika al-Qur’an itu ingin dijadikan panduan hidup maka pahami ayat-ayatnya. Jika sudah mempunyai argumen yang kuat untuk mematahkan semua paham sesat maka kita telah menjadikan al-Qur’an itu sebagai mubin (penjelas).

Baca Juga: http://aqlnews.com/marhaban-ya-ramadhan-3-esensi-puasa-ramadhan/

Argumentasi mereka yang terkesan keren tapi itu bisa dihilangkan dengan embusan ayat. Narasi mereka terlau lemah jika dihadapkan dengan narasi al-Qur’an. Maka beruntunglah orang yang sempat mendapatkan bulan suci Ramadhan dan berinteraksi bersama al-Qur’an dengan tiga pola, hudan linnas wabayyinatin minal huda wal furqaan.

Jadikan al-Qur’an sebagai hudan lalu tindak lanjuti sebagai bayyinaat kemudian jadikan ia sebagai furqan (pembeda). Jika pola ini diterapkan maka setelah Ramadhan nanti sangat mustahil kita berpisah dengan al-Qur’an. (muhajir/ ditulis dari ceramah KH Bachtiar Nasir)

Sebarkan Kebaikan!