MARHABAN YA RAMADHAN (16): Jalan Keluar dari Penghambaan Materi

KH BACHTIAR NASIR
(Pimpinan AQL Islamic Center)
ADA peta yang harus kita ketahui di tengah pertarungan terhadap dunia yang fana agar tidak menari-nari di atas genderang setan yang ditabuh oleh setan itu sendiri. Coba renungkan, kenapa surat al-kafirun di urutan 109 dan setelahnya surat an-Nashr surat ke-110?
Dunia ini tidak akan pernah sepi dari kekacauan tetapi orang yang selamat adalah mereka yang mengatakan:
لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ. وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ. وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ.
“Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah, Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah” (Q.S. al-Kafirun: 2-4)

Hamba-hamba yang selamat itu adalah yang mengatakan, “Aku tidak akan menyembah objek yang kamu sembah dan aku tidak akan menyembah dengan cara kamu menyembah.” Orang yang punya dua prinsip inilah yang disebut hamba Allah dan ini standar untuk menjadi hamba Allah.

Hamba Allah itu hanya menyembah dan meminta perlindungan kepada-Nya dan yakin bahwa bahwa hanya Dia yang bisa mencukupkan semua kebutuhan (Surat al-Ikhlas). Maka beruntunglah orang di bulan suci Ramadhan mengokohkan dan memperkuat tauhidnya.

Manusia-manusia yang oportunis yaitu, pagi beriman sore kafir dan sore beriman, pagi kafir lagi. Mereka tidak akan termasuk dalam golongan hamba Allah. Di akhir zaman ini memang banyak muslim tapi iman mereka tergantung dimana ia berada, jika bersama orang shalih ia beriman tapi jika kembali kepada lingkungan setan mereka akan berkata, ‘kami bersama kalian’.

Jika memilih hidup hedonis, oportunis, hidup yang penting sudah shalat, maka hidup itu seperti yang tercantum setelah surat an-Nashr yaitu surat al-Lahab. Ulama menafsirkan, orang-orang yang ingin menang tetapi tidak mengamalkan surat al-Kafirun akan menjadi al-Lahab atau seperti Abu Lahab. Hidup bersama Rasulullah tapi masuk ke dalam Neraka yang bergejolak. Itu kolerasi surat 109-110 dan 111 dalam al-Qur’an.

Hal yang penting dalam rangka menjadi hamba Allah yang tepat adalah berhentilah beragama materialisme atau keluarlah dari penghambaan materi. Hamba materi ini sangat mudah ditemui di sekeliling kita, misalnya, fenomena korupsi, hodenisme, budaya sogok-menyogok, mengurangi timbangan, dan lain sebagainya.

Orang-orang sekarang lebih takut kelihatan lewat CCTV daripada dilihat oleh Allah SWT. Orang-oran sekarang lebih takut disadap daripada takut kepada Allah SWT. Akan tetapi, tidak usah takut untuk kembali kepada Allah SWT karena Dia adalah Maha Pengampun.

Ramadhan adalah momen yang tepat untuk keluar dari cinta dunia khususnya cinta harta. Indonesia saat ini dengan pendidikan di sekolah, pendidikan di rumah, tontonan di rumah, dan gaya hidup pemimpinnya telah mengarahkan kita pada agama baru yang bernama materialisme. Ukuran sukses mereka adalah terhormat, dan ukuran kemuliaan mereka adalah harta.

Bagaimana cara sembuh dari penyakit ini? Ada tiga kata kunci untuk sembuh dari cinta dunia:

1. Zakat akan membebaskan kita dari miskin jiwa dan harta.

2. Sedekah membebaskan kita dari banyak musibah dan akan membahagiakan hidup.

3. Dengan jihad harta maka hidup akan mulia dan bangsa akan berdaulat.

Ketika Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat siapa yang siap memenangkan Islam dalam perang Tabuk. Suatu hari Abu Bakar ash-Shiddiq ditantang oleh Umar bin Khattab secara sembunyi-sembunyi. Umar membawa 50% dari total asetnya dan berikrar untuk mengalahkan Abu Bakar dalam jihad harta. Kemudian Rasulullah SAW bertanya, Wahai Umar begitu banyak harta yang akan engkau jihadkan di jalan Allah, lalu berapa yang engkau sisakan untuk keluarga kamu?
Umar lalu menjawab, Sejumlah ini juga ya Rasulullah. Artinya umar bin Khattab menginfakkan hartanya 50% dan menyisikan untuk keluarganya 50% dari total asetnya.
Kemudian datanglah Abu Bakar lalu ditanya oleh Rasulullah SAW, berapa yang kamu sisakan untuk keluarga kamu? Abu Bakar menjawab, ya Rasulullah, secara materi sudah tidak ada tapi aku tinggalkan kepada mereka Allah dan Rasul-Nya.
Mereka tidak miskin karena mengeluarkan hartanya di jalan Allah SWT namun karena itu mereka mulia di sisi Allah juga dimuliakan oleh manusia. Lalu ada yang menarik lagi yaitu, Usman bin Affan. Setelah semua mengumpulkan harta maka Rasulullah SAW bertanya, Usman, berapa yang akan kamu berikan?
Usman menjawab, “Ya Rasulullah! Aku akan sedekahkan 100 ekor unta berikut barang yang dibutuhkan bahkan sampai pelana-pelananya.” Kemudian Rasulullah SAW berkata, baik, Usman sudah selesai, yang lain siapa lagi?
Usman Bin Affan angkat tangan lagi, “aku ya Rasulullah! Aku akan berikan 200 ekor unta dengan barang-barang, senjata, dan pelana yang dibutuhkan ya Rasulullah.”
Kemudian untuk ketiga kalinya Rasulullah bertanya kepada para sahabat, siapa lagi yang ingin bersedekah setelah Usman? Yang mengejutkan adalah Usman kembali mengangkat tangan, “aku ya Rasulullah.”
“Aku akan sedekahkan 300 ekor unta berikut barang yang dibutuhkan di atasnya dan pelana-pelananya.”
Jika umat Islam mempunyai lembaga yang menampung harta orang-orang seperti Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Usman bin Affan, maka Bangsa ini akan bangkit. *muhajir

Sebarkan Kebaikan!