MARHABAN YA RAMADHAN (15): Tenteram Bersama Allah SWT

KH BACHTIAR NASIR

(Pimpinan AQL Islamic Center)

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ. ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً. فَادْخُلِي فِي عِبَادِي. وَادْخُلِي جَنَّتِي
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku” (Q.S. al-Fajr: 27-30)

Di hari-hari menuju Ramadhan ini, jika ada target yang harus kita capai agar bisa istiqamah dan sukses sampai akhir adalah memperkuat tali hubungan kita dengan Allah SWT.

“Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu” (HR. Sunan At Tirmidzi no. 2516)

Jagalah kebersamaanmu dengan Allah, maka Allah akan menjagamu karena kamu bersama Dia. Apa yang sedang kita lakukan sejak kemarin, hari ini, dan seterusnya adalah sebuah proses takwa sebagaimana out put Ramadhan itu sendiri (QS al-Baqarah: 183).

Tetapi, kemana arah takwa yang harus dituju di bulan Ramdhan? Shalat taraweh, qiyamul lail, shalat witir, memperbanyak istigfar di waktu sahur, mengambil berkah walau seteguk air di waktu sahur,membaca al-Qur’an, bekerja, menuntut ilmu, shalat jamaah di masjid pada waktunya, bersedekah, memberi makan orang miskin, ini semua adalah sebuah proses menuju Allah SWT. Hati akan menjadi tentram dengan semua ibadah itu.

Akan tetapi, semua itu bukan sekedar sampai pada terminal ketentraman. Ketentraman yang kita capai lewat ibadah itu adalah “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya”. Kembali kepada Tuhan yang menyayangi dan mencintai, Tuhan yang melindungi dan menolong, dan Tuhan yang mengampuni dosa-dosa hamba-Nya yang telah lalu maupun yang akan datang. Kembali kepada-Nya dengan penuh keridhoan agar kita mendapatkan balasan dari-Nya.

Sebelas bulan kita pandai mencari kehidupan dunia. Maka sangat bodoh jika di bulan ibadah juga kita jadikan untuk kepentingan dunia lagi. Sungguh, jika demikian kita adalah hamba yang tidak tau mengatur waktu. Jauhi hal-hal yang membuat kita jauh dari Allah SWT di bulan berkah. Bahkan pekerjaan-pekerjaan dunia warnai dan kentalkan dengan suasana ibadah. Setan tidak pernah ridha manusia sukses di bulan suci Ramadhan. Oleh karena itu, sebelas bulan setan membentuk kebiasaan agar manusia gagal di bulan suci Ramadhan.

ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً. فَادْخُلِي فِي عِبَادِي
Untuk menyempurnakan ketaatan yang sedang kita lakukan dan untuk menyempurnakan ketentraman jiwa yang sudah kita rasakan dengan ibadah. Kemudian semakin kuat kita mencapai ridha Allah SWT maka Dia berfirman, “Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku”. Ini adalah predikat awal orang-orang yang akan sukses di bulan suci Ramadhan.

Jika Allah sudah mencintai seorang hamba maka hamba itu dipanggilnya “Ibaadi” atau “Abduhu”.

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S. al-Hijr: 49)

Dalam ayat ini Allah SWT mengkhususkan berita gembira itu kepada ‘ibadi’, sebuah gelar yang tinggi nilanya di sisi-Nya. Bahwa Allah-lah yang maha pengampun dan menutupi aib-aib hamba-Nya yang dikerjakan selama sebelas bulan. Bahkan Dia menyembuhkan penyakit-penyakit kecenderungan untuk berdosa yang susah disembuhkan. Bulan Ramadhan bukan hanya bulan ampunan tetapi Allah akan daur ulang dosa-dosa menjadi pahala jika kita beriman dan beramal sholeh setelah bertaubat.

Allah juga berfirman di ayat lain tentang keistimewaan “ibadi”

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ
“Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh” (Q.S al-Anbiyah: 105)

Sudah tertuang di dalam kitab Zabur setelah tercatat di Lauh al-Mahfudz tentang kekhususan“ibadi”. Allah pemilik kerajaan langit dan bumi telah membuat aturan dan tidak ada yang pernah bisa merubahnya yaitu, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh”. Allah menegaskan bahwa yang akan memusakai bumi ini hanya hamba-hamba yang shalih (Ibadi). Maka perbanyaklah membaca doa,

وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ
“………Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh” (Q.S. an-Naml: 19)
Jika hal ini sudah didapatkan maka percayalah hidup kita tidak akan letih tertati-tatih mencari dunia yang pas-pasan itu dan tidak akan goncang dengan dunia yang belum tentu diperoleh. Hal ini harus difahami secara cerdas bagi orang-orang yang cerdas maupun kuliah, bagi para ilmuwan dan agawan. Apa yang dimaksdu dengan, Allah hanya memberikan pusaka bumi kepada hamba-hamba-Nya yang shalih? *muhajir

Sebarkan Kebaikan!