MARHABAN YA RAMADHAN (2): Siapkan Ilmu Menyambut Ramadhan

JANGAN sampai memasuki bulan suci Ramadhan tetapi belum khatam Fikih Shaum (puasa). Segala sesuatu itu memakai ilmu al-Ilmu qablal amal (Ilmu sebelum beramal). Jangan haji dulu sebelum mengerti ilmu haji, jangan nikah dulu sebelum mengerti ilmu tentang nikah, dan jangan puasa dulu sebelum tahu fikih puasa.

Amal yang dikerjakan tanpa ilmu, benarnya saja bisa salah. Karena yang Allah terima dari amal seseorang itu adalah ikhlas karena Allah SWT dan mengikuti cara Nabi SAW.

Salah contoh orang menyambut Ramadhan tanpa ilmu adalah menyambutnya dengan pesta makanan dan acara lainnya. Padahal Rasulullah SAW bergaya hidup Ramadhan dua bulan sebelum memasukinya dan memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban.

Saat-saat mustajabnya doa adalah detik-detik berbuka puasa. Bukan kemudian ngabuburit menghabiskan waktu sehingga lupa kesempatan yang sangat berharga itu. Kesempatan itu hilang begitu saja karena tidak mengetahui ilmunya.

Beristigfar yang paling tepat itu adalah sepertiga malam. Tapi berapa orang yang kehilangan kesempatan itu karena disita dengan tayangan bola dan lain sebagainya. Berapa lagi kesempatan lainnya yang hilang karena tidak mempunyai ilmunya.

http://aqlnews.com/marhaban-ya-ramadhan-1-persiapan-iman-menyambut-ramadhan/

Banyak hal dalam bulan suci Ramadhan yang ilmunya harus lebih diperdalam lagi, termasuk ilmu yang paling penting adalah ilmu mengatur waktu. Jangan sampai Ramadhan ini sibuk dengan urusan dunia.

Bulan Ramadhan adalah saat yang tepat untuk mendidik anak-anak kita. Ada banyak kesempatan yang Allah persiapkan untuk itu semua. Misalnya, orang tua yang ingin mendidik anaknya tentang disiplin bangun subuh. Adalah kesalahan seorang ayah jika takut anaknya mengantuk di sekolah sehingga tidak dibangunkan shalat subuh.

Sampai saat ini, setelah bulan Ramadhan tahun kemarin berapa kali kita khatam al-Qur’an? Jangan sampai bacaan al-Qur’an kendur di luar Ramadhan dan baru buka Boleh sibuk di bulan suci Ramadhan tapi al-Qur’an harus lebih sibuk dengan kita. Artinya, buat aturan main terhadap diri sendiri kita boleh sibuk di bulan ramadhan tetapi harus lebih sibuk bersama al-Qur’an. Karena jika ada pekerjaan yang prioritas untuk diprioritaskan di bulan suci ramadhan adalah al-Qur’an.

Ketahuilah! Yang dilakukan Rasulullah SAW semasa hidupnya hanya menjadi pelayan al-Qur’an bukan pelayan manusia.

Yang perlu kita sadari sebelum memasuki bulan suci Ramadhan adalah hawa nafsu kita sendiri. Oleh karena itu, orang yang akan menang di bulan suci ramadhan adalah orang yang sejak sekarang sudah menang melawan hawa nafsunya. Minimal menang dalam melawan nafsu perut dan kasur di sepertiga malam.

Tekadkanlah dalam diri kita bahwa Allah SWT telah memberi kesempatan kepada saya selama 11 bulan untuk mencari dunia. Maka saya tidak mau satu bulan ini mencari dunia lagi. betapa bodohnya saya kalau 12 bulan hanya dunia terus. (Muhajir/ Ditulis dari ceramah KH Bachtiar Nasir)

Sebarkan Kebaikan!